Terima Kasih, Anda sudah mengunjungi blog Pecinta Rasulullah SAW, semoga Allah selalu Menanamkan Rasa Cinta dan Rindu kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW kepada Diri kita Hingga kita Wafat dalam Khusnul Khotimah AAMIIN.........
kritik dan saran : mufe.majelis@gmail.com_____Alamat lengkap Majelis Rasulullah SAW: jl. Cikoko Barat V, RT 03/05, NO 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770),

Minggu, 01 November 2009

Sebesar - Besarnya Kejahatan Diantara Muslimin

PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Friday, 23 October 2009
Sebesar - Besarnya Kejahatan Diantara Muslimin
Senin, 19 Oktober 2009


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ (صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Sungguh sebesar besar kejahatan diantara muslimin adalah orang yg mempermasalahkan hal yg tidak diharamkan, namun menjadi diharamkan sebab ia mempermasalahkannya” (Shahih Bukhari)



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَااْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا اْلجَمْعِ اْلعَظِيْمِ وَفي هَذِهِ اْلجَلْسَةِ اْلمُبَارَكَةِ جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مُتَّصِلِيْنَ بِنُوْرِ اْلمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Limpahan Puji ke hadirat Allah SWT Yang Maha Luhur, Yang Maha mengundang kita kepada cahaya pengampunanNya hingga hadir dan berkumpul untuk mendapat pengampunan dan kelembutan Ilahi yang ditebarkan kepada hamba-hambaNya sepanjang waktu dan zaman. Sampailah kita di malam yang agung ini kembali berkumpul untuk mendapatkan mutiara-mutiara Ilahi yang abadi, perhiasan yang termulia dan terindah seakan tidak terlihat mata namun terlihat oleh Yang Maha Melihat Maha Raja langit dan bumi, yang sangat dimuliakan oleh Allah perhiasan yang berharga di hadapan Allah dan hal itulah berupa tuntunan-tuntunan Nabi kita Muhammad SAW. Allah sangat menghargai dan menghormati perbuatan-perbuatan luhur, sekecil-kecil perbuatan bahkan sampai perbuatan yang seakan tiada artinya, sampai menyingkirkan duri dari jalan pun dihormati dihargai dan disyukuri oleh Allah kepada kita, ketika seseorang menyingkirkan duri dari jalan, Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :
فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَالله لَهُ . ( رواه البخاري
“ Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya”. ( HR. Bukhari )
Allah Maha tidak butuh pada perbuatan kita dan tidak pula butuh pada jasa kita, namun Sang Maha Baik berterima kasih atas perbuatan kita yang mau memperbaiki diri kita sendiri. Demikian indah dan cintanya Allah berterima kasih kepadamu karena engkau ingin membenahi diri, Allah yang berterima kasih. Berterima kasih karena kita ingin dekat denganNya, padahal Allah Maha tidak membutuhkan kita. Inilah Sang Maha Indah dan Sang Maha Sejahtera, dari namaNya lah berpijar segenap ciptaan dan kesejahteraan sepanjang waktu dan zaman, dan beruntung mereka yang mengikuti sang pembawa kesejahteraan Sayyidina Muhammad SAW . Maka kemenangan muncul mulai kebangkitan Sang Nabi dan terus keberhasilan dan keberhasilan, kesuksesan dan kesuksesan, kesuksesan seseorang dalam pribadinya selamat dari dosa, kesuksesan seseorang dalam pribadinya selamat dari musibah, kesuksesan suatu wilayah untuk terjauhakan dari suatu musibah, kesuksesan satu majelis atau satu halaqah atau kelompok masyarakat untuk mendapatkan ampunan Allah, kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirah, semua itu telah diberikan dan dikabarkan oleh Allah SWT di dalam firmanNya :
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا ¤ لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا ¤ وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح : 1-3
“ Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu denagn pertolongan yang kuat “. ( QS. Al Fath : 1-3 )
Maksudnya, kemenangan keberhasilan bukan hanya untuk Sang Nabi tapi untuk semua penerusnya hingga akhir zaman, kenapa? karena Rasul SAW tidak merasa sukses dan tidak merasa berhasil kalau beliau hanya berhasil sendiri lantas ummat selanjutnya sirna dan musnah. Terbukti bahwa ummat-ummat sebelum beliau ketika setelah Nabi mereka wafat satu dua generasi sirnalah ajaran dan tuntunannya, membutuhkan tuntunan Nabi yang lain. Berbeda dengan Sang Nabi yang telah diberi oleh Allah Fathan Mubiinaa yaitu keberhasilan yang berkesinambungan, keberhasilan yang sebaik-baiknya, semakin hari ummat beliau bukan makin berkurang tapi semakin bertambah, semakin hari ummat beliau SAW semakin banyak .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Para mufassir ( ahli tafsir ) membuka makna ayat kedua ini :
لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. ( الفتح : 2
“ Dan Allah mengampuni dosamu ( Muhammad SAW ) yang terdahulu dan yang akan datang”. ( QS. Al Fath : 2 )
Sebagian menafsirkan maknanya adalah dosa para sahabat beliau sebelum kebangkitan Sang Nabi dan dosa ummat beliau yang akan datang karena kesemuanya akan menemui Assyafa’ah Al ‘Uzhmaa (syafaat yg mulia) dari Nabiyyuna Muhammad SAW..
وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا. ( الفتح : 2
“ Dan Allah akan menyempurnakan untukmu kenikmatan dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus”. ( QS. Al Fath : 2 )
maksudnya adalah keberhasilanmu ( Muhammad SAW ) dan keberhasilan para penerusmu di dunia hingga akhirah dengan keberhasilan yang abadi dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus. Oleh sebab itu diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW bersabda :
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ . ( رواه البخاري
“ Masih ada sekelompok dari ummatku yang selalu tegak dalam kebenaran hingga datang pada mereka perintah Allah ( hari kiamat ) . ( HR. Bukhari )
Tiada akan pernah habis-habisnya ummatku ( Muhammad SAW ) itu, sekelompok dari ummatku terus ada dalam kebenaran, dalam kemuliaan dalam keluhuran, tidak bisa dibasmi habis sebagaimana ummat-ummat terdahulu tapi mereka terlihat jelas tidak terlalu sulit mencarinya, kelompok-kelompok pembawa kebenaran dan keluhuran dari ummat Nabi Muhammad SAW, hingga nanti mereka sampai di padang mahsyar mereka masih tetap terlihat dan ada . Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini, bahwa tiada akan ada habisnya sekelompok ummat yang mulia ini yang terus membawa kemuliaan dan mereka tidak tersembunyi tapi terlihat jelas muncul pada setiap waktu yang ada, kelompok-kelompok mulia yang membawa kebenaran sampai nanti akhir zaman, dan kelak akan lebih terlihat jelas di padang mahsyar para pengikut Sayyidina Muhammad SAW, para pecinta Rasulullah Ja’alanii Allahu Waiyyakum minhum ( Semoga Allah jadikan aku dan kalian diantara mereka ).
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul SAW dalam keadaan gundah, hingga Sayyidina Umar RA memberi salam kepadanya tidak dijawab satu dua kali dan yang ketiga maka Rasul SAW di waktu subuh itu berkata :
لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ الَّيْلَةَ سُوْرَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ . ( رواه البخاري
“ Sungguh telah turun kepadaku di malam ini satu surah yang agung, yang aku gembira dengan turunnya surah itu lebih daripada terbitnya matahari. ( HR. Bukhari )
Maka Sayyidina Umar RA berkata : surat apakah Ya Rasulallah?, maka Rasulullah SAW berkata :
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا ¤ لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا ¤ وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح : 1-3
Dan Allah akan memberimu pertolongan dengan pertolongan yang mulia, pertolongan yang dahsyat pertolongan yang hebat, bukan hanya untuk Sang Nabi tapi juga untuk para penerusnya, karena kalau seandainya hanya pertolongan untuk sang Nabi maka tentunya pertolongan itu tidak sempurna karena setelah Rasul SAW maka akan selesai tidak ada pertolongan untuk para penerusnya, karena para penerusnya bersambung cita-citanya dan perjuangannya dengan Sang Nabi SAW maka mereka pun terikat erat dengan hal ini, hal ini disebut dengan hukum taba’iyyah yaitu bersamaan. Sebagaimana Rasul SAW ketika sampai ke ‘Arsy Ar Rahman sampai ke hadirat Allah SWT Rasul SAW tetap dengan sandalnya, ketika Nabiyullah Musa AS menghadap Allah di bukit Turisina maka Allah berkata :
إِنِّيْ أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِاْلوَادِاْلمُقَدَّسِ طُوَى . ( طه : 12
“ Sungguh Aku ( Allah ) adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci “. ( QS. Taha : 12 )
Sang Nabi sampai di ‘arsy Ar Rahman tidak diperintah untuk melepas sandalnya, bukan berarti sandalnya lebih mulia dari seluruh makhluk bagaiman Jibril kok tidak bisa naik tapi sandal Rasul SAW bisa sampai ke hadirat Allah?, hingga muncul satu syair “ Mana sih yang lebih mulia Jibril atau sandal Rasul? kok sandal Rasul bisa sampai ke hadirat Allah?, tentunya (sangat lebih mulia) Jibril AS, sandal hanya terbuat dari kulit kambing yang tidak ada artinya, tapi masalahnya karena terikat di kaki Sayyidina Muhammad SAW…!, ini adalah hukum taba’iyyah. Tentunya pakaian Rasul SAW yang dipakai beliau bukan berarti lebih mulia dari semua makhluk, tapi karena hukum taba’iyyah yaitu terikat di pakaian Sang Nabi, nah kalau sandal yang terikat di kaki beliau bisa sampai ke hadirat Allah, terlebih lagi jiwa yang terikat kepada Sayyidina Muhammad SAW…!
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح :3
“ Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang dahsyat “ . ( QS. Al Fath : 3 )
Maka semua ummat ini yang selalu berusaha membenahi diri, yang berusaha semampunya membenahi hari-harinya memperindah hari-harinya, maka ia akan berada dalam cahaya pertolongan yang dahsyat oleh Allah SWT, cahaya kesuksesan dan keberhasilan sangat dekat kepadanya, karena apa? Karena ia kebagian dari biasnya cahaya ayat yang turun ini ( QS. Al Fath ) . Rasul SAW tidak mau memecah beliau dengan ummatnya, dimana pun dan kapan pun disaat-saat apa pun “ Ummatii, Ummatii “, di saat sakaratul maut pun “ Ummatii, Ummatii “, bangkit dari padang mahsyar kalimat pertamanya “ Ummatii, Ummatii”. Sampai ketika di hadapan Allah pun beliau tetap melibatkan ummat beliau, ketika Allah berfirman :
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“ Salam sejahtera untukmu wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkahan “
Maka Rasul SAW menjawab :
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
“ Salam sejahtera untuk kami dan semua hamba Allah yang shaleh “
Diterima salam Allah itu dipecah untuk seluruh ummatnya dan hamba-hamba Allah yang shaleh, tidak lepas jiwa sang Nabi dari ummat beliau SAW hingga saat sakaratul maut pun seraya berdoa kepada Allah SWT :
شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِي وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
“ Wahai Allah pedihkan sakaratul maut ku dan ringankan untuk ummat ku “
Demikian Nabi kita Muhammad SAW . Rasul SAW memberikan satu tuntunan yang mulia dengan hadits ini kita mendapat peringatan dari Allah SWT lewat sang Nabi SAW :
إِنَّ أَعْظَمَ اْلمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْئٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ. ( رواه البخاري
“ Sebesar-besarnya dosa seorang muslim pada muslim lainnya itu adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan menjadi diharamkan karena ia mempermasalahkannya “. ( HR. Bukhari )
Hal seperti ini kata Rasul SAW adalah “ kejahatan muslim kepada muslim lainnya”. Yang harus berhati-hati muncul saudara-saudara di masa kini yang terus melarang hal-hal yang boleh, hal-hal yang mulia dilarang dan dikatakan syirik, dikatakan bid’ah dan lain sebagainya. Boleh tidak ziarah di pagi hari lebaran?, tentunya ziarah mau di siang hari, di malam hari, waktu puasa, waktu lebaran mau kapan pun ziarah itu sunnah. Rasul SAW bersabda :
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
“ Aku sudah melarang kalian ziarah kubur , tapi sekarang kalian berziarