Terima Kasih, Anda sudah mengunjungi blog Pecinta Rasulullah SAW, semoga Allah selalu Menanamkan Rasa Cinta dan Rindu kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW kepada Diri kita Hingga kita Wafat dalam Khusnul Khotimah AAMIIN.........
kritik dan saran : mufe.majelis@gmail.com_____Alamat lengkap Majelis Rasulullah SAW: jl. Cikoko Barat V, RT 03/05, NO 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770),
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

AGENDA DAKWAH ALHABIB UMAR BIN HAFIDH 2013 DI INDONESIA

Agenda dakwah ad-Da'i
Ilallah al-Hafidz al-Musnid al-Habib Umar bin
Hafidz BSA selama bulan Nopember-Desember
2013 di Indonesia:

• 23 Nopember: Ba’da Ashar Rauhah di Cidodol .

• 24 Nopember: Jam 07:00 WIB Haul Akbar
Fakhrul Wujud Syaikh Abubakar bin Salim di
Cidodol dan Ba’da Dzuhur Jalsah bersama
Thalabah di al-Fachriyyah Habib Jindan
Tangerang.

• 25 Nopember: Ba’da Isya Tabligh Akbar
Majelis Rasulullah Saw. di Monas.

• 26 Nopember: Ijtima’ Ulama di Wisma DPR
Puncak.

• 27-28 Nopember Dauroh Ulama di Puncak.

• 29 Nopember: Sore tiba di Juanda langsung
ke Pacet Mojokerto.

• 30 Nopember: Sore dar Pacet langsung ke
Gresik.

• 31-01 Desember: Pagi Dauroh di Ponpes.

Mambaus Sholihin Suci Gresik.
• 01 Desember: Siang langsung Surabaya.

• 02 Desember: Ba’da Shubuh Maulid Ketapang
Besar Surabaya dan Ba’da Isya Haul di
Petukangan.

• 03 Desember: Ke Malaysia.

*) Pengumuman ini bersifat sementara,
selanjutnya jika ada info lebih lanjut/perubahan
jadual akan segera kami sampaikan kepada
jamaah. Jadwal sewaktu-waktu dpt berubah
sesuai situasi dan kondisi.

Info dari: Al-Habib Umar bin Sholeh Al Hamid


Jumat, 25 Oktober 2013

AKU BERMIMPI NABI SEKITAR 80 KALI

AKU MIMPI NABI SEKITAR 80 KALI

“Kenangan Al-Habib Husein Nabil Assegaf
Tentang Sahabat Karibnya, Al-Habib Mundzir Al-
Musawa”
Jadi teringat 2 peristiwa yang aku saksikan
sendiri dengan dua mataku tentang keutamaan
sahabatku ini. Suatu ketika datang seorang
shaleh dan memiliki kelebihan di sisi Allah yang
bermarga al-Haddad ke masjid at-Takwa di desa
Aidid Tarim.
Ya, saat itu Dar al-Mustafa belum dibangun, jadi
kami tinggal di ruangan kosong di atas masjid
selama setahun. Orang shaleh itu mendatangi
kami dan berbicara tentang mimpi Nabi Saw. Ia
mengatakan bahwa mereka yang ingin bermimpi
Nabi juga harus mengikuti akhlaknya dan
meresapi bacaan shalawat.
“Ahh, habib ini menyindir aku.” Kataku di dalam
hati yang saat itu sedang berusaha, tetapi belum
juga memimpikan Nabi. Lalu ia menoleh ke wajah
sahabatku dan memaksanya untuk menyebutkan
berapa kali ia memimpikan Nabi, atau jika tidak
mau maka habib itu sendiri yang akan
menyampaikan. Sahabatku berkata: “Aku mimpi
Nabi sekitar 80 kali.”
Begitupula saat Dar al-Mustafa baru selesai
dibangun, aku ingat Habib Umar bin Hafidz
mengabsen nama kita satu-persatu untuk
menentukan kamar. Saat menyebut nama
sahabatku, ia tersenyum dan kulihat tatap
matanya dalam ke arah wajahnya sambil berkata:
“Mundzir (pemberi peringatan), kelak engkau akan
menjadi pemberi peringatan.”
Selamat jalan sahabatku, semoga Rasul dan ahl
baitnya, serta para salaf pendahulu yang shaleh
saat ini akan menyambutmu dengan bangga.
Selamat jalan sahabat, yang memenuhi waktunya
dengan perbuatan yang istimewa di sisiNya.
Semoga Allah mengampuni, merahmati dan
memaafkanmu. Semoga kelak kita bisa bertemu
dalam keadaan yang diridhai oleh Allah dan
RasulNya.
Al-Habib Husein Nabil Assegaf adalah salah
seorang murid al-Habib Umar bin Hafidz. Beliau
satua angkatan dengan al-Habib Mundzir bin
Fuad al-Musawa. Kini beliau aktif di dunia
dakwah dan aktif menulis. Akun fb beliau adalah:

https://www.facebook.com/husin.nabil


Rabu, 09 Oktober 2013

CURAHAN HATI HABIBANA BEBERAPA TAHUN YANG LALU


Tahukah kalian bagaimana dengan keadaan sehari-hari guru kita Habib Munzir Al Musawa ???

baca tulisan berikut ini :

Curahan Hati Habibana Munzir beberapa tahun yg
lalu yg sempat beliau tulis...

