Terima Kasih, Anda sudah mengunjungi blog Pecinta Rasulullah SAW, semoga Allah selalu Menanamkan Rasa Cinta dan Rindu kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW kepada Diri kita Hingga kita Wafat dalam Khusnul Khotimah AAMIIN.........
kritik dan saran : mufe.majelis@gmail.com_____Alamat lengkap Majelis Rasulullah SAW: jl. Cikoko Barat V, RT 03/05, NO 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770),
Tampilkan postingan dengan label maulid ad-dhya ulami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maulid ad-dhya ulami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

PERBANYAK MENGUCAP KALIMAT LÀAILLAHAILALLAH ,.

Pada Senin malam, 21 Muharram 1435 H/ 25
November 2013, Lapangan Monas Jakarta penuh
sesak dengan lautan manusia yang berpakaian
serba putih-putih dan berjaket Majelis Rasulullah
SAW. Gelombang ratusan ribu umat Islam datang
dari berbagai pelosok tanah air dan luar negeri ke
Monas Jakarta untuk menghadiri puncak acara
Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW yang
bersama Guru Mulia Alhabib Umar bin Hafidz.

Gema dzikir, sholawat, dan maulid serta lantunan
al-Qur’an tiada henti-hentinya menggema
mengguncang jagat raya. Tidak ketinggalan
tausiah-tausiah yang dibawakan oleh para ulama,
habaib dan kyai melengkapi puncak acara tabligh
akbar. Terlebih lagi tausiah yang disampaikan
oleh sang kekasih Allah dan Rasul-Nya, Alhabib
Umar bin Hafidz.

Dalam tausiahnya beliau menyampaikan bahwa
sesungguhnya akhir hayat kita semua tergantung
dari apa yang ada di dalam hati kita dan dari apa
yang dilakukan oleh anggota tubuh kita. Kita
sudah sering dikumpulkan bersama Habibana
Munzir Almusawa sebelum beliau wafat.

Ingatlah bahwa beliau tidaklah meninggal tapi
hanya jasad beliau yang wafat sesuai janji Allah
kepada Orang-orang yang sholeh.
Ingatlah bahwa orang-orang yang berjaya karena
dunia mereka akan menyesal akhirat karena telah
menyia-nyiakan majelis-majelis mulia seperti
malam ini, Allah senantiasa menatap apa yang
tersembunyi didalam hati dan pikiran kita.

Alhabib Umar bin Hafidz berpesan, sungguh nafsu
dan syaitan lebih pantas untuk dilanggar daripada
melanggar perintah Allah, semoga kita diwafatkan
dalam keadaan taat kepada Allah, maka
bersungguh-sungguhlah dalam munajat kepada
Allah, bersihkanlah hati dan pikiranmu agar
terhindar dari bujukan musuh-musuh Allah.

Di saat kita mencintai ketaatan dan membenci
kemaksiatan maka segala rencana orang-orang
yg akan menghancurkan Islam akan musnah
dengan sendirinya.

Janganlah kita berdoa hanya untuk diri kita
sendiri saja, maka perluaslah kepada saudara-
saudara kita karena hal itu disukai Allah SWT.

Keberkahan majelis ini akan membuka pintu
Hidayah Allah kepada orang-orang yang nantinya
akan masuk Islam karena majelis ini. Hanyalah
Allah yang mampu membuat apa yang tidak
mungkin menjadi mungkin.

“Ketahuilah Laa ilaha illallah adalah ucapan
paling afdhal yang pernah diucapkan oleh nabi-
nabi sebelum Rasulullah, perbaharui iman kalian
dengan selalu membaca kalimat Laa ilaha illallah.
Ucapkan dengan penuh rasa khusyu’, tawaddhu’
dan pengharapan. Ini adalah cara dzikir para salaf
terdahulu. Ajarkan ini pada keluarga, sahabat dan
orang di sekitar kita agar diangkat segala adzab
dan kesulitan kita serta derajat kita diangkat oleh
Allah SWT”, lanjut Habib Umar bin Hafidz.

Selanjutnya beliau meminta mengulurkan tangan
kita, mengangkat tangan kita, meminta kepada
Allah, mengemislah kepada-Nya. dan ucapkan
“YAA ALLAH…YAA ALLAH…YAA ALLAH.

Ya Allah, jangan Engkau putuskan harapan kami
pada-Mu karena Engkau adalah Yang Maha
Pendengar dan Maha Dermawan. Ya Allah, jangan
Kau campakkan kami di hari kiamat. Ya Allah,
pertemukanlah kami dengan kekasih kami Nabi
Muhammad SAW di hari kiamat. Amiin..”

(Ditulis oleh Majelis Ta’lim Darusshofa /

Img: ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺣﻔﻴﻆ – Habib Omar)


Minggu, 10 November 2013

AGENDA DAKWAH ALHABIB UMAR BIN HAFIDH 2013 DI INDONESIA

Agenda dakwah ad-Da'i
Ilallah al-Hafidz al-Musnid al-Habib Umar bin
Hafidz BSA selama bulan Nopember-Desember
2013 di Indonesia:

• 23 Nopember: Ba’da Ashar Rauhah di Cidodol .

• 24 Nopember: Jam 07:00 WIB Haul Akbar
Fakhrul Wujud Syaikh Abubakar bin Salim di
Cidodol dan Ba’da Dzuhur Jalsah bersama
Thalabah di al-Fachriyyah Habib Jindan
Tangerang.

• 25 Nopember: Ba’da Isya Tabligh Akbar
Majelis Rasulullah Saw. di Monas.

• 26 Nopember: Ijtima’ Ulama di Wisma DPR
Puncak.

• 27-28 Nopember Dauroh Ulama di Puncak.

• 29 Nopember: Sore tiba di Juanda langsung
ke Pacet Mojokerto.

• 30 Nopember: Sore dar Pacet langsung ke
Gresik.

• 31-01 Desember: Pagi Dauroh di Ponpes.

Mambaus Sholihin Suci Gresik.
• 01 Desember: Siang langsung Surabaya.

• 02 Desember: Ba’da Shubuh Maulid Ketapang
Besar Surabaya dan Ba’da Isya Haul di
Petukangan.

• 03 Desember: Ke Malaysia.

*) Pengumuman ini bersifat sementara,
selanjutnya jika ada info lebih lanjut/perubahan
jadual akan segera kami sampaikan kepada
jamaah. Jadwal sewaktu-waktu dpt berubah
sesuai situasi dan kondisi.

Info dari: Al-Habib Umar bin Sholeh Al Hamid


Jumat, 08 November 2013

2900 Orang Warga Inggris Bersyahadat Ditangan Guru Mulia

2900 Orang Warga Inggris Bersyahadat ditangan Guru Mulia

Guru Mulia Almusnid Al'arif billah Alhabib Umar bin Muhammad bin salim bin hafizh BSA.

Kami dengar Langsung kemarin dari lisan Habib
Gasim bin husen Al'atthos (khodim guru mulia
ketika di Darul Musthofa), yg beliau diceritakan
lgsg dari lisan Habib muhammad bin umar bin
muhammad bin salim bin hafizh Bsa (anak guru
mulia).

Satu waktu Murid guru mulia di brithania Inggris
membuat acara semacam seminar dlm satu
gedung yg berkapasitas 3000 peserta yg
kesemuanya dari kalangan Prof, DR, kalangan
terpelajar namun kesemuanya beragama non
muslim. Seperti biasa sebelum berceramah guru
mulia membaca Ratib al'atthos, membaca
maulid dhiyaaul laami' yg telah ada terjemahan
bahasa inggrisnya, disaat mahalul qiyaam semua
ikut berdiri dan hampir semua peserta menangis.
Selesai maulid guru mulia memberikan ceramah.

Akhirnya ceramah usai dan guru mulia pun
keluar dari gedung hendak menuju ke mobil,
sampai di mobil ternyata murid guru mulia dari
pihak crew event tersebut meminta guru mulia
untuk masuk kembali krn katanya jama'ah di
dalam gedung masih belum puas mendengar
ceramah guru mulia,akhirnya guru mulia balik
lagi ke gedung tersebut. Setelah beliau naik
panggung/podium lagi beliau bertanya ke seluruh
peserta seminar : kenapa kalian memanggilku
kembali?

Jawab peserta : kami ingin masuk Islam mengucapkan syahadat melaluimu.
Subhanallah. . . tidak kurang dari 2.900 peserta
masuk Islam.

“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina
Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari
wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa
shahbihi yannuur”

dan jangan Lupa membaca Al-qur'an, jangan
lewatkan seharipun tanpa membaca Al-qur'an

jadikan bacaan yg paling anda senangi, berkata
Imam Ahmad bin Hanbal, Cinta Allah besar pada
pecinta Alqur'an, dengan memahaminya atau
tidak dg memahaminya,.

Dari FB : Tim Dakwah Al-Bahjah


Sabtu, 26 Oktober 2013

SYAIR QASIDAH GUBAHAN ISTRI TERCINTA

Syair Qasidah Gubahan Sang Istri tercinta

Kabulkanlah bagi kami segala permohonan dengan
keberkahan sebaik-baik Hamba ( Rasulullah SAW )

Kabulkanlah bagi kami segala permohonan dengan
keberkahan Munzir Fuad

Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau lebih
mengetahui Akan kesedihan dan musibah kami dan
apa-apa yg ada didalam hati kami dari kekeruhan
dan keresahan.

Atas perpisahan dengan kekasih kami Sayyid
Munzir Fuad, Beliau Guru kami dan penyambung
disini ( dunia ) dan kelak di hari kiamat.

Maka hati - hati kami sedih dan menangis dan
pedihnya sakit ini ada dalam sanubari - sanubari
kami dan kami ridho terhadap ketentuan-Mu dan
keridhoan-Mu Ɣªήğ kami harapkan.

Maka perbaiki kami untuk menjadi sebaik khalifah
( penerus ) bagi beliau, Wahai Tuhan kami bersama
anak - anak beliau dan orang - orang yg mencintai
beliau Ɣªήğ mencari dan mengharapkan anugerah-
Mu.

Kekuatan dan kekuasaan adalah Milik-Mu. Wahai
Ɣªήğ Maha Tinggi lagi Dermawan kekasih kami
telah berjalan sebagaimana jejak kakek - kakek
beliau.

Dan bagi Majelis Rasulullah, beliau telah
membangunnya, beliau mengajarkan kami cinta
terhadap Musthofa SAW, sebelum cinta kepada
keluarga dan anak - anak kami.

Beliau menyinari sanubari kami dan menyinari
seluruh kota dengan nasihat dan kelembutan serta
cinta bagi mereka yg berhati keras dan bercerai
berai ( pun disinari oleh beliau )
Kemuliaan dan kedermawanan dari beliau telah
meluas pada setiap saat, memberi dan berinfaq
senantiasa tanpa membatasi ataupun menghitung.

Dan dengan senyuman beliau mengajarkan kami
beliau berikan (senyuman) bagi mereka yg cinta
maupun mereka yg hasad (dengki) dan dengan
Lafadz Jallah "Ya Allah" kami semua bersandar
pada beliau.

Dan Habib Umar adalah gurunya, Wahai Tuhanku
tambahkanlah anugerah pada beliau ( Al Habib
Umar ), secara zohir dan bathin senantiasa , Wahai
Tuhan kami berikanlah pertolongan dengannya ( Al
Habib Umar ).

Dan kumpulkanlah kami bersama dengan beliau,
Wahai Tuhan Wahai Ɣªήğ Maha Mulia, senantiasa
disetiap saat, saat ini ( didunia ) dan kelak di hari
kiamat.

Wahai kesedihan hatiku dan kerinduanku terhadap
Sayyid Munzir Fuad dengan Rahmat-Mu Ya Allah
sayangi beliau, kekasih kami yg berada dalam
sanubari kami.

Dan tinggikanlah kedudukan beliau dan jadikanlah
beliau pendampig sebaik-baik hamba ( Rasulullah
saw ) dan tempatilah beliau dalam tenda
perkumpulan Sang Thaha, Niscaya kebahagiaan
beliau akan bertambah
Betapa beruntungnya engkau Wahai Sayyidi telah
kau raih, derajat yg tinggi dalam cinta dan
kesedihan, kelelahan dan keresahan telah menjauh
darimu wahai Sayyidi.

Ya Rabb limpahkanlah sholawat dan salam tanpa
batas maupun hitungan atas Sayyidina Musthofa
saw dan keluarga beliau dan sahabat - sahabat
beliau serta bagi putera Fuad ( Al Habib Munzir bin
Fuad Almusawa).


Minggu, 13 Oktober 2013

KEADAANNYA BAGAIKAN CERMINAN DARI RASULULLAH SAW

GURU MULIA YG MEMANG PANTAS DIMULIAKAN...
BAGAIKAN BAYANGAN RASULULLAH SAW, DALAM
UCAPAN, PERBUATAN, PEMIKIRAN, DLL, YG BELIAU
PERBUAT, HABIBANA SUDAH MENGUBEK2 BUKU
MACAM MACAM RIWAYAT, DAN KESEMUA
PERBUATAN BELIAU ADA DISUNNAH NABI SAW.
SAMPAI YG SEKECIL KECILNYA..

beliau kini mengkhatamkan Alqur'an 2X malam dan
2X siang..
ketiks habibana saat nyantri disana, habibana
pemimpin kamar, yg setiap kamar ada 9 orang.
tiba tiba datang tetangga dariluar, dan mencari
nama suatu anak santri diantara yg ada, Guru
Mulia yg menemuinya dan menenangkannya, ia
marah karena anaknya yg sedang main dipelataran
pondok ditampar oleh salah seorang santri..
maka guru mulia mengajaknya kerumahnya, lalu
duduk dg orang itu, lalu guru mulia berkata,
kesalahan muridku aku yg akan menanggungnya,
ksrena mereka baru datang dari indonesia, mereka
mungkin belum bisa beradaptasi,
maka beliau menyingkap imamah (sorban dikepala)
yg sebelah kanan, dan mengajukan wajah bagian
kanannya untuk ditampar sepuasnya, demi
menebus kesalahan muridnya... silahkan.... kata
beliau dg sejuk...
maka orang itu menangis dan berkata : bukan anda
wahai tuan sayyid yg saya maksud, anda ulama
mulia, haram tangan saya menyentuh saja wajah
tuan sayyid.., maka guru mulia berkata, maka
maafkan muridku, jika tidak aku tidak akan
melepasmu keluar rumahku sebelum membalasnya
padaku..
sorot mata beliau teduh..., tapi cepat berpindah
kesana kemari, cermat dan sangat teliti
memperhatikan yg disekitarnya, apa orang orang
tua dan ulama sudah disuguhi kesemuanya, jika
ada yg belum maka lirikan tajam saja pada para
santrinya, sudah membuat santrinya gemetar dan
segera menyempurnakan suguhan pada
kesemuanya..

beliau seakan hanya khadim (pembantu) saja bagi
santri santrinya..
khususnya angakat habibana kan angkatakn
pertama, angkatan pertama ini masih lemah dalam
bahasa arabnya, maka beliau yg pergi dg mobilnya,
belanja segala macam, sampai es balok besar
besar, karena beliau tahu orang indonesia biasa
hidup ditempat sejuk, dan saat itu belum ada ac,
dan listrik hanya 4 jam sehari.
saat musim dingin beliau masuk ke rumah
kontrakan pondok, siapa diantara kalian yg tidak
punya selimut?, maka yg mengacung banyak..
maka beliau melirik mereka dan memberi isyarat
untuk ikut beliau kerumahnya, beliau mengeluarkan
4 selimut besar, ternyata masih kurang, beliau
mengeluarkan 3 selimut biasa, ternyata masih
kurang, dan terus demikian, hanya tinggal 1 orang
saja, dan itupun si santri udah ampun ampun agar
jangan merepotkan beliau lagi,
beliau tidak peduli, masuk dalam waktu lama,
keluar dngan sebuah selimut tebal tapi kecil..
semua sudah ada selimut..?, semua menjawab ya,,
maka tidurlah dengan tenang, cuaca dingin disini
menusuk..

esok harinya habibana dan beberapa teman2nya
dihardik oleh adik ipar beliau, kalian ini santri apa
badui tak beradabb??
para santri bingung.. maka ipar beliau berkata,
kalian memakai semua selimut didalam rumah ini,
Guru Mulia mengeluarkannya semua untuk kalian,
sampai yg terakhir adalah selimut milik bayi beliau
yg baru lahir, dan beliau beserta istri dan anak
anaknya tidur dalam satu sorban untuk bersama
sama...
temtu para santri tercenung malu... namun saat
beliau keluar beliau tak berubah sedikitpun, dan
berkata : bagaimana tidur kalian semalam?,
semoga tiada yg kedinginan lagi?
para santri hanya mengiyakan dg nada berat..

begitupula makan beliau, beliau tidak mau makan
sebelum santri santri makan, setelah santri makan,
maka sisa sisanya itulah makanan beliau dan
keluarganya..
disuatu malam putri beliau yg masih bocah
datang : adakah sisa makanan dari makan
malam...?, beberapa santri menjawab : habis..

tapi putri mulia itu mengintip kedapur, terlihat ada
bekas bekas mangkuk kuah yg sudah tidak ada
lauknya, dan beberapa potong roti yg sudah bekas
gigitan yg bertebaran dipiring besar dan roti2 itu
sudah mengering karena sudah berjam jam
dikeluarkan dari bungkusnya, (maklum disono nasi
lbh mahal dari roti),

maka bocah itu mengambil
makanan bekas itu dan membawanya kerumah
ayahnya.. sambil bernyanyi putri mulia itu
bersenandung : kami akan segera makan malam dg
keberkahan yg lebih besar dari semalam... ia
membawanya dg senang..

Rasul saw bersabda : Maukah kuberitahukan orang
orang mulia diantara kalian?, mereka yg jika dilihat
wajahnya akan membuat hatimu bergetar ingin
beribadah kepada Allah.. (Adabul Mufrad Imam
Bukhari)

tidak sabar rasanya ingin segera melihat wajah
itu.. cerah gembira di monas memandangi jamaah
dg penuh kasih sayang..


Jumat, 11 Oktober 2013

MANUSIA YANG TAK PERNAH MENGECEWAKAN ORANG LAIN

Manusia Yang Tak Pernah Mengecewakan Orang
Lain

Rasulullah SAW tidak pernah mau mengecewakan
orang lain. Sebagaimana diriwayatkan dalam
Shahih Al Bukhari bahwa pernah ada seorang
wanita, seorang budak wanita miskin dari Afrika
yang bernama Barirah, mengundang Rasul SAW
karena diberi makanan oleh salah seorang
sahabatnya makanan yang sangat enak.
Sebenarnya Barirah sendiri tidak pernah makan
hidangan yang lezat seumur hidupnya, karena ia
sangat miskin.

Maka ketika datang makanan enak, dia justru
teringat kepada Rasul SAW. Aku ingin
menghidangkan makanan yang lezat ini untuk
Rasulullah SAW, demikian sebuah pikiran yang
tulus melintas dalam benak Barirah.
Barirah yang susah ini pun datang mengundang
Rasul SAW ke rumahnya. Maka Rasul SAW yang
tidak pernah menolak undangan dari siapa saja,
datang bersama para sahabat untuk menyenangkan
hati Barirah. Rasul SAW tidak ingin mengecewakan
hati orang lain maka datang Beliau bersama para
sahabat.

Ketika tiba di rumah Barirah, saat para sahabat
melihat makanan yang sangat enak dan mahal,
mereka berpikir bahwa tidak mungkin Barirah
membelinya sendiri. Maka berkata para sahabat:
“Ya Rasulallah barangkali ini adalah makanan
zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan
zakat dan shadaqah. kalau bukan makanan zakat
ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh
memakannya.”

Berubah pucatlah wajah Barirah. Ia merasa
bingung, risau, bahkan juga malu mendengar
ucapan para sahabat itu. Hancur hatinya
mendengar kata-kata para sahabat itu, ia baru
teringat bahwa Rasul SAW tidak pernah memakan
makanan atau harta dari shadaqah dan zakat.
Hampir-hampir ia menangis karena hancur
perasaannya. Ia risau, takut serta kecewa dan
malu karena sudah mengundang Rasul SAW untuk
makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah
SAW.

Namun sebagaimana Rasulullah SAW adalah
manusia yang paling indah budi pekertinya dan
bijaksana, maka Beliau berkata: “Makanan ini betul
shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik
Barirah. Barirah menghadiahkan kepadaku, maka
aku boleh memakannya .“
Rasul SAW pun lalu memakannya.

Demikianlah jiwa yang paling indah yang tidak
pernah ingin mengecewakan para fuqara’. Itu
makanan sedekah betul untuk Barirah tapi sudah
menjadi milik Barirah dan Barirah tidak
menyedekahkannya padaku ( Rasulullah SAW ) tapi
menghadiahkannya kepadaku. Demikian indahnya
akhlak Sayyidina Muhammad SAW.

Firman Allah SWT :

ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴْﻢٍ

“Dan sungguh engkau ( Muhammad SAW ) berada
pada akhlak yang agung”.


Selasa, 08 Oktober 2013

SEMAKIN SEMPURNA JIWA YANG MENGENAL SAYYIDINA MUHAMMAD SAW


Habib Munzir Al Musawa:

Semakin seseorang dekat dan mengamalkan
sunnah Sang Nabi saw, dia akan semakin
sempurna dan demikian pula masyarakat. Semakin
meluas ajaran sunnah Nabi Muhammad Saw maka
akan semakin damai masyarakatnya. Beberapa
waktu yang silam diwilayah Shibam di Hadramaut
ada seorang qadhi (hakim). Di Shibam kebanyakan
ulama, shalihin banyak disitu. Qadhi (hakim) itu 20
tahun bertugas menjadi hakim di wilayah Shibam.
Setelah selesai jabatannya ia kembalikan semua
penghasilan bulanannya, karena hakim kan ada
gajinya, ada bulanannya dikembalikan yang selama
20 tahun. Dikembalikan kepada amir (pemimpin).
“Kenapa dikembalikan?” Hakim menjawab “saya
tidak bekerja. 20 tahun saya jadi hakim tidak ada 1
kasus pun”. Selama 20 tahun ia menjadi qadhi
(hakim), tidak satu pun ada pengaduan kepada
hakim.

Demikianlah masyarakat yang nabawiy, kalau
sudah masyarakatnya asyik dengan sunnah Nabi
Muhammad Saw tidak ada lagi hal – hal yang
bersifat munkar. Ada satu yang mencaci temannya
yang lain memaafkan, yang satu berbuat dholimi
yang lain menasehati. “Tidak ada 1 kasus pun”,
kata sang hakim. “20 tahun aku disini, tapi aku
makan penghasilan tiap bulan makan dikasih, aku
tidak mau memakannya karena aku tidak bekerja
sebagai hakim, aku ditunjuk jadi hakim selama 20
tahun disini tidak ada kasus 1 pun yang datang
kepadaku”. Demikian hadirin – hadirat, sampai ia
selesai dari jabatannya dan tidak ada 1 kasus pun
di wilayah itu, demikian indahnya masyarakat kalau
sudah berjalan dengan sunnah Nabi Muhammad
Saw. Allah berikan keberkahan, Allah berikan
keluasan.

Demikian hadirin – hadirat yang dimulaikan Allah,
Saya pernah berkunjung ke Pulau Bengkalis
diwilayah Riau. Pulau ini pulau yang kaya raya,
Sampai ditempat pertama kali yang saya Tanya
“bagaimana keadaan pulau ini?” mereka berkata
“Habib, di pulau ini tidak ada bar, tidak ada
diskotik, tidak ada café, tidak ada perjudian, tidak
ada tempat zina, tidak ada itu semua.” Kenapa?
Masyarakatnya tidak mau. Pernah buka disini bar,
diskotik tapi tidak laku, tutup sendiri karena
masyarakatnya tidak mau itu. Masjid ramai,
pesantren ramai, majelis taklim ramai. Ada orang
buka bar, buka diskotik tutup sendiri karena tidak
laku. Jadi Habib disini tidak ada tempat maksiat
karena masyarakatnya tidak mau. Subhanallah!!

Kaya raya, Allah limpahkan keberkahan
sebagaimana firman Allah “walaw anna ahlalqura
amanu wattaqa lafatahnaa a’laihim barakaati
minassamaai wal ardh” QS. Al A’raf : 76 (kalau
seandainya masyarakat itu beriman dan bertaqwa,
Allah limpahkan keberkahan dari langit dan bumi).


Jumat, 04 Oktober 2013

DOA DAN TAHLIL AKBAR 40 HARI GURU MULIA


Hadirilah doa dan tahlil 40 hari guru kita
Sulthonul Qulub Habibana Munzir bin Fuad Almusawa.

Sabtu, 26 oktober
2013, pukul 20.30 Wib, bertempat di Masjid At-
Taubah (makam Habib  Ahmad Bin Alwy Alhadad, Makam Kramat Habib Kuncung) kalibata, Jakarta selatan.


Jumat, 11 Maret 2011

KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA.KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA

KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA.KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA…oleh Al-Asyairah Al-Syafii

SEJARAH PERINGATAN MAULID NABI
Siapakah orang yang pertama menyambut maulid Nabi???
Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.
Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahawa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.
Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.
Hukum Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan kebaikan yang agung. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid`ah-bid`ah sayyi-ah yang dicela oleh syara’. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 Hijrah. Ini bererti perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak bererti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Kerana segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam sendiri. Para ulama’ menyatakan bahawa perayaan Maulid Nabi adalah sebahagian daripada bid`ah hasanah (yang baik). Ertinya bahawa perayaan Maulid Nabi ini merupakan perkara baru tetapi ia selari dengan al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi dan sama sekali tidak bertentangan dengan keduanya.
Dalil-Dalil mengenai Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadith nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari`at Islam. Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه مسلم في صحيحه)”.
Ertinya:
“Barang siapa yang melakukan (merintis) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala daripada perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya selepasnya, tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya).
Faedah daripada Hadith tersebut:
Hadith ini memberikan kelonggaran kepada ulama’ ummat Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam untuk melakukan perkara-perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Athar (peninggalan) mahupun Ijma` ulama’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian bererti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, bererti ia telah mempersempit kelonggaran yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada zaman Nabi.
2. Dalil-dalil tentang adanya Bid`ah Hasanah yang telah disebutkan dalam pembahasan mengenai Bid`ah.
3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan bahawa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
“أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ”.
Ertinya:
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (orang-orang Yahudi)”.
Lalu Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat baginda untuk berpuasa.
Faedah daripada Hadith tersebut:
Pengajaran penting yang dapat diambil daripada hadith ini ialah bahawa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Sama ada melakukan perbuatan bersyukur kerana memperoleh nikmat atau kerana diselamatkan dari bahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya. Bukankah kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?!
Adakah nikmat yang lebih agung daripada dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi’ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan kurniaan yang lebih agung daripada pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani.
4. Hadits riwayat al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Bahawa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari Isnin, beliau menjawab:
“ذلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ”.
Ertinya:
“Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
Faedah daripada Hadith tersebut:
Hadith ini menunjukkan bahawa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam melakukan puasa pada hari Isnin kerana bersyukur kepada Allah, bahawa pada hari itu baginda dilahirkan. Ini adalah isyarat daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam, ertinya jika baginda berpuasa pada hari isnin kerana bersyukur kepada Allah atas kelahiran baginda sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tersebut untuk kita melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahiran baginda, bersedekah, atau melakukan perbuatan baik dan lainnya. Kemudian, oleh kerana puasa pada hari isnin diulangi setiap minggunya, maka bererti peringatan maulid juga diulangi setiap tahunnya. Dan kerana hari kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam masih diperselisihkan oleh para ulama’ mengenai tanggalnya, -bukan pada harinya-, maka boleh sahaja jika dilakukan pada tanggal 12, 2, 8, atau 10 Rabi’ul Awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak menjadi masalah bila perayaan ini dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh al-Hafizh al-Sakhawi seperti yang akan dinyatakan di bawah ini.
Fatwa Beberapa Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah:
1. Fatwa al-Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadith al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani. Beliau menyatakan seperti berikut:
“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”. وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ”.
Ertinya:
“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukikanl daripada (ulama’) al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya (keburukan), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid`ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang thabit (Sahih)”.
2. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Suyuthi. Beliau mengatakan di dalam risalahnya “Husn al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid”. Beliau menyatakan seperti berikut:
“عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ”.
Ertinya:
“Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, merupakan kumpulan orang-orang beserta bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadith-hadith tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid`ah hasanah (bid`ah yang baik) yang melakukannya akan memperolehi pahala. Kerana perkara seperti itu merupakan perbuatan mengagungkan tentang kedudukan Rasulullah dan merupakan penampakkan (menzahirkan) akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya (rasulullah) yang mulia. Orang yang pertama kali melakukan peringatan maulid ini adalah pemerintah Irbil, Sultan al-Muzhaffar Abu Sa`id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al-Jami` al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun”.
3. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Sakhawi seperti disebutkan di dalam “al-Ajwibah al-Mardliyyah”, seperti berikut:
“لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ “بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ”. ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ”.
Ertinya:
“Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorangpun daripada kaum al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar sentiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai-bagai sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih daripada kebiasaannya. Bahkan mereka berkumpul dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara menyeluruh. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian al-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling sahih adalah malam Isnin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh kerananya tidak mengapa melakukan kebaikan bila pun pada siang hari dan waktu malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, bahkan baik jika dilakukan pada siang hari dan waktu malam bulan Rabi’ul Awwal seluruhnya” .
Jika kita membaca fatwa-fatwa para ulama’ terkemuka ini dan merenungkannya dengan hati yang suci bersih, maka kita akan mengetahui bahawa sebenarnya sikap “BENCI” yang timbul daripada sebahagian golongan yang mengharamkan Maulid Nabi tidak lain hanya didasari kepada hawa nafsu semata-mata. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak mempedulikan fatwa-fatwa para ulama’ yang saleh terdahulu. Di antara pernyataan mereka yang sangat menghinakan ialah bahawa mereka seringkali menyamakan peringatan maulid Nabi ini dengan perayaan hari Natal yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang dari mereka, kerana sangat benci terhadap perayaan Maulid Nabi ini, dengan tanpa malu dan tanpa segan sama sekali berkata:
“إِنَّ الذَّبِيْحَةَ الَّتِيْ تُذْبَحُ لإِطْعَامِ النَّاسِ فِيْ الْمَوْلِدِ أَحْرَمُ مِنَ الْخِنْزِيْرِ”.
Ertinya:
“Sesungguhnya binatang sembelihan yang disembelih untuk menjamu orang dalam peringatan maulid lebih haram dari daging babi”.
Golongan yang anti maulid seperti WAHHABI menganggap bahawa perbuatan bid`ah seperti menyambut Maulid Nabi ini adalah perbuatan yang mendekati syirik (kekufuran). Dengan demikian, menurut mereka, lebih besar dosanya daripada memakan daging babi yang hanya haram sahaja dan tidak mengandungi unsur syirik (kekufuran).
Jawab:
Na`uzu Billah… Sesungguhnya sangat kotor dan jahat perkataan orang seperti ini. Bagaimana ia berani dan tidak mempunyai rasa malu sama sekali mengatakan peringatan Maulid Nabi, yang telah dipersetujui oleh para ulama’ dan orang-orang saleh dan telah dianggap sebagai perkara baik oleh para ulama’-ulama’ ahli hadith dan lainnya, dengan perkataan buruk seperti itu?!
Orang seperti ini benar-benar tidak mengetahui kejahilan dirinya sendiri. Apakah dia merasakan dia telah mencapai darjat seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani, al-Hafizh al-Suyuthi atau al-Hafizh al-Sakhawi atau mereka merasa lebih `alim dari ulama’-ulama’ tersebut?! Bagaimana ia membandingkan makan daging babi yang telah nyata dan tegas hukumnya haram di dalam al-Qur’an, lalu ia samakan dengan peringatan Maulid Nabi yang sama sekali tidak ada unsur pengharamannya dari nas-nas syari’at agama?! Ini bererti, bahawa golongan seperti mereka yang mengharamkan maulid ini tidak mengetahui Maratib al-Ahkam (tingkatan-tingkatan hukum). Mereka tidak mengetahui mana yang haram dan mana yang mubah (harus), mana yang haram dengan nas (dalil al-Qur’an) dan mana yang haram dengan istinbath (mengeluarkan hukum). Tentunya orang-orang ”BODOH” seperti ini sama sekali tidak layak untuk diikuti dan dijadikan ikutan dalam mengamalkan agama ISLAM ini.
Pembacaan Kitab-kitab Maulid
Di antara rangkaian acara peringatan Maulid Nabi adalah membaca kisah-kisah tentang kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Al-Hafizh al-Sakhawi menyatakan seperti berikut:
“وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُقْتَصَرَ مِنْهُ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ فِيْ تَصَانِيْفِهِمْ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالْمَوْرِدِ الْهَنِيِّ لِلْعِرَاقِيِّ– وَقَدْ حَدَّثْتُ بِهِ فِيْ الْمَحَلِّ الْمُشَارِ إِلَيْهِ بِمَكَّةَ-، وَغَيْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ بَلْ ذُكِرَ ضِمْنًا كَدَلاَئِلِ النُّـبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِيِّ، وَقَدْ خُتِمَ عَلَيَّ بِالرَّوْضَةِ النَّـبَوِيَّةِ، لأَنَّ أَكْثَرَ مَا بِأَيْدِيْ الْوُعَّاظِ مِنْهُ كَذِبٌ وَاخْتِلاَقٌ، بَلْ لَمْ يَزَالُوْا يُوَلِّدُوْنَ فِيْهِ مَا هُوَ أَقْبَحُ وَأَسْمَجُ مِمَّا لاَ تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَلاَ سَمَاعُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بُطْلاَنُهُ إِنْكَارُهُ، وَالأَمْرُ بِتَرْكِ قِرَائِتِهِ، عَلَى أَنَّهُ لاَ ضَرُوْرَةَ إِلَى سِيَاقِ ذِكْرِ الْمَوْلِدِ، بَلْ يُكْتَفَى بِالتِّلاَوَةِ وَالإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ، وَإِنْشَادِ شَىْءٍ مِنَ الْمَدَائِحِ النَّـبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوْبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ وَاللهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ”.
Ertinya:
“Adapun pembacaan kisah kelahiran Nabi maka sepatutnya yang dibaca itu hanya yang disebutkan oleh para ulama’ ahli hadith di dalam kitab-kitab mereka yang khusus menceritakan tentang kisah kelahiran Nabi, seperti al-Maurid al-Haniyy karangan al-‘Iraqi (Aku juga telah mengajarkan dan membacakannya di Makkah), atau tidak khusus -dengan karya-karya tentang maulid saja- tetapi juga dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang mengandungi tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dala-il al-Nubuwwah karangan al-Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudhah Nabi. Kerana kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat-riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus mengeluarkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justeru sebaliknya orang yang mengetahui kebatilannya wajib mengingkari dan melarangnya untuk dibaca. Padahal sebenarnya tidak boleh ada pembacaan kisah-kisah maulid dalam peringatan maulid Nabi, melainkan cukup membaca beberapa ayat al-Qur’an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait-bait Mada-ih Nabawiyyah (pujian-pujian terhadap Nabi) dan syair-syair yang mengajak kepada hidup zuhud (tidak loba kepada dunia), mendorong hati untuk berbuat baik dan beramal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”.
Kesesatan fahaman WAHHABI yang Anti Maulid:
Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:
“Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik nescaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.
Jawab:
Baik, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tidak melakukannya, adakah baginda melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak semestinya menjadi sesuatu yang haram. Tetapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Disebabkan itu Allah ta`ala berfirman:
“وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا”. (الحشر: 7)
Ertinya:
“Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.
(Surah al-Hasyr: 7)
Dalam firman Allah ta`ala di atas disebutkan “Apa yang dilarang ole Rasulullah atas kalian, maka tinggalkanlah”, tidak mengatakan “Apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka tinggalkanlah”. Ini Berertinya bahawa perkara haram adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tetapi bukan sesuatu yang ditinggalkannya. Sesuatu perkara itu tidak haram hukumnya hanya dengan alasan tidak dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Melainkan ia menjadi haram ketika ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.
Lalu kita katakan kepada mereka:
“Apakah untuk mengetahui bahawa sesuatu itu boleh (harus) atau sunnah, harus ada nas daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam secara langsung yang khusus menjelaskannya?”
Apakah untuk mengetahui boleh (harus) atau sunnahnya perkara maulid harus ada nas khusus daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam yang menyatakan tentang maulid itu sendiri?! Bagaimana mungkin Rasulullah menyatakan atau melakukan segala sesuatu secara khusus dalam umurnya yang sangat singkat?! Bukankah jumlah nas-nas syari`at, baik ayat-ayat al-Qur’an mahupun hadith-hadith nabi, itu semua terbatas, ertinya tidak membicarakan setiap peristiwa, padahal peristiwa-peristiwa baru akan terus muncul dan selalu bertambah?! Jika setiap perkara harus dibicarakan oleh Rasulullah secara langsung, lalu dimanakah kedudukan ijtihad (hukum yang dikeluarkan oleh mujtahid berpandukan al-Quran dan al-Hadith) dan apakah fungsi ayat-ayat al-Quran atau hadith-hadith yang memberikan pemahaman umum?! Misalnya firman Allah ta`ala:
“وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”. (الحج: 77)
Ertinya:
“Dan lakukan kebaikan oleh kalian supaya kalian beruntung”.
(Surah al-Hajj: 77)
Adakah setiap bentuk kebaikan harus dikerjakan terlebih dahulu oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam supaya ia dihukumkan bahawa kebaikan tersebut boleh dilakukan?! Tentunya tidak sedemikian. Dalam masalah ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam hanya memberikan kaedah-kaedah atau garis panduan sahaja. Kerana itulah dalam setiap pernyataan Rasulullah terdapat apa yang disebutkan dengan Jawami` al-Kalim ertinya bahawa dalam setiap ungkapan Rasulullah terdapat kandungan makna yang sangat luas. Dalam sebuah hadith sahih, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه الإمام مسلم في صحيحه)
Ertinya:
“Barangsiapa yang melakukan (merintis perkara baru) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudah dia, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Sahih-nya).
Dan di dalam hadith sahih yang lainnya, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
“مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ”. (رواه مسلم)
Ertinya:
“Barang siapa merintis sesuatu yang baru dalam agama kita ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak”.
(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
Dalam hadith ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam menegaskan bahawa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan daripada sebahagian syari`atnya”. Ertinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari`at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam di dalam hadith di atas: “Ma Laisa Minhu”. Kerana, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya, maka perkara tersebut pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai`an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini, maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka bererti hal ini bertentangan dengan hadith yang driwayatkan oleh al-Imam Muslim di atas sebelumnya. Iaitu hadith: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan….”.
Padahal hadith yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim ini mengandungi isyarat anjuran bagi kita untuk membuat sesuatu perkara yang baru, yang baik, dan yang selari dengan syari`at Islam. Dengan demikian tidak semua perkara yang baru itu adalah sesat dan ia tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan melihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara`. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika ia menyalahi, maka tentu ia tidak boleh dilakukan. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan seperti berikut:
“وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ”.
Ertinya:
“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah (yang dicela) menurut tahqiq (penelitian) para ulama’ adalah bahawa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara` bererti ia termasuk bid`ah hasanah, dan jika tergolong kepada hal yang buruk dalam syara` maka berarti termasuk bid’ah yang buruk (yang dicela)”.
Bolehkah dengan keagungan Islam dan kelonggaran kaedah-kaedahnya, jika dikatakan bahawa setiap perkara baharu itu adalah sesat?
2. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi biasanya berkata: “Peringatan maulid itu sering dimasuki oleh perkara-perkara haram dan maksiat”.
Jawab:
Apakah kerana alasan tersebut lantas peringatan maulid menjadi haram secara mutlak?! Pendekatannya, Apakah seseorang itu haram baginya untuk masuk ke pasar, dengan alasan di pasar banyak yang sering melakukan perbuatan haram, seperti membuka aurat, menggunjingkan orang, menipu dan lain sebagainya?! Tentu tidak demikian. Maka demikian pula dengan peringatan maulid, jika ada kesalahan-kesalahan atau perkara-perkara haram dalam pelaksanaannya, maka kesalahan-kesalahan itulah yang harus diperbaiki. Dan memperbaikinya tentu bukan dengan mengharamkan hukum maulid itu sendiri. Kerana itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani telah menyatakan bahawa:
“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”.
Ertinya:
“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukil dari kaum al-Salaf al-Saleh pada tiga abad pertama, tetapi meskipun demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya. Barangsiapa dalam memperingati maulid serta berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal buruk yang diharamkan), maka itu adalah bid`ah hasanah”.
Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:
“Peringatan Maulid itu seringkali menghabiskan dana yang sangat besar. Hal itu adalah perbuatan membazirkan. Mengapa tidak digunakan sahaja untuk keperluan ummat yang lebih penting?”.
Jawab:
Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah… Perkara yang telah dianggap baik oleh para ulama’ disebutnya sebagai
membazir?! Orang yang berbuat baik, bersedekah, ia anggap telah melakukan perbuatan haram, yaitu perbuatan membazir?! Mengapa orang-orang seperti ini selalu saja berprasangka buruk (suuzhzhann) terhadap umat Islam?! Mengapa harus mencari-cari dalih untuk mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa mereka selalu sahaja beranggapan bahawa peringatan maulid tidak ada unsur kebaikannya sama sekali untuk ummat ini?! Bukankah peringatan Maulid Nabi mengingatkan kita kepada perjuangan Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dalam berdakwah sehingga membangkitkan semangat kita untuk berdakwah seperti yang telah dicontohkan baginda?! Bukankah peringatan Maulid Nabi memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dan menjadikan kita banyak berselawat kepada baginda?! Sesungguhnya maslahat-maslahat besar seperti ini bagi orang yang beriman tidak boleh diukur dengan harta.
4. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi sering berkata:
“Peringatan Maulid itu pertama kali diadakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tujuan beliau saat itu adalah membangkitkan semangat ummat untuk berjihad. Bererti orang yang melakukan peringatan maulid bukan dengan tujuan itu, telah menyimpang dari tujuan awal maulid. Oleh kerananya peringatan maulid tidak perlu”.
Jawab:
Kenyataan seperti ini sangat pelik. Ahli sejarah mana yang mengatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah sultan Salahuddin al-Ayyubi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.
Tujuan mereka yang berkata demikian adalah hendak mengharamkan maulid, atau paling tidak hendak mengatakan tidak perlu menyambutnya. Kita katakan kepada mereka: Apakah jika orang yang hendak berjuang harus bergabung dengan bala tentara sultan Salahuddin? Apakah menurut mereka yang berjuang untuk Islam hanya bala tentara sultan Salahuddin sahaja? Dan apakah di dalam berjuang harus mengikuti cara dan strategi Sultan Salahuddin sahaja, dan jika tidak, ia bererti tidak dipanggil berjuang namanya?! Hal yang sangat menghairankan ialah kenapa bagi sebahagian mereka yang mengharamkan maulid ini, dalam keadaan tertentu, atau untuk kepentingan tertentu, kemudian mereka mengatakan maulid boleh, istighatsah (meminta pertolongan) boleh, bahkan ikut-ikutan tawassul (memohon doa agar didatangkan kebaikan), tetapi kemudiannya terhadap orang lain, mereka mengharamkannya?! Hasbunallah.
Para ahli sejarah yang telah kita sebutkan di atas, tidak ada seorangpun daripada mereka yang mengisyaratkan bahawa tujuan maulid adalah untuk membangkitkan semangat ummat untuk berjihad di dalam perang di jalan Allah. Lalu dari manakah muncul pemikiran seperti ini?!
Tidak lain dan tidak bukan, pemikiran tersebut hanya muncul daripada hawa nafsu semata-mata. Benar, mereka selalu mencari-cari kesalahan sekecil apapun untuk mengungkapkan “kebencian” dan “sinis” mereka terhadap peringatan Maulid Nabi ini. Apa dasar mereka mengatakan bahawa peringatan maulid baru boleh diadakan jika tujuannya membangkitkan semangat untuk berjihad?! Apa dasar perkataan seperti ini?! Sama sekali tidak ada. Al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafizh al-Suyuthi, al-Hafizh al-Sakhawi dan para ulama’ lainnya yang telah menjelaskan tentang kebolehan peringatan Maulid Nabi, sama sekali tidak mengaitkannya dengan tujuan membangkitkan semangat untuk berjihad. Kemudian dalil-dalil yang mereka kemukakan dalam masalah maulid tidak menyebut perihal jihad sama sekali, bahkan mengisyaratkan saja tidak. Dari sini kita tahu betapa rapuhnya dan tidak didasari perkataan mereka itu apabila berkaitan dengan hukum, istinbath dan istidhal. Semoga Allah merahmati para ulama’ kita. Sesungguhnya mereka adalah cahaya penerang bagi umat ini dan sebagai ikutan bagi kita semua menuju jalan yang diredhai Allah. Amin Ya Rabb.


Selasa, 12 Januari 2010

sejuta pemuda putihkan jakarta

PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Kontributor: muhammad alfaqir 
Sunday, 10 January 2010

Sejuta Pemuda Putihkan Jakarta
Bersama Guru Mulia


ImageDua perhelatan spektakuler digelar secara marathon oleh Majelis Shalawat dan Dzikir pemuda terbesar di Jakarta yaitu Majelis Rasulullah SAW. Sebuah Majelis yang sangat aktif membina para pemuda untuk selalu mengedepankan kedamaian dan keluhuran dalam setiap aktifitasnya. Dan sudah seringkali membuat acara-acara Dzikir dan Shalawat Akbar bukan hanya di seantero wilayah Jabodetabek bahkan hingga jauh ke pelosok kota luar Jabodetabek.
Perhelatan pertama bertepatan dengan malam pergantian tahun masehi, acara digelar di Pintu Utama Gelora Bung Karno. Acara kali ini sangat istimewa karena di hadiri langsung oleh Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, tokoh ulama pendidik dari Kota Tarim, Hadramaut, Yaman. yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat muslim Indonesia dan Dunia. sebagai ulama pembawa kedamaian dan kelembutan, Jamaah yang sebagian besar adalah pemuda terlihat sangat antusias menyambut kehadiran Beliau sebagai tokoh panutan yang selalu dirindu kehadirannya. Acara dimulai dengan pembacaan Syair Maulid Adhiya Ullami karya Al Habib Umar Bin Hafidz, kemudian dilanjutkan dengan pengantar tentang apa dan siapa Al Habib Umar Bin Hafidz yang disampaikan oleh Habib Munzir bin Fuad Al Musawa. Setelah itu barulah acara inti berupa Tausyiah dari Al Habib Umar Bin Hafidz. Dalam tausyiahnya, Habib Umar Bin Hafidz mengajak seluruh jamaah untuk merenungi kembali sebab-sebab apa yang mendatangkan musibah dan bencana yang terjadi di seluruh dunia, yaitu semakin menjauhnya kaum muslimin dari tuntunan dasar yang disarikan dari Al Quran dan Hadist yg selalu mesti didasari kelembutan dan kasih sayang. Jamaah menyimak satu-persatu nasihat Habib Umar Bin Hafidz yang diterjemahkan oleh dua muridnya di Indonesia yaitu Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa dan Habib Jindan Bin Naufal Jindan.
Acara kemudian diakhiri dengan Dzikir bersama yang dipimpin Al Habib Umar bin Hafidz, terasa betul suasana khidmat jamaah menyimak dan mengikuti Dzikir-dzikir itu. Wilayah Gelora bung Karno yang biasanya pada malam pergantian tahun diramaikan oleh pemuda yang berhura-hura dengan terompet dan kembang apinya, malam itu berubah putih karena ratusan ribu pemuda pemudi pemuda berbondong-bondong penuh semangat menghadiri acara yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan tersebut.
Pada beberapa malam berikutnya, tepatnya hari senin malam tanggal 4 januari 2010, kembali sebuah perhelatan akbar digelar, kali ini mengambil tempat di Lapangan Monumen nasional (MONAS), tepat di jantung Kota Jakarta. Kurang Lebih satu juta pemuda pemudi kembali berbondong datang bergelombang dari seluruh penjuru Jabodetabek bahkan banyak pemuda yang sengaja datang dari wilayah-wilayah di Pulau Jawa dan Luar Jawa.
Selain dihadiri Al Habib Umar Bin Hafidz beserta rombongan, terlihat juga hadir beberapa pejabat pemerintah, seperti Menteri Agama dan beberapa Menteri Kabinet dan Gubernur DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Bapak Fauzi Bowo yang dalam sambutannya mengatakan bahwa Majelis Rasulullah SAW telah menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Jakarta, karena seringkali sukses menggelar acara yang positif untuk membina para pemuda dan menciptakan suasana damai dan religius di wilayah Jakarta.
Acara Inti diisi dengan Tausyiah Al Habib Umar Bin Hafidz yang mengajak seluruh jamaah untuk kembali dalam keluhuran dan menerapkan tuntunan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, kemudian di Akhir tausiahnya, Habib Umar Bin Hafidz memimpin Dzikir yang menggetarkan hati semua jamaah. Acara ditutup dengan doa bagi kebaikan seluruh bangsa, mendoakan kemakmuran dan dijauhkan dari segala musibah dan bencana, tangis dan gemuruh hadirin menyambut doa sang Imam mulia.
Di penghujung acara, Habib Munzir Al Musawa selaku Pimpinan Majelis Rasulullah SAW menyampaikan amanat berupa undangan dari Al Habib Umar Bin Hafidz untuk kembali menghadiri Acara Akbar yang Akan di gelar bertepatan dengan hari Lahirnya Rasulullah SAW di bulan Februari yang akan datang tepatnya pada 12 rabiul awal (26 februari 2010).
Dua perhelatan akbar telah usai, namun semangat dan nuansa kemuliaannya akan terus terasa dalam kalbu kurang lebih sejuta pemuda yang menghadirinya. (RE)


Minggu, 06 Desember 2009

maulid ad-dhya ulami

PDF Print
SocialTwist Tell-a-Friend

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atasnya serta Salam Sejahtera,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


بِسْمِ   اللهِ  الرَّ  حْمنِ   الرَّ  حِيمِ
أَعُو ذُ  بِاللهِ   مِنَ  الشَّيْطَانِ  الرَّ  جِيمِ

إِنَّا  فَتَحْنَا   لَكَ   فَتْحًا  مُبِينَا   *   لِيَغْفِرَ   لَكَ  اللهُ
مَا تَقَدَّ مَ مِنْ  ذَنْبِكَ  وَمَا  تَأَخَّرَ  وَ يُتِمَّ   نِعْمَتَهُ  عَلَيْكَ
وَ يَهْدِ يَكَ   صِرَ اطًا  مُسْتَقِيمًا  *  وَ يَنْصُرَ كَ   اللهُ
نَصْرً ا عَزِ  يزً ا  *
           
لَقَدْ جَاءَ  كُمْ   رَ سُو لٌ   مِنْ  أَ نْفُسِكُمْ  عَزِ  يزٌ  عَلَيْهِ
مَا عَنِتُّمْ     حَرِ يصٌ   عَلَيْكُمْ    بِالْمُؤْ مِنِينَ   رَ ءُو فٌ
رَ حِايمِ   *   فَإِنْ   تَوَ لَّوْ ا  فَقُلْ  حَسْبِيَ  اللهُ   لاَ إِلهَ  إِلاَّ
هُوَ  عَلَيْهِ   تَوَ  كَّلْتُ   وَ هُوَ  رَ بُّ  الْعَرْ شِ   الْعَطِيمِ    *

إِنَّ  اللهَ  وَ مَلاَ  ئِكَتَهُ   يُصَلُّو  نَ  عَلَى  النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا الَّذِ ينَ   آمَنُوا  صَلُّو ا  عَلَيْهِ  وَ سَلِّمُوا  تَسْلِيمًا *

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

“ SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MEMBENTANGKAN BAGIMU (Wahai Muhammad saw) KEMENANGAN YANG GEMILANG. AGAR DIA ALLAH MENGAMPUNI DOSA-DOSAMU YANG TERDAHULU DAN YANG AKAN DATANG. DAN MENYEMPURNAKAN NI’MAT NYA ATASMU (Wahai Muhammad saw), DAN DIA (Allah) MEMBERIMU PETUNJUK KE JALAN YANG LURUS, DAN ALLAH AKAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN PADAMU DENGAN PERTOLONGAN YANG MULIA”,

“ SESUNGGUHNYA TELAH DATANG KEPADAMU UTUSAN DARI GOLONGANMU, DAN SANGAT BERAT BAGINYA (Muhammad saw) APA-APA YANG MENIMPA KALIAN, DAN SANGAT MENJAGA KALIAN (Dari Kemurkaan Allah dan Neraka), DAN IA SANGAT BERLEMAH LEMBUT DAN BERKASIH SAYANG ATAS ORANG-ORANG MU’MIN,
MAKA JIKA MEREKA INGKAR MAKA KATAKANLAH : CUKUPLAH PERTOLONGAN ALLAH BAGIKU, TIADA TUHAN SELAIN DIA, DAN KEPADA NYA AKU BERSERAH DIRI DAN DIA ADALAH PEMILIK ARSY YANG AGUNG”,

“ SESUNGGUHNYA ALLAH DAN PARA MALAIKAT NYA BERSHALAWAT ATAS NABI (saw), WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN BERSHALAWATLAH PADANYA, DAN BERILAH SALAM KEPADANYA DENGAN SEBAIK-BAIK SALAM SEJAHTERA”,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya.



اَلْحَمْدُ   لِلّهِ   الَّذِي   هَدَ انَا
بِعَبْدِه ِ  الْمُخْتَارِ   مَنْ   دَعَانَا
إِ لَيْهِ   بِاْلإِذْنِ   و َقَدْ  نَادَ انَا

لَبَّيْكَ   يَا  مَنْ   دَ لَّنَا  وَحَدَ انَا

صَلَّى   عَلَيْكَ   اللّهُ   بَارِ ئُكَ   الَّذِي

بِكَ  يَا  مُشَفَّعُ   خَصَّنَا  وَحَبَاَنا

مَعَ   آلِكَ  اْلأَطْهَارِ   مَعْدِنِ   سِرِّ كَ

اْلأَ سْمَى   فَهُمْ   سُفُنُ   النَّجَاةِ   حِمَاَنا

وَعَلَى   صَحَا بَتِكَ   الْكِرَ  امِ   حُمَاةِ   دِ يـْنِكَ  
       أَصْبَحُوْ ا   لِوَ لاَئِهِ   عُنْوَ اَنا
وَ التَّابِعِينَ    لَهُمْ   بِصِدْقٍ   مَا  حَدَى
حَادِي  الْمَوَدَّةِ   هَيَّجَ   اْلأَشْجَانَا
وَاللّهِ   مَا ذُ كِرَ   الْحَبِيْبُ   لَدَى  الْمُحِبِّ
إِلاَّ   وَ أَضْحَى   وَالِهًا  نَشْوَ انَا
أَيْنَ   الْمُحِبُّو نَ   الَّذِ  يْنَ   عَلَيْهِمُ
بَذْ لُ   النُّفُو سِ    مَعَ  النَّفَائِسِ   هَانَا
لاَ   يَسْمَعُو نَ   بِذِ  كْرِ   طهَ  الْمُصْطَفَى
إِلاَّ   بِهِ  انْتَعَشُوْا  وَ أَذْ هَبَ   رَاَنا
فَا هْتَا جَتِ   اْلأَرْ وَاحُ    تَشْتَاقُ   اللِّقَا
وَ تَحِنُّ    تَسْأَلُ   رَبَّهَا  الرّ ِضْوَ انَا
حَالُ  الْمُحِبِّيْنَ     كَذَا   فَاسْمَعْ   إِلَى

سِيَرِ   الْمُشَفَّعِ   وَ ارْ هِفِ   اْلآذَا نَا

وَانْصِتْ    إِلَى  أَوْ صَافِ   طهَ   الْمُجْتَبَى
وَاحْضِرْ   لِقَلْبِكَ    يَمْتَلِىْء   وِ جْدَ انَا
{ يَا رَ بَّنَا  صَلِّ    وَسَلِّمْ   دَ ائِمًا
عَلَى حَبِيْبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَعَانَا}

اللهـم صـل وسـلم وبارك عـليه وعـلى آلـه

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk,
Melalui Hamba- Nya yang terpilih(saw) yang telah menyeru kami

Kepada Nya dengan Izin Nya, dan sungguh Beliau (saw) telah menyeru kami,
Kami datang kepadamu Wahai Yang telah Menunjuki kami ke jalan yang benar (kami mendatangi panggilanmu Wahai Nabi saw), dan yang telah menyeru kami dengan Lemah Lembut dan Bahasa Indah,

Limpahan Shalawat padamu dari Allah yang telah Menciptakanmu,
Yang denganmu Wahai Pembawa Syafa’at, telah membuat kami Terpilih dan Terkasihi,

Juga pada Keluargamu yang Suci, sebagai Sumber-sumber Rahasiamu
Yang Tinggi, maka merekalah Bahtera Penyelamat yang Membentengi kami,

Dan pada Para Sahabatmu yang Mulia, yang menjadi Dinding Penyelamat bagi Ajaranmu dan Figur Panutan bagi Pencintanya (saw),

Juga terhadap para Tabi’in setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan jujur dan bersungguh-sungguh,
Sebanyak puji pujian Kerinduan yang Merobohkan Kesedihan,

Demi Allah tidaklah diperdengarkan Nama Sang Kekasih (saw) pada orang yang mencintainya,
Maka akan tersentak gembira dan hilanglah segala kesusahan,

Dimanakah Para Pecinta, yang mereka itu rela berkorban dengan Nyawa dan meremehkan hal-hal yang berharga (yang bersifat duniawi),

Tidaklah mereka mendengar sebutan Nama Thaahaa Al Musthafa (saw),
Maka bangkitlah Semangat dan hilanglah segala Kegundahan hati,
Maka Bergetarlah ruh-ruh merindukan perjumpaan, dan merintih memohon Keridhoan dari Tuhan Nya,

Begitulah keadaan para Pecinta maka dengarlah Perjalanan Hidup Sang Pembawa Syafa’at dan Konsentrasikanlah Pendengaran,

Maka Simaklah akan sifat-sifat Thaahaa (saw), Imam yang Terpilih
Dan hadirkanlah hatimu, niscaya terpenuhilah hatimu dengan Kerinduan padanya (saw),

Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya,
pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya




نَـبَّأَنَا  اللّهُ    فَقَالَ  :    جَاءَ  كُمْ
نُو رٌ   فَسُبْحَانَ    الَّذِي   أَنْبَانَا
وَالنُّو رُ   طهَ   عَبْدُ هُ   مَنَّ    بِهِ
فِي    ذِ كْرِ هِ   أَعْظِمْ    بِهِ   مَنَّانَا

هُوَ  رَ حْمَةُ   الْمَوْ لَى    تَأَمَّلْ   قَوْ  لَهُ

{ فَلْيَفْرَ  حُو ا} وَ اغْدُ  بِهِ  فَرْ حَانَا
مُسْتَمْسِكًا  بِالْعُرْ وَةِ   الْوُ  ثْقَى 
 وَ مُعْتَصِمًا   بِحَبْلِ   اللّهِ    مَنْ   أَنْشَانَ
وَاسْتَشْعِرَنْ   أَنْوَ ارَ   مَنْ    قِيلَ  :   مَتَى
كُنْتَ    نَبِيَّا،   قَالَ  :   آدَ مُ    كَانَا
بَيْنَ   التُّرَ ابِ   وَ بَيْنَ   مَاءٍ   فَاسْتَفِقْ
مِنْ   غَفْلَةٍ   عَنْ   ذَا  وَ  كُنْ   يَقْظَانَا
وَ اعْبُرْ    ِإ لَى   أَسْرَ ارِ   رَ بِّي   لَمْ   يَزَ لْ
يَنْقُلُنِي   بَيْنَ   الْخِيَارِ   مُصَانَا
لَمْ   تَفْتَرِ قْ   مِنْ   شُعْبَتَيْنِ   إِلاَّ    أَ نَا
فِي   خَيْرِ  هَا  حَتَّى   بُرُ و زِ يَ   آ نَا
فَأَنَا  خِيَارٌ   مِنْ   خِيَارٍ   قَدْ  خَرَ جْـتُ
مِنْ   نِكَا حٍ   لِي   إِلهِيَ   صَانَا
طَهَّرَ هُ   اللّهُ   حَمَاهُ   اخْتَارَ هُ
وَ مَا  بَرَ ى   كَمِثْلِهِ    إِ نْسَانَا
وَ بِحُبِّهِ  وَ  بِذِ كْرِ هِ  وَ النَّصْرِ  وَ التَّـ
                            ـوْ  قِيرِرَ بُّ الْعَرْ شِ  قَدْ   أَوْ صَانَا

{يَا  رَ بَّنَا   صَلِّ   وَ سَلِّمْ    دَ ائِمًا
عَلَى  حَبِيبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَ عَانَا}

اللهـم صـل وسـلم وبارك عـليه وعـلى آلـه

Maka telah datang kabar dari yang berfirman : “ TELAH DATANG KEPADAMU CAHAYA ….. “ (QS Al Maidah : 15), Maha Suci Yang Telah Mengabarkannya kepada kita,

Dan cahaya Thaahaa Hamba- Nya, terlimpahkan dengan mengingatnya (saw), maka Agungkanlah Sang Pemberi Anugerah,

Dia (saw) adalah Rahmat dari Sang Pencipta, maka renungkanlah Firman Nya : “ MAKA BERGEMBIRALAH KAMU “, (“KATAKANLAH : DENGAN DATANGNYA ANUGERAH ALLAH DAN RAHMATNYA MAKA DENGAN ITU KALIAN BERGEMBIRALAH“) maka bergegaslah untuk bergembira dengan Kedatangannya (saw),

Dengan berpegang teguh pada Tali terkuat (Al Qur’an dan Hadits) dan berusahalah senantiasa berada di Jalan Allah, yang telah menciptakan kita,
                                                                                                                                                     
Renungkanlah Cahaya cahaya (Rasul saw) yang ketika dikatakan kepadanya (saw) “sejak kapankah Kenabianmu ?” , maka sabdanya kenabianku sejak Adam As,

Masih berada diantara Air dan Tanah “, maka sadarlah kamu dari kelalaianmu itu dan bangkitlah sadar,

Maka fahamilah rahasia-rahasia Tuhanku yang selalu memindahkanku (saw) diantara Sulbi orang mulia ke sulbi orang yang mulia dan terpilih,

Tidaklah terpisah dari dua kelompok (Suku), terkecuali aku berada pada yang terbaik, begitulah hingga aku dilahirkan,

Maka aku adalah yang terpilih dari yang terpilih, dan aku terlahir dari pernikahan yang Tuhanku telah menjaganya,

Allah telah menyucikan (saw), serta menjaga dan memilihnya (saw), maka tidaklah pernah Allah memunculkan manusia menyerupainya (saw),

Dan dengan mencintainya dan mengingatnya serta membantu syari’atnya dan dengan penghormatan padanya (saw) Allah pencipta Arsy telah mewasiatkan kita,

Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya, Pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,

هذَا  وَ قَدْ   نَشَرَ   اْلإِ لهُ   نُعُوتَهُ

فِي  الْكُتْبِ   بَيَّنَهَا  لَنَا  تِبْيَانَا
أَخَذَ  مِيثَاقَ   النَّبِيِّينَ    لَمَا
آتَيْتُكُمْ   مِنْ  حِكْمَةٍ   إِحْسَانَا
وَجَاءَ   كُمْ   رَسُولُنَا   لَتُؤْ مِنُنَّ
وَ تَنْصُرُو نَ   وَ تُصْبِحُو نَ   أَعْوَ انَا

قَدْ بَشَّرُوْ ا   أَقْوَ ا مَهُمْ   بِالْمُصْطَفَى

أَعْظِمْ   بِذَلِكَ   رُتْبَةً   وَ مَكَانَا
فَهُوَ   وَ إِنْ   جَاءَ  اْلأَ خِيرُ   مُقَدَّ م ٌ
يَمْشُونَ   تَحْتَ   لِوَ اءِ   مَنْ   نَادَ انَا
يَا أُمَّةَ   اْلإِ سْلا َمِ   أَوَّ لُ   شَافِعٍ
                                وَ مُشَفَّعٍ   أَنَا  قَطُّ   لاَ   أَتَوَ انَى
حَتَّى  أُنَادَ ى   ارْ فَعْ   وَ سَلْ   تُعْطَ   وَ قُلْ
يُسْمَعْ   لِقَوْ لِكَ   نَجْمُ   فَخْرِكَ   بَانَا
وَ لِوَ اءُ   حَمْدِ  اللّهِ   جَلَّ   بِيَدِ ي
وَ  َلأَ وَّ لاً   آتِي   أَنَا الْجِنَانَـا
وَ أَ  كْرَ مُ   الْخَلْقِ   عَلَى  اللّهِ   أَنَا
فَلَقَدْ  حَبَاكَ   اللّهُ   مِنْهُ   حَنَانَا
وَ لَسَوْ فَ   يُعْطِيكَ   فَتَرْ ضَى  جَلَّ  مِنْ
مُعْطٍ   تَقَاصَرَ   عَنْ   عَطَا هُ   نُهَانَا
بِاللّهِ    كَرِّرْ  ذِ كْرَ   وَ صْفِ   مُحَمَّدٍ
كَيْمَا تُزِ  يحَ   عَنِ   الْقُلُو بِ   الرَّ انَا

{يَا رَ بَّنَا  صَلِّ   وَ سَلِّمْ   دَائِمًا
عَلَى  حَبِيبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَعَانَا}



اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه



Begitulah, dan telah Tuhan sebarkan tentang sifat-sifatnya (saw) dalam kitab kitab terdahulu dan Al Qur’an yang menjelaskannya dengan sejelas jelasnya,

Dia (Allah) telah mengambil Perjanjian dari para Nabi ketika telah Kudatangkan pada kalian Hikmah dan Kemuliaan,

Dan datanglah pada kalian (wahai para Nabi) Utusan Kami (saw) maka agar kalian (wahai para Nabi) beriman padanya, dan kalian (wahai para Nabi) mendukungnya (saw), dan agar kalian (wahai para Nabi) menjadi pengikutnya,

Dan bahwasannya Para Nabi terdahulu telah memberi kabar gembira pada umat umat mereka akan kedatangan nabi terpilih, maka Muliakanlah Martabat dan Kedudukkannya,

Maka apabila telah datang hari kiamat, para Nabi terdahulu berjalan di bawah naungan Panji Sang Nabi (saw) yang telah menyeru kita,

Wahai Umat Islam, aku adalah yang pertama Sebagai Pemberi Syafa’at dan yang Pertama menyebarkannya, dan tidaklah aku ragu dan memperlambat,

Hingga diserukan kepadaku (ketika bersujud memohon syafa’at) angkatlah kepalamu (wahai Muhammad), dan katakanlah permintaanmu niscaya Ku kabulkan permohonanmu dan bicaralah niscaya Ku dengar pembicaraanmu, sungguh Bintang Kemuliaanmu (Wahai Nabi saw) sungguh jelas dan terang,

Dan Panji Pujian kepada Allah Yang Maha Perkasa berada di tanganku (saw) dan aku (saw) adalah manusia pertama yang mendatangi surga- Nya,

Dan aku (saw) telah menjadi ciptaan yang paling mulia di sisi Allah, maka sungguh engkau (wahai nabi) telah terpelihara oleh Allah dengan kasih sayang- Nya,

“DAN AKAN DIA LIMPAHKAN KEPADAMU (saw) ANUGERAH KAMI HINGGA ENGKAU (saw) PUAS” (dan ayat ini) merupakan tanda kebesaran dari Yang Maha Pemberi, dan pemberian itu merupakan hal yang akal sulit untuk menerimanya (seperti banyaknya Mukzijat beliau saw),

Demi Allah ulang-ulanglah peringatan sifat-sifat Muhammad, agar menjadi penawar dan pengikis kotoran-kotoran hati,

Wahai Tuhan Kami Limpahlanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


لَمَّا دَ نَا وَ قْتُ   الْبُرُو ز ِ    ِلأَ حْمَدٍ

عَنْ   إِذْنِ   مَنْ   مَا شَاءَ هُ   قَدْ   كَانَـا
حَمَلَتْ   بِهِ  اْلأُ مُّ   اْلأ َمِينَةُ   بِنْتُ   وَ هـ
بٍ   مَنْ   لَهَا  أَعْلَى  اْلإِ لهُ  مَكَانَا
مِنْ   وَ الِدِ   الْمُخْتَارِ   عَبْدِ  اللّهِ  بْنِ
عَبْدٍ   لِمُطَّلِبٍ   رَ أَى  الْبُرْ هَانَا
قَدْ   كَانَا  يَغْمُرُ   نُورُ  طهَ   وَجْهَهُ
وَسَرَ ى  إِلَى  اْلاِ  بْنِ  الْمَصُونِ   عَيَانَا
وَهُوَ ابْنُ   هَاشِمٍ   الْكَرِ  يمِ   الشَّهْمِ  بْنِ
عَبْدِ  مَنَافٍ   اِبْنِ   قُصَيٍّ    كَانَا
وَ الِدُ هُ   يُدْعَى  حَكِيمًا  شَأْ نُهُ
قَدِ  اعْتَلَى   أَعْزِزْ   بِذ لِكَ  شَانَا
وَاحْفَظْ  أُصُو لَ  الْمُصْطَفَى  حَتَّى   تَرَى
فِي  سِلْسِلا َتِ   أُصُو  لِهِ   عَدْنَانَا
فَهُنَاكَ  قِفْ   وَ اعْلَمْ    بِرَ فْعِهِ     إِ لَى  السْـ
مَاعِيلَ     كَانَا  لِلأَبِ   مِعْوَ انَا
وَ حِينَمَا  حَمَلَتْ   بِهِ   آمِنَةٌ
لَمْ   تَشْكُ  شَيْئًا  يَأْ خُذُ   النِّسْوَ انَا
وَبِهَا  أَحَاطَ   اللُّطْفُ   مِنْ  رَ بِّ   السَّمَا
أَ قْصَى  اْلأَ ذَى  وَ الْهَمَّ   وَ اْلأَ حْزَ انَا
وَ رَ أَتْ   كَمَا  قَدْ  جَاءَ  مَا عَلِمَتْ   بِهِ
أَنَّ   الْمُهَيْمِنَ   شَرَّ فَ   اْلأَ  كْوَ انَا

بِالطُّهْرِ   مَنْ   فِي   بَطْنِهَا   فَاسْتَبْشَرَ تْ

وَ دَ نَا  الْمَخَاضُ   فَأُتْرِ عَتْ   رِ ضْوَ انَا
وَ  تَجَلَّتِ   اْلأَ  نْوَ ارُ   مِنْ    كُلِّ  الْجِهَا
تِ   فَوَ قْتُ   مِيلاَ دِ   الْمُشَفَّعِ   حَانَا
وَقُبَيْلَ   فَجْرٍ   أَبْرَ زَتْ   شَمْسُ  الْهُدَى
ظَهَرَ  الْحَبِيبُ   مُكَرَّ  مًا  وَ مُصَانَا

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُللهِ وَلاَ إلهَ  إِلاَ اللهُ وَاللهُ أَ كْبَرُ   أربعًا

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِـاللهِ الْعَلِيِّ الْعَطِيمِ  فِـي كُــلِّ لَـحْظَةٍ أَبَدًا

عَدَدَ خَلْـقِهِ وَرِضَا نَـفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْ شِهِ وَ مِدَادَ كَـلِمَاتِهِ.



Ketika telah dekat waktu kelahiran Ahmad (saw) dari Izin Nya, yang apabila menghendaki sesuatu tidaklah akan terhalang,

Ia (saw) berada di dalam kandungan Sang Ibu Aminah binti Wahb, yang baginya telah Allah Muliakan Martabatnya (sebagai ibu bagi sebaik baik ciptaan),

Dari ayah Sang Hamba yang terpilih (saw), yaitu (ayahnya itu) Abdullah bin Abdul Muthalib yang melihat tanda-tanda (Isyarat Kenabian),

Telah terjadi bahwa wajahnya (ayahnya) diterangi Cahaya Thaahaa (saw) yang kemudian berpindah kepada Sang Anak yang terjaga ini (cahaya itu) terlihat dengan jelas,

Dan dia adalah keturunan Hasyim yang Mulia dan Perkasa , putra Abdu Manaaf, Keturunan Qushay yang dahulu,

Ayahnya digelari Hakiim (orang yang adil) dan kepribadiannya telah termasyur, maka berbanggalah dengan kepribadian itu,

Dan hafalkanlah silsilah keturunan Nabi yang Terpilih hingga kau temukan silisilahnya pada (datuknya) Adnan,  

Apabila telah sampai kepada Adnan maka berhentilah, (bahwa setelah Adnan, banyak riwayat yang berbeda) dan ketahuilah bahwa nasabnya bersambung hingga Ismail As (putra Ibrahim As) yang telah menjadi pendukung Ayahnya (Ibrahim As),

Dan ketika Aminah (ra) mengandungnya (saw) tidaklah Ia (Ibundanya ra) merasa sakit sebagaimana keluhan wanita hamil,

Baginya (Aminah ra) selubung Kelembutan dari Allah Pemelihara Langit, hilanglah segala gangguan, kegelisahan dan kesedihan,

Kemudian ia (Aminah ra) menyaksikan sebagaimana yang telah diketahuinya, bahwa Yang Maha Pemelihara telah memuliakan Alam Semesta,

Dengan kesucian bayi di dalam kandungannya, maka iapun bergembira ketika telah dekat saat saat kelahiran, maka berluapanlah limpahan keridhoan Nya, (Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, 4X)

Maka Muncullah Cahaya Cahaya dari segala penjuru dan Detik Kelahiranpun tiba,

Beberapa saat sebelum terbitnya fajar Muncullah Matahari Hidayah, Lahirlah Sang Kekasih yang Termuliakan dan Terjaga,

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد             صَلَّى الله عَلَيْهِ  وَسَلَّم


يَا نَبِي  سَلاَ  مُ  عَلَيْكَ             يَا رَسُو ل   سَلاَ  مُ   عَلَيْكَ
يَا  حَبِيب  سَلاَ  مُ  عَلَيْك         صَلَو اتُ اللّه عَلَيْكَ

أَبْرَ زَ    اللّهُ    الْمُشَفَّع           صَاحِبُ   الْقَدْ رِ   الْمُرَ  فَّع
فَمَلاَ   النُّو رُ   النَّوَ احِي          عَمَّ   كُلَّ  الْكَوْنِ أَجْمَع
نُكِسَتْ    أَصْنَامُ    شِرْ كٍ        وَ بِنَا الشِّرْ كُ   تَصَدَّ ع
وَ  دَ نَا  وَ قْتُ   الْهِدَ ايَة          وَ حِمَى الْكُفْرِ تَزَعْزَ ع
مَرْ حَبًا  أَهْلاً  وَ سَهْلاً             بِكَ   يَا  ذَا  الْقَدْرِ  اْلأَ رْ فَع
يَا إِمَامَ   اهْلِ   الرِّ سَالَة           مَنْ   بِهِ   اْلآ فَاتِ  تُدْ فَع
أَنْتَ   فِي  الْحَشْرِ   مَلاَ ذٌ        لَكَ    كُلُّ   الْخَلْقِ   تَفْزَ ع
وَ يُنَادُ ونَ   تَرَ ى   مَا            قَدْدَهَى مِنْ هَوْلٍ أَفْظَع

طَلَعَ الْبَدْرُ  عَلَيْنَا                  مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَ دَاع
وَ جَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا              مَا دَ عَا لِلّهِ دَاع

فَلَهَا  أَنْتَ  فَتَسْجُد               وَ تُنَادَ ى   أشْفَع   تُشَفَّع
فَعَلَيْكَ   اللّهُ   صَلَّى             مَا بَدَ ى النُّو رُ  وَ شَعْشَع
وَ بِكَ   الرَّ حْمنَ   نَسْأَل        وَ  أِلهُ   الْعَرْشِ   يَسْمَع
يَا عَظِيمَ   الْمَنِّ   يَا رَ بّ        شَمْلَنَا بِالْمُصْطَفَى اجْمَع
وَ بِهِ   فَا نْظُرْ إِلَيْنَا                وَ اعْطِنَا  بِه   كُلَّ   مَطْمَع
وَ ا كْفِنَا  كُلَّ   الْبَلاَ  يَا         وَ ادْ فَعِ   اْلآ  فَاتِ   وَ ارْفَع

رَبِّ  فَا غْفِرْ لِي  ذ ُنُو  بِـي     بِبَرْكَةِ  الْهَادِي  الْمُشَفَّع

وَ اسْقِنَا  يَا  رَبّ    أَغِثْنَا         بِحَيَا  هَطَّالِ   يَهْمَع
وَ اخْتِمِ   الْعُمْرَ   بِحُسْنَى        وَاحْسِنِ الْعُقْبَىوَمَرْجَع
وَ صَلاَ ةُ   اللّهِ   تَغْشَى           مَنْ  لَهُ  الْحُسْنُ  تَجَمَّع
أَ حْمَدَ   الطُهْرَ   وَ  آلِه          وَ الصَّحَابَة   مَالسَّنَا شَع

 

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه



Bershalawat Allah kepada (Nabi) Muhammad
Bershalawat Allah padanya dan memberi salam sejahtera (3x)

Wahai Nabi salam sejahtera bagimu,  Wahai Rasul salam sejahtera bagimu.
Wahai Kekasih salam sejahtera bagimu,  Shalawat Allah bagimu.

Telah tiba dengan kehendak Allah sang penberi syafa’at, Yang memiliki derajat yang dimuliakan.
Maka limpahan cahaya memenuhi segala penjuru, Meliputi seluruh alam semesta.

Maka berjatuhanlah patung-patung berhala di ka’bah, Dan tumbanglah sendi-sendi kemusyrikan.
Maka dekatlah saat-saat petunjuk, Dan benteng kekafiranpun berguncang.

Salam sejahteralah atas kedatanganmu, Wahai sang pemilik derajat yang mulia.
Wahai Imam dan pemimpin para Rasul, Yang dengannya bencana-bencana terhapuskan.

Engkaulah satu-satunya harapan di hari Qiamat, Kepadamulah seluruh ciptaan berlindung dari kemurkaan Allah.Kemudian mereka datang memanggil-manggilmu dengan penuh harapan, Ketika menyaksikan dahsyatnya kesulitan dan rintangan.

Maka karena itulah engkau (SAW) bersujud kehadirat Tuhanmu,
Maka diserukan kepadamu berikanlah syafa’at, karena engkau diizinkan memberi syafa’at.

Maka atasmu limpahan shalawat dari Allah, Selama cahaya masih bersinar terang benderang.

Dan denganmu (SAW) kami memohon kepada Ar Rahmaan, Maka pencipta Arsy mendengar do’a kami.

Wahai pemberi anugerah yang mulia, Wahai Tuhan, Kumpulkanlah kami dengan AlMusthafa (SAW).

Dan demi Dia (SAW), maka pandanglah kami dengan kasih sayangmu, Dan berilah kami segala yang kami inginkan.

Dan hindarkanlah kami dari segala bencana, Dan jauhkanlah segala kesulitan, dan angkatlah sejauh-jauhnya.

Dan siramilah Wahai Tuhanku serta tolonglah kami, Dengan lebatnya curahan rahmat- Mu.

 

Dan akhirilah usia kami dengan husnul khatimah, Dan terimalah kami dengan baik saat kembali kepada- Mu

 

Dan terlimpahlah shalawat dari Allah,  Baginya (SAW) yang kepadanya terkumpul segala kebaikan.

Ahmad yang tersuci serta keluarganya, Dan sahabatnya sebanyak pijaran cahaya.

 

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,

 





الدعاء
DO’A PENUTUP

وَ  لَقَدْ   أَشَرْ تُ   لِنَعْتِ   مَنْ   أَوْ صَافُهُ
تُحْيِي  الْقُلُو بَ   تُهَيِّجُ   اْلأَ شْجَانَا
وَ اللّهُ   قَدْ   أَ ثْنَى  عَلَيْهِ    فَمَا  يُسَا
وِ ي  الْقَوْ لُ   مِنَّا  أَوْ  يَكُو نُ   ثَنَانَا
لَكِنَّ  حُبَّا  فِي  السَّرَ ائِرِ   قَدْ دَعَا

لِمَدِ يحِ   صَفْوَ ةِ   رَ بِّنَا  وَ حَدَ انَا

وَ إِذِ  امْتَزَ جْنَا  بِالْمَوَ دَّةِ   ههُنَا
نَرْ  فَعُ   أَيْدِ ي   فَقْرِ نَا  وَ رَ جَانَا
لِلْوَ ا حِدِ   اْلأ َحَدِ  الْعَلِيِّ    إِلهِنَا
مُتَوَ  سِّلِينَ   بِمَنْ  إِلَيْهِ   دَعَانَا
مُخْتَارِ هِ   وَ حَبِيبِهِ   وَ صَفِيِّهِ
زَ يْنِ   الْوُ جُو دِ   بِهِ   اْلإِ لهُ   حَبَانَا
يَا رَ بَّنَا      يَا رَ بَّنَا      يَا رَ بَّنَا
بِالْمُصْطَفَى  اقْبَلْنَا  أَ جِبْ   دَ عْوَ انَا
أَ نْتَ    لَنَا     أَ نْتَ   لَنَا     يَا ذُ خْرَ نَا
فِي  هذِ هِ   الدُّ نْيَا  وَ فِي  أُ خْرَ انَا
أَصْلِحْ   لَنَا  اْلأَ حْوَ الَ   وَ اغْفِرْ   ذَنْبَنَا
وَ لاَ   تُؤَ اخِذْ   رَ بِّ   إِنْ أَ خْطَانَا
وَ اسْلُكْ   بِنَا فِي   نَهْجِ   طهَ  الْمُصْطَفَى
ثَبِّتْ   عَلَى   قَدَ مِ   الْحَبِيبِ   خُطَانَا
أَرِ نَا   بِفَضْلٍ   مِنْكَ   طَلْعَةَ    أَحْمَدٍ
فِي  بَهْجَةٍ   عَيْنُ   الرِّ ضى  تَرْ عَانَا
وَ ارْ بُطْ   بِهِ   فِي   كُلِّ   حَالٍ   حَبْلَنَا
وَ حِبَالَ   مَنْ   وَدَّ  وَ مَنْ  وَ الاَ  نَا
وَ الْمُحْسِنِينَ   وَ مَنْ   أ َجَابَ   نِدَ اءَ نَا
وَ ذَوِ ي  الْحُقُو قِ   وَ طَالِبًا   أَوْ صَانَا
وَ الْحَاضِرِ ينَ   وَ سَاعِيًا  فِي   جَمْعِنَا
هَا نَحْنُ   بَيْنَ   يَدَ يْكَ   أَنْتَ   تَرَ انَا
وَ لَقَدْ  رَ جَوْ نَاكَ    فَحَقِّقْ   سُؤْ  لَنَا
وَ اسْمَعْ   بِفَضْلِكَ   يَا  سَمِيعُ   دُعَانَا
وَ انْصُرْ   بِنَا  سُنَّةَ   طهَ   فِي   بِقَا
عِ  اْلأَ رْضِ  وَ اقْمَعْ  كُلَّ   مَنْ   عَادَ انَا
وَ انْظُرْ   إِلَيْنَا  وَ اسْقِنَا    كَأْسَ   الْهَنَا
وَ اشْفِ   وَ عَافِ   عَاجِلاً   مَرْ ضَانَا
وَ اقْضِ   لَنَا  الْحَاجَاتِ   وَ احْسِنْ   خَتْمَنَا
عِنْدَ   الْمَمَاتِ   وَ أَصْلِحَنْ   عُقْبَانَا
يَا رَ بِّ    وَ اجْمَعْنَا   وَ أَحْبَابًا   لَنَا
فِي   دَ ارِكَ   الْفِرْ دَ وْسِ    يَا  رَ جْوَ انَا
بِالْمُصْطَفَى   صَلِّ   عَلَيْهِ   وَ آلِهِ
مَا  حَرَّ   كَتْ   رِ يحُ   الصَّبَا   أَغْصَانَا
سُبْحَانَ    رَ بِّكَ   رَ بِّ   الْعِزَّ ةِ    عَمَّا  يَصِفُونَ
وَ سَلاَ مٌ    عَلَى   الْمُرْ سَلِينَ
وَ الْحَمْدُ   لِلّهِ   رَ بِّ  العَالَمِينَ

Maka telah ku Isyaratkan untuk menyifatkan Budi Pekerti (Beliau saw) yang menghidupkan dan mengguncang luruhkan kegundahan,

Dan Allah Telah Memujinya maka apalah artinya pujian kita dan bagaimana (pujian kita ini) dinamakan pujian,

Akan tetapi cinta kasih dalam sanubari telah menuntut untuk memuji hamba Pilihan Pencipta kita yang telah menyeru kita dengan Kelembutan,

Maka setelah kita berpadu dengan cinta dan kasih sayang (terhadap Nabi saw) maka disinilah kita mengangkat kedua tangan kita yang hina dina untuk berdo’a dengan penuh pengharapan,

Kepada Tuhan Yang Maha Tunggal dalam Ke Esaan Nya, serta Maha Mulia dengan mengambil perantara pada yang telah menyeru kita Kepada Nya,

Hamba- Nya yang terpilih, Kekasih- Nya serta hamba- Nya yang Terkemuka dan sebaik-baik Ciptaan di Alam Semesta yang dengannya (saw) Allah telah menciptakan kita,

Wahai Tuhan kami, Wahai Tuhan Kami, Wahai Tuhan kami, Demi Nabi yang Terpilih Terimalah Kami dan Kabulkanlah Do’a Kami,

Hanya Engkaulah Harapan Kami, Hanya Engkaulah Harapan Kami, Wahai satu-satunya Tempat Memohon dan Harapan di Dunia dan di Akhirat kami,

Perbaikilah Keadaan Kami dan Ampunilah Dosa-Dosa Kami dan Janganlah Engkau Murkai Kami apabila kami berbuat kesalahan,

Dan jadikanlah kami selalu berjalan pada ajaran Nabi Thaahaa (saw) yang terpilih dan kuatkanlah serta tetapkanlah langkah-langkah kami pada jalan yang telah dilalui oleh Sang Kekasih,

Dan Perlihatkanlah kami Demi Anugerah dari Mu, Wajah Nabi Mu dalam Gemilangnya Kegembiraan dengan Pandangan Kasih Sayang serta Keridhoan yang selalu menaungi kami,

Dan ikatlah kami selalu dengan Beliau (saw) dalam segala gerak-gerik kami, dan juga orang-orang yang mengikuti kami dan mencintai kami,

Demikian pula orang-orang yang beramal shalih dan orang-orang yang mendengar da’wah kami, orang yang kami berhutang budi pada mereka dan orang-orang yang memohon nasehat dari kami,

Juga atas para hadirin dan penyelenggara, maka Wahai Allah Inilah kami di hadapan Mu dan Engkau Melihat Kami,

Dan bahwasanya kami Mengharapkan Mu, maka Kabulkanlah Permohonan kami dan Dengarlah demi Kemurahan Mu, Do’a Kami wahai Yang Maha Mendengar,

Dan Pilihlah Kami sebagai Penolong Sunnah Thaahaa (saw) di Seluruh Pelosok Bumi, dan Hancurkanlah semua yang memusuhi kami,

Dan Pandanglah Kami dengan Kasih Sayang Mu dan berilah kami minuman dari cangkir-cangkir (Mahabbah Rasul saw) dan Sembuhkanlah Penyakit yang ada pada kami dengan segera,

Dan kabulkanlah segala hajat kami dan akhirilah hidup kami dengan kebaikan dan jadikanlah kebaikan pula di hari kemudian,

Wahai Allah Kumpulkanlah Kami Bersama Kekasih-Kekasih Kami di surga Firdaus- Mu Wahai yang hanya kepada Nya harapan kami,

Demi Hamba (saw) yang terpilih yang Limpahan Shalawat selalu atasnya dan atas keluarga serta keturunannya sebanyak hembusan angin di pagi hari,

Maha Suci Tuhanmu Pencipta Yang Maha Memiliki Kekuasaan, dari apa yang mereka sifatkan,

Dan Salam Sejahtera atas Para Rasul,
Dan Segala Puji Bagi Allah Pencipta Seluruh Alam,


Peduli Acara MAJELIS RASULULLAH SAW Bank syariah mandiri 061-7121-494 a/n Munzir Almusawa_______Majelis Nisa di seketariat MAJELIS RASULULLAH SAW, setiap hari minggu pkl 14.00 WIB s/d selesai. Tausiah akan disampaikan langsung oleh AL ALAMAH ALHABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA. majelis kusus nisa/WANITA
Related Posts with Thumbnails
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More