Habibana Menulis :
Forwardkan pada kekasih kekasihku di milis....
Malam ini aku tersandar di pembaringan dan
terpaku bertafakkur…, airmata terus mengalir,
alangkah lemahnya hamba ini menghadapi
gelombak ombak… Dihadapanku acara esok malam
di monas, sedangkan acara malam minggu
membuat dadaku pecah, ketika sakit dikepala
belakangku kambuh, dan sakitnya terasa seluruh
urat panas membara sampai ke kuku dan tulang…
dan puncak sakitnya adalah di kepala bagian
belakang…
Malam minggu biasanya kutemui 15-20 ribu
muslimin, namun tubuh yg sudah rapuh ini terus
merangkak menuju majelis yg kukira akan menemui
jamaah yg lebih banyak.. Ternyata yg kutemui
hanya sekitar 300 orang saja, serasa meledak
dadaku karena sedih dan menahan sakit, ingin
rasanya kujatuhkan tubuhku dipangggung dan
terserah apa yg akan terjadi..
Dg tubuh yg terus menahan sakit aku bertahan,
mataku nanar dan panas, wajah dan telinga serasa
menjadi tebal bagai ditampar berkali kali.. keluhan
sakit adalah sebab peradangan otak yg terus
menjadi jadi Aku terus menoleh kekiri dan kanan,
berharap para kekasihku datang berbondong
bondong meramaikan acara, namun hanya
beberapa puluh saja duduk di shaf, dan sisanya
belasan orang berdiri disekitar panggung…,
gelombang jamaah tidak tiba juga, tak lama tiba
konvoi pun mungkin hanya 50 orang saja Aku
terhenyak, kepalaku semakin sakit, seluruh tubuhku
seakan berteriak kesakitan tak kuasa menahan
sakitnya.. Allah.. Allah,..Allah… wahai tubuh penuh
dosa kau harus bertahan…
Ceramah selesai ,, acara ditutup, aku melangkah ke
mobil dg lemah dan ingin kuteriakkan pada semua
orang jangan satupun menyentuh kulitku karena
sangat terasa sakitnya.. namun aku harus
menerima nasibku untuk dikerubuti, mereka datang
dan setia padaku.., mereka orang orang berjiwa
Muhammad saw, aku tak boleh kecewakan mereka
Aku membatin memandangi jumlah yg sangat
sedikit dihadapan panggung besar dan lapangan
bola ini……….. 12 tahun aku berdakwah, inilah hasil
dakwahku, sisanya adalah buih di lautan..
Sampai dimarkas kerebahkan tubuh penuh derita dg
hati yg hancur, ketika mata hampir terlelap maka
aku terhentak bagai dibentak syaitan, esok malam
acara monas, bagaimana nasibmu munzir….!,
adakah akan seperti ini ini…????, hujan akan turun
dank au terpaku kecewa dihadapan guru mulia..???
Aku bagai tersengat stroom tegangan tinggi,
menangis sekeras kerasnya… sakit dikepalaku
sudah tak tertahan, jika kuhantamkan kepala ini ke
tembok hingga kepala ini hancur tdak akan terasa
sakitnya karena sudah dikalahkan oleh sakit yg
jaub lebih berat.. Tubuhku gemetar, lalu aku
berkata : ainiy, bantu aku membuka jubah dan
sorbanku dan gamisku, bantu aku rebah, ini sudah
larut malam, makanan apa yg ada ainiy?, saya
lapar, dan perlu makan sedikit untuk makan obat,
ia berkata : jam segini wahai habib sudah tdk ada
apa2, banyak restoran padang dan penjual
makanana masih tutup pula karena liburan
panjang..,
Baiklah, buatkan indomi saja, sekedar pengganjal
untuk makan obat.. Prof sudah mengatakan, jika
sakit di kepala tak mau hilang dg obat penahan
sakit yg saya berikan, habib harus segera ke rscm
untuk suntik otak…
Berkali kali memang ia menembuskan jarum
sepanjang hampir 15cm itu kedalam otakku
sedalam dalamnya.. ah,,, tidak ada waktu untuk
opname.. aku harus bertahan…
Dihadapankau acara monas,pasrah pada Allah..
lalu saat mata hampir terpejam pikiranku
dihentakkan lagi dg beban berikutnya, 12 rabiul
awal pada 26 februari…., bulan depan…!!!, lalu
kedatangan guru mulia pada sekitar maret….!!,
mestilah ada acara akbar pula..!, lalu 27 rajab isra
mikraj..!, lalu nisfu sya;ban..!!, lalu badr pada
pertengahan ramadhan..!!, lalu habisnya massa
kontrak markas MR dibulan juni…

Aku teringat mimpiku beberapa minggu yg lalu, aku
berdiri dg pakaian lusuh bagai kuli yg bekerja
sepanjang hari, dihadapanku Rasulullah saw berdiri
di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda :
“semua orang tak tega melihat kau kelelahan wahai
munzir, aku lebih tak tega lagi…,
kembalilah padaku, masuklah kedalam kemahku
dan istirahatlah… Ku jenguk dalam kemah mewah
itu ada guru mulia, seraya berkata :kalau aku bisa
keluar dan masuk kesini kapan saja, tapi engkau
wahai munzir jika masuk kemah ini kau tak akan
kembali ke dunia..
Maka Rasul saw terus mengajakku masuk,
“masuklah.. kau sudah kelelahan.., kau tak punya
rumah di dunia(memang saya hingga saat ini
masih belum punya rumah) , tak ada rumah
untukmu di dunia, karena rumahmu adalah disini
bersamaku.., serumah denganku.., seatap dg ku…,
makan dan mium bersamaku .. masuklah,,, Lalu
aku berkata : lalu bagaimana dg Fatah Jakarta?
(Fatah tegaknya panji kedamaian Rasul saw), maka
beberapa orang menjawab dibelakangku : wafatmu
akan membangkitkan ribuan hati utk meneruskan
cita citamu,..!!, masuklah,,,! Lalu malaikat Izrail as
menggenggamku dari belakang, ia memegang dua
pundakku, terasa seluruh uratku sudah
digenggamannya, seraya berkata : mari… kuantar
kau masuk.. mari… Maka kutepis tangannnya, dan
aku berkata, saya masih mau membantu guru
mulia saya…, maka Rasul saw memerintahkan
Izrail as untuk melepaskanku.. Aku terbangun…
Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat
dua tamu bertubuh cahaya, namun wajahnya tidak
bertentuk kecuali hanya cahaya, ia memperkenalkan
bahwa ia adalah Izrail as.. Kukatakan padanya :
belum… belum.. aku masih ingin bakti pada guru
muliaku.. pergilah dulu, maka ia pun menghilang
raib begitu saja.
Tahun 1993 aku bermimpi berlutut dikaki Rasul
saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa,
maka Sang Nabi saw menepu pundakku… tenang
dan sabarlah..sebelum usiamu mencapaii 40 tahun
kau sudah kumpul bersamaku” Usia saya kini 37
tahuh pada 23 feb 73, dan usia saya 38 tahun pada
19 muharram ini.

Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku, aku
senang wafat dg penyakit ini, karena Rasul saw
beberapa bulan sebelum wafatnya terus
mengeluhkan sakit kepala...
Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis
Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku
maka teruskan perjuanganku.. ampuni
kesalahanku.., kita akan jumpa kelak dg
perjumpaan yg abadi.. Amiin..

Sekarang Allah Yarham telah beristirahat tenang
bersama Rasulullah saw, sirna sudah segala
keluhan yg selalu beliau rasakan,

PERLU DI KETAHUI OLEH SEMUA, HABIBANA
MUNZIR WAFAT DALAM KEADAAN TERSENYUM,
DAN PADA SAAT PEMAKAMAN BELIAU SEBAGIAN
BESAR WILAYAH INDONESIA DALAM KEADAAN
GERIMIS...


CURAHAN HATI HABIBANA BEBERAPA TAHUN YANG LALU


Tahukah kalian bagaimana dengan keadaan sehari-hari guru kita Habib Munzir Al Musawa ???

baca tulisan berikut ini :

Curahan Hati Habibana Munzir beberapa tahun yg
lalu yg sempat beliau tulis...

Habibana Menulis :
Forwardkan pada kekasih kekasihku di milis....
Malam ini aku tersandar di pembaringan dan
terpaku bertafakkur…, airmata terus mengalir,
alangkah lemahnya hamba ini menghadapi
gelombak ombak… Dihadapanku acara esok malam
di monas, sedangkan acara malam minggu
membuat dadaku pecah, ketika sakit dikepala
belakangku kambuh, dan sakitnya terasa seluruh
urat panas membara sampai ke kuku dan tulang…
dan puncak sakitnya adalah di kepala bagian
belakang…
Malam minggu biasanya kutemui 15-20 ribu
muslimin, namun tubuh yg sudah rapuh ini terus
merangkak menuju majelis yg kukira akan menemui
jamaah yg lebih banyak.. Ternyata yg kutemui
hanya sekitar 300 orang saja, serasa meledak
dadaku karena sedih dan menahan sakit, ingin
rasanya kujatuhkan tubuhku dipangggung dan
terserah apa yg akan terjadi..
Dg tubuh yg terus menahan sakit aku bertahan,
mataku nanar dan panas, wajah dan telinga serasa
menjadi tebal bagai ditampar berkali kali.. keluhan
sakit adalah sebab peradangan otak yg terus
menjadi jadi Aku terus menoleh kekiri dan kanan,
berharap para kekasihku datang berbondong
bondong meramaikan acara, namun hanya
beberapa puluh saja duduk di shaf, dan sisanya
belasan orang berdiri disekitar panggung…,
gelombang jamaah tidak tiba juga, tak lama tiba
konvoi pun mungkin hanya 50 orang saja Aku
terhenyak, kepalaku semakin sakit, seluruh tubuhku
seakan berteriak kesakitan tak kuasa menahan
sakitnya.. Allah.. Allah,..Allah… wahai tubuh penuh
dosa kau harus bertahan…
Ceramah selesai ,, acara ditutup, aku melangkah ke
mobil dg lemah dan ingin kuteriakkan pada semua
orang jangan satupun menyentuh kulitku karena
sangat terasa sakitnya.. namun aku harus
menerima nasibku untuk dikerubuti, mereka datang
dan setia padaku.., mereka orang orang berjiwa
Muhammad saw, aku tak boleh kecewakan mereka
Aku membatin memandangi jumlah yg sangat
sedikit dihadapan panggung besar dan lapangan
bola ini……….. 12 tahun aku berdakwah, inilah hasil
dakwahku, sisanya adalah buih di lautan..
Sampai dimarkas kerebahkan tubuh penuh derita dg
hati yg hancur, ketika mata hampir terlelap maka
aku terhentak bagai dibentak syaitan, esok malam
acara monas, bagaimana nasibmu munzir….!,
adakah akan seperti ini ini…????, hujan akan turun
dank au terpaku kecewa dihadapan guru mulia..???
Aku bagai tersengat stroom tegangan tinggi,
menangis sekeras kerasnya… sakit dikepalaku
sudah tak tertahan, jika kuhantamkan kepala ini ke
tembok hingga kepala ini hancur tdak akan terasa
sakitnya karena sudah dikalahkan oleh sakit yg
jaub lebih berat.. Tubuhku gemetar, lalu aku
berkata : ainiy, bantu aku membuka jubah dan
sorbanku dan gamisku, bantu aku rebah, ini sudah
larut malam, makanan apa yg ada ainiy?, saya
lapar, dan perlu makan sedikit untuk makan obat,
ia berkata : jam segini wahai habib sudah tdk ada
apa2, banyak restoran padang dan penjual
makanana masih tutup pula karena liburan
panjang..,
Baiklah, buatkan indomi saja, sekedar pengganjal
untuk makan obat.. Prof sudah mengatakan, jika
sakit di kepala tak mau hilang dg obat penahan
sakit yg saya berikan, habib harus segera ke rscm
untuk suntik otak…
Berkali kali memang ia menembuskan jarum
sepanjang hampir 15cm itu kedalam otakku
sedalam dalamnya.. ah,,, tidak ada waktu untuk
opname.. aku harus bertahan…
Dihadapankau acara monas,pasrah pada Allah..
lalu saat mata hampir terpejam pikiranku
dihentakkan lagi dg beban berikutnya, 12 rabiul
awal pada 26 februari…., bulan depan…!!!, lalu
kedatangan guru mulia pada sekitar maret….!!,
mestilah ada acara akbar pula..!, lalu 27 rajab isra
mikraj..!, lalu nisfu sya;ban..!!, lalu badr pada
pertengahan ramadhan..!!, lalu habisnya massa
kontrak markas MR dibulan juni…

Aku teringat mimpiku beberapa minggu yg lalu, aku
berdiri dg pakaian lusuh bagai kuli yg bekerja
sepanjang hari, dihadapanku Rasulullah saw berdiri
di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda :
“semua orang tak tega melihat kau kelelahan wahai
munzir, aku lebih tak tega lagi…,
kembalilah padaku, masuklah kedalam kemahku
dan istirahatlah… Ku jenguk dalam kemah mewah
itu ada guru mulia, seraya berkata :kalau aku bisa
keluar dan masuk kesini kapan saja, tapi engkau
wahai munzir jika masuk kemah ini kau tak akan
kembali ke dunia..
Maka Rasul saw terus mengajakku masuk,
“masuklah.. kau sudah kelelahan.., kau tak punya
rumah di dunia(memang saya hingga saat ini
masih belum punya rumah) , tak ada rumah
untukmu di dunia, karena rumahmu adalah disini
bersamaku.., serumah denganku.., seatap dg ku…,
makan dan mium bersamaku .. masuklah,,, Lalu
aku berkata : lalu bagaimana dg Fatah Jakarta?
(Fatah tegaknya panji kedamaian Rasul saw), maka
beberapa orang menjawab dibelakangku : wafatmu
akan membangkitkan ribuan hati utk meneruskan
cita citamu,..!!, masuklah,,,! Lalu malaikat Izrail as
menggenggamku dari belakang, ia memegang dua
pundakku, terasa seluruh uratku sudah
digenggamannya, seraya berkata : mari… kuantar
kau masuk.. mari… Maka kutepis tangannnya, dan
aku berkata, saya masih mau membantu guru
mulia saya…, maka Rasul saw memerintahkan
Izrail as untuk melepaskanku.. Aku terbangun…
Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat
dua tamu bertubuh cahaya, namun wajahnya tidak
bertentuk kecuali hanya cahaya, ia memperkenalkan
bahwa ia adalah Izrail as.. Kukatakan padanya :
belum… belum.. aku masih ingin bakti pada guru
muliaku.. pergilah dulu, maka ia pun menghilang
raib begitu saja.
Tahun 1993 aku bermimpi berlutut dikaki Rasul
saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa,
maka Sang Nabi saw menepu pundakku… tenang
dan sabarlah..sebelum usiamu mencapaii 40 tahun
kau sudah kumpul bersamaku” Usia saya kini 37
tahuh pada 23 feb 73, dan usia saya 38 tahun pada
19 muharram ini.

Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku, aku
senang wafat dg penyakit ini, karena Rasul saw
beberapa bulan sebelum wafatnya terus
mengeluhkan sakit kepala...
Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis
Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku
maka teruskan perjuanganku.. ampuni
kesalahanku.., kita akan jumpa kelak dg
perjumpaan yg abadi.. Amiin..

Sekarang Allah Yarham telah beristirahat tenang
bersama Rasulullah saw, sirna sudah segala
keluhan yg selalu beliau rasakan,

PERLU DI KETAHUI OLEH SEMUA, HABIBANA
MUNZIR WAFAT DALAM KEADAAN TERSENYUM,
DAN PADA SAAT PEMAKAMAN BELIAU SEBAGIAN
BESAR WILAYAH INDONESIA DALAM KEADAAN
GERIMIS...


Kamis, 03 Oktober 2013

Catatan Syeikh Khalil Amerika untuk Habib Munzir Almusawa

catatan seorang mualaf amerika syekh khalil Untuk Sayyidi Syarif Alhabib Munzir Almusawa ...tarim

"Segala puji kepada Allah SWT, Tuhan dari semesta
alam . Shalawat dan salam kepada nabi
Muhammad SAW , keluarga dan sahabat .
Saya ingat pertama kali saya memandang Habib
Munzir al - Musawa . Saat itu sekitar 3 tahun yang
lalu . Saya baru saja belajar tentang habaib dari
seorang teman , dan menghabiskan waktu saya
mencari gambar Habib Umar dan Habib Kadhim di
internet . Aku ingat melihat Habib Munzir . Senyum
berseri-seri , sambil memegang rida. saya jatuh
hati kepadanya sebagai orang yang memancarkan
keindahan dan cinta . Hatiku sangat ingin bertemu
dengannya suatu hari nanti .

Pada bulan Desember 2012, Habib Umar
mengundang saya untuk pergi ke Indonesia
dengannya . Sebagai seorang Amerika , saya
memiliki waktu yang lama(sult) untuk
menyesuaikan kehidupan baru saya di Tarim dan
saya pikir Habib ingin aku melihat lebih banyak dari
umat dan menghabiskan waktu bersamanya . Saya
sangat bersemangat untuk melihat Indonesia dan
Jakarta . Aku bertanya-tanya apakah mungkin aku
bisa bisa bertemu Habib Munzir . Perjalanan ke
Indonesia akan menjadi pengalaman hidup
mengubah hidup.

Setelah hari kedua saya di Indonesia , aku bangun
untuk shalat subuh di rumah Sayyid Muhsin Al-
Hamid(cidodol) . Setelah fajar , beberapa orang
tinggal di sekitar. Di antara mereka adalah Habib
Munzir bin Fuad al - Musawa . Hatiku melompat
kegirangan . Aku berlari ke arahnya dan menyapa
dia dan mengatakan kepadanya betapa bahagianya
aku akhirnya bertemu dengannya .

Senyumnya
lebih besar daripada kehidupan itu sendiri . Saat
aku membungkuk untuk mencium tangannya, ia
mengejutkan saya dengan meraih tanganku dan
menciumnya terlebih dahulu . Aku ingat bau Attar
(harum) nya begitu manis . Aku tahu dia istimewa ,
aku hanya tidak tahu bagaimana benar-benar
khusus beliau pada saat itu ....
Bulan Maulid Rasulullah ( SAW ) adalah minggu
itu , dan saya kagum untuk melihat lebih
100.000-200.000 orang berkumpul untuk nabi kita
tercinta, Nabi Muhammad ( SAW ) . Saat di
Amerika , mendapatkan kunjungan 50-100 orang
bahkan dianggap sebagai maulid besar . Mataku
penuh dengan kejutan dan hati saya kewalahan .

Saat aku duduk di panggung dengan syaikh dan
habaib , merasa benar-benar tidak pantas , teman
saya datang kepada saya dan berkata " Habib ingin
Anda untuk berbicara . " Aku bertanya habib yang
mana, katanya "keduanya. " Saya menduga mereka
berarti menginginkan saya ceramah minggu depan
setelah shalat Jum'at , jadi aku santai bertanya "
kapan? " Saya shock dan ketakutan , teman saya
Khalid mengatakan " sekarang , sehingga Anda
lebih baik memikirkan sesuatu yang cepat , dalam
5 menit . " Aku sangat gugup , aku berkata "
Apakah Anda yakin ! ? " ia kemudian memberi
isyarat dengan kepala mengangguk. Aku
membungkuk dan melihat Habib Umar dan Habib
Munzir dengan senyum terbesar menganggukkan
kepala mereka pada saya . Saya pikir saya akan
pingsan .
Ketika tiba saatnya bagi saya untuk berbicara ,
Habib Munzir memperkenalkan saya sebagai Syekh
Khalil dari Amerika . Saya berpikir " Oh tidak , dia
pikir saya orang terpelajar ! " Aku sangat malu .

Melihat sekerumunan besar orang, mereka berpikir
saya adalah seorang syekh . Saya hanya seorang
santri yg baru belajar . Kembali ke rumah , saya
adalah seorang guru sekolah dari Dunia dan
Sejarah Amerika , tentu bukan salah satu yang akan
diberikan gelar Syaikh. Berbicara di depan 20 siswa
dibandingkan dengan 100.000 orang lebih akan
menjadi tantangan besar saya berpikir .. Aku
melihat wajah saya di monitor dalam tampilan
yang besar dan juga bahwa Habib Umar serta
Habib Munzir tersenyum seperti ayah yg bangga.
Aku merasa tenang , tapi itu tidak lama sebelum
saya mulai kehabisan kata-kata , saya mencoba
untuk mengungkapkan apa yang ada di hati saya
pada sensasi luar biasa berada di sebuah
pertemuan yg diberkahi . Saya ingat pernah
mengatakan bahwa Habib Umar , Habib Ali al -
Jufri , dan Habib Kadhim AsSeggaf, semua pernah
mengunjungi Amerika dan Kanada dan mengatakan
bahwa " Insya Allah , Habib Munzir Anda akan
mengunjungi juga. " Reaksi lebih dari 100.000
orang bersukacita dalam diriku menginginkan Habib
Munzir untuk mengunjungi dan membuat dakwah
di Amerika membuat saya tersenyum karena saya
melihat cinta yang sangat besar yang mereka
punya untuk Habib Munzir .

Saya ingat wajah
Habib Umar pada saat itu . Aku ingat Habib Munzir
juga. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan
wajah yg sangat mulia.
Kemudian seminggu setelah Habib Umar kembali ke
Tarim, saya masih memiliki tiga hari yang tersisa
di Jakarta . Saya sangat bersemangat untuk
berbicara dengan Habib Munzir di kantornya . Dia
mengatakan kepada saya betapa bahagianya dia
aku datang dan ingin saya untuk tinggal selama 6
bulan dan belajar di Majelis Rasulullah . Dia akan
menelepon Habib Umar di Tarim untuk minta izin.
Saat Habib Umar ditelpon , Habib Munzir beranjak
dari kursinya dan jatuh berlutut dengan tangan di
udara dan berkata " Ya Maulana, bagaimana saya
bisa melayani Anda. " Aku tertegun pada adab
Habib Munzir kepada guru. Dia menyebut Habib
Umar, Maulana.., Tuan.. . Dia menelepon untuk
minta izin tapi pertama bertanya bagaimana dia
bisa melayani Habib Umar . Aku tidak akan pernah
melupakan saat itu selama aku hidup . Aku belum
pernah melihat cinta dan pengabdian tersebut . Itu
Habib Munzir . Seorang pria yg penuh cinta murni
dan pengabdian kepada gurunya .
Habib Umar berkata saya mungkin melakukannya
tapi saya akan melewatkan belajar bahasa arab di
darul mustafa . Habib Munzir segera berkata saya
tidak bisa melewatkan mendalami bahasa Arab dan
bertanya apakah saya dapat kembali pada bulan
Januari untuk maulid nabi . Izin diberikan dan saya
akan kembali ke tarim untuk waktu yg pendek,
sepuluh hari atau lebih sebelum kembali ke
Jakarta . Hari-hari di Tarim merasa begitu lama,
aku rindu kembali berjumpa Habib Munzir , Habib
Muhammad al - Junayd dan semua yang saya
telah temui .
Kembali ke Jakarta selama 5 minggu hanya
meningkatkan cinta saya untuk Habib Munzir .

Sementara saya tidak melihat dia setiap hari, saya
merasa kehadirannya kemana-mana aku pergi .
Aku melihat baliho dan tanda-tanda untuk Majelis
Rasulullah , aku melihat wajahnya di mana-mana
aku pergi . Ketika kami bepergian aku melihat
wajahnya di pikiran saya . Ia bersama saya di
mana-mana aku pergi . Ketika aku bersamanya , ia
akan selalu membuat saya duduk di sampingnya .
Aku sangat malu . Inilah aku , seorang mualaf
Amerika yg baru menganut agama Islam , 32
tahun , bukanlah sarjana , bukan seorang syekh ,
namun Habib Munzir selalu membuat saya duduk
di sampingnya , dan juga untuk berbicara di maulid
maulid . Saya ingat menanggalkan imamah saya di
satu hari dan Habib Munzir bertanya mengapa
saya melakukannya , dan saya mengatakan
kepadanya bahwa saya merasa saya tidak layak
memakai imamah, bukanlah seorang syekh dan
hanya seorang santri yg baru belajar . Dia bilang
aku harus memakainya , itu adalah sunnah dan
ketika Indonesia melihat orang Barat , khususnya
orang Amerika , memakai imamah , itu adalah
pengingat nabi Muhammad ( SAW ) dan mengikuti
jalannya, dan bukan dari dunia . Aku memakai nya
kembali untuk sisa perjalanan saya , dan
melakukannya dengan perasaan mewakili Sang
Nabi tercinta ( SAW ). Saya melakukan perjalanan
ke Pulau Sulawesi dengan Habib Muhammad al -
Junayd dan Sayyid Hilmi al - Kaf untuk dakwah .
Aku rindu Habib Munzir dan ingin berada di
Jakarta , tapi dia ingin aku bertemu orang-orang
dan memanggil mereka kembali ke Islam. Bahwa
perjalanan dakwah adalah unik dan indah dalam
banyak cara .
Akhirnya , ketika tiba saatnya bagi saya untuk
kembali ke Tarim , saya bertemu dengan dia di
kantornya . Aku ingat kesedihan di wajahnya . di
hadapan ku adalah seorang pria , cucu dari Nabi
( SAW ) , yang bukan hanya Jakarta , tetapi berat
seluruh Indonesia di pundaknya .

Meskipun ada
begitu banyak organisasi dan habaib di Indonesia ,
tidak ada yang memiliki seperti dampak dan
pengaruh seperti Habib Munzir , terutama ketika
datang untuk pemuda . Melihat begitu banyak pria
dan wanita muda , anak-anak berkumpul di bawah
bendera Majelis Rasulullah , senyum dan cinta di
wajah mereka . pemuda Jakarta lagi-lagi
memanggil-manggil kepada Allah dan Rasul-Nya
( SAW ) . Dimanapun Habib Munzir pergi , senyum
dan kebahagiaan ada di sana . Itulah yang Habib
Munzir selalu membawa bersamanya : senyum dan
cinta .
Mengucapkan selamat tinggal adalah saat yg
sangat sulit bagi saya . Aku ingat bagaimana dia
akan selalu mencium tanganku saat aku mencium
nya setiap kali kita melihat satu sama lain. Aku
ingat pelukan hangat yg diberikan kepada saya .
Aku ingat setiap kali aku berbicara dia selalu
menatapku dengan sukacita , itu adalah tampilan
ayah memberi ketika dia bangga akan anaknya .

Saya menyaksikan bagaimana dia dengan orang-
orang . Begitu lembut , begitu perhatian . Pelukan
ini adalah jauh lebih lama dan intens . Aku ingat
perjumpaan mata kita , aku ingat untuk tidak
pernah ingin pernah membiarkan pergi. Aku melihat
ke Habib Munzir dengan begitu banyak cinta dan
kekaguman . Dia hanya 8 tahun lebih tua dari ku,
tapi aku melihat dia seperti sosok ayah . Itu
bagaimana dia membawa diri , jauh lebih tua ,
hikmat dan cerdas.
Pengabdian masyarakat untuk dia begitu kuat . Di
mana saja Habib pergi , orang-orang menghargai
dan menghormatinya . Cara dia membawa emosi
jamaahnya, kekuatan do'a saat mereka berseru
bagi Allah . Saya tidak pernah merasa sangat
kuat , kekuatan positif . Ini memberi saya harapan
bagi umat . Orang-orang seperti Habib Munzir
adalah apa yg umat ini rindukan . Orang-orang
Indonesia memiliki ikatan yang unik dan mendalam
untuk Habaib tersebut . Mereka mencintai habaib
dengan cara yg tidak ada orang lain di dunia
lakukan, tapi Habib Munzir adalah Habib mereka.
Putra asli mereka, pendakwah Islam di Indonesia .
Berada di sekitar mereka , saya merasa bahwa
terikat batin kepadanya . Dalam waktu singkat ,
cinta saya untuk Habib Munzir seperti itu dari
masyarakat Jakarta dan Indonesia . Aku merasa
seperti dia adalah " Habib saya. "
Kembali di Tarim saya merasa terjebak dan hilang .
Saya telah menghabiskan tahun sebelumnya tanpa
kelas bahasa arab karena tingkat saya bahasa Arab
terlalu rendah untuk dimasukkan ke dalam kelas .

Aku punya guru untuk mempersiapkan saya untuk
tahun mendatang . Tapi aku tidak punya dorongan
atau ambisi . Aku merasa begitu kehilangan dan
putus asa . waktu belajar baru dimulai hanya
beberapa minggu yang lalu , dan aku merasa
terisolasi . Motivasi saya hilang dari sangat sedikit
untuk benar-benar padam . Aku telah kehilangan
semua motivasi pada belajar dan belajar . Himmah
saya hilang . Namun , saya selalu teringat Habib
Munzir dalam semua Do'a saya. Setiap malam
sebelum aku pergi ke tempat tidur saya akan
membuat Do'a untuk Habib Munzir , untuk sukses
dan pemulihan sehatnya .
Ketika saya diberitahu Habib Munzir wafat, saya
tidak akan percaya , seperti sahabat Umar ( RA )
setelah mendengar meninggalnya Nabi Muhammad
( SAW ) . Aku segera mengirim pesan teks keluarga
Habib Munzir dan mereka segera menelepon saya
kembali. Saat aku mendengar mereka menangis
melalui telepon , aku tahu itu benar . Hatiku hancur
berkeping-keping . Dunia saya runtuh di sekitar
saya . Itu perasaan yang sama saya rasakan ketika
ayahku sendiri meninggal beberapa tahun yang lalu
ketika saya berusia 17 tahun . Aku berlari keluar
dari Darul Mustafa dan menangis sejadi-jadinya.

Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan atau
merasa apa. Habib Munzir telah pergi.....
Saat pergantian hari, air mata saya hanya terus
meningkat dan aku merasa sangat kehilangan . Aku
tidak bisa pergi ke kelas . Aku tidak bisa makan
atau minum . Aku menangis dalam salat. Saya
tidak bisa berlama-lama dalam beberapa menit
tanpa rasa kehilangan nya masuk ke dalam hati
dan pikiran saya . Teman menghibur saya tapi
tidak bisa menghentikan air mata dan rasa sakit .

Saya menulis ini sehari setelah Habib Munzir ( RA )
meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Allah
SWT . Seperti yang saya katakan sebelumnya ,
hanya beberapa minggu yang lalu semester baru
dimulai dan aku merasa kehilangan dengan tidak
ada motivasi untuk belajar dan belajar. Saya
menulis ini hari ini dengan semangat baru untuk
belajar . Hal ini karena berlalunya Habib Munzir,
dimana himmah saya telah kembali ke saya ,
motivasi dan ambisi telah kembali . Saya percaya
Habib Munzir mengawasi saya , dan saya ingin
membuatnya bahagia . Aku berniat dalam waktu
dekat untuk memenuhi harapan saya itu belajar di
Majelis Rasulullah .

Habib Munzir adalah saudaraku dalam Islam ,
serta sesama murid dari Habib Umar . Dia adalah
Syaikh saya, dan dia adalah teman saya.
Sementara berurusan dengan kematiannya
kemarin , seorang teman saya mengatakan kepada
saya tentang hadits yang diriwayatkan oleh ibu kita
syaidatuna Aisyah (RA) jiwa tertentu yang
terhubung erat sebelum penciptaan . Aku
merasakan kenyamanan besar dalam mempelajari
hadits ini . Sementara aku hanya menghabiskan
enam minggu di Jakarta , saya merasa seolah-olah
saya telah tumbuh di bawah tatapan penuh kasih
Habib Munzir ini .

Habib Munzir memiliki senyum yang berseri-seri,
menerangi setiap ruangan dia masuk . Suaranya
yang berat itu begitu kuat dan siapa mendengar dia
berbicara atau membuat Do'a terpesona oleh nya .
Dia baik hati dan lembut dengan orang-orang .
Ketika datang kepada Rasulullah kakeknya (SAW) ,
ia tidak pernah ragu-ragu dalam menyebarkan
pesannya . Semua yg Habib Munzir lakukan adalah
untuk Allah dan Rasul-Nya ( SAW ) dan Syaikh
kami . Dalam maulid, Habib Munzir begitu
terfokus , jadi terharu . Dia merasa dan melihat
Rasulullah (SAW) di setiap pertemuan . Masyarakat
Jakarta mencintainya . Mereka mengagumi dia ,
mereka akan mati untuknya . Saya juga merasakan
kekaguman yang mendalam dan cinta yang kuat
untuknya , dan aku akan mati tanpa ragu-ragu
untuk dia . Pikiran saya selalu kembali ke
pemikiran bagaimana jika saya telah belajar di
sana selama enam bulan, bukan kembali ke Tarim .
Dan Allah adalah yang terbaik dari Perencana .

Kita semua telah membaca cerita dari orang-orang
yang hanya menghabiskan beberapa saat dengan
habib Munzir , dan hati mereka terbuka dan mereka
merasa perubahan dalam hati, bukaan dan
rahasia . Saya seperti melihat cerita yg mustahil di
zaman sekarang ini .tidak sampai saya bertemu
Habib Munzir al - Musawa, saya menyadari betapa
saat-saat yang sejati . Hanya sesaat , tapi lebih
dari semua yang diperlukan . Sebuah tatapan dari
salah satu awliya mengubah segalanya . Tatapan
ini dapat terjadi dalam hidup mereka , atau di
akhirat. Aku merasa tatapan Habib Munzir itu pada
saya dan saya merasa sekarang dan lebih intim
dan intens setelah kematiannya .

Saya tidak pernah berpikir saya bisa sangat
mencintai seseorang sebanyak Habib Umar bin
Hafiz . Saya melihat Habib Umar sebagai ayah
angkat saya . Ketika saya melihat Habib Umar ,
aku merasa seperti Sayyidina Zaid (RA) kpd Rasul
SAW. Saya tidak pernah berpikir siapa pun bisa
memiliki dampak pada kehidupan saya seperti
Habib Umar . Ketika saya bertemu Habib Munzir ,
seluruh dunia saya berubah . Tidak ada yang bisa
memiliki cinta dan pengabdian untuk Syaikh
(guru)mereka dengan cara Habib Munzir untuk
Habib Umar . Aku belum pernah melihat
penyerahan dan kepercayaan tersebut . Itu seolah-
olah saya berada di antara Rumi dan Syams . Itu
adalah kekuatan dan cinta di balik hubungan
antara Habib Umar dan Habib Munzir . disana ada
ikatan khusus yang tidak ada orang yang benar-
benar bisa mengerti . Tanpa pertanyaan , Habib
Munzir adalah salah satu yang paling dicintai
Habib Umar , dan untuk Allah SWT dan Nabi
( SAW ) .
Sejak kepergiannya , begitu banyak telah datang
kepada saya menanyakan saya tentang Habib
Munzir . Seperti apa dia , cerita , kenangan . Itu
hanya sehari sejak ia meninggalkan kami , namun
rasanya seperti bertahun-tahun. Saya merasa
beruntung telah mengenalnya .

Meskipun waktu
yang terbatas saya habiskan bersamanya , saya
merasa lebih terhubung ke dia sebahagian . Saya
mengatakan tanpa kesombongan atau
keangkuhan . Allah SWT memberkati saya untuk
dihubungkan ke Habib Munzir . Aku tahu jiwaku
terhubung ke nya . Itulah salah satu karunia
terbesar yang pernah saya terima . Habib Umar
dan Habib Munzir adalah belahan jiwaku , dan
suatu hari saya berharap untuk berjalan dalam
bayangan mereka . Insya Allah Rahman .
Kepergian Habib disimpan tidak hanya dalam iman
saya kepada Allah dan Islam , itu menyelamatkan
hidup saya . Saya berdoa Habib Munzir diberikan
surga firdaus dan hubungan dekat dengan
kakeknya Rasulullah ( SAW ) . Saya berdoa untuk
kita semua berduka karena kehilangan seseorang
yang kita cintai begitu banyak dan begitu sayang .
Saya berdoa untuk anak-anaknya menjadi
perwujudan dan kesejukan ibu mereka di mata
ayahnya . Saya berdoa untuk keluarga dan orang-
orang yang mencintainya untuk melanjutkan
warisannya . Saya berharap dan saya berdoa .
Saya berdoa agar saya diberikan tawwasul Habib
Munzir di yaumul qiyamah . Saya berdoa untuk
harapan , untuk niat yang kuat dan iman . Karena
kau, Ya Maulana , saya berharap .... "
~ Syekh Khalil , Tarim


Peduli Acara MAJELIS RASULULLAH SAW Bank syariah mandiri 061-7121-494 a/n Munzir Almusawa_______Majelis Nisa di seketariat MAJELIS RASULULLAH SAW, setiap hari minggu pkl 14.00 WIB s/d selesai. Tausiah akan disampaikan langsung oleh AL ALAMAH ALHABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA. majelis kusus nisa/WANITA
Related Posts with Thumbnails
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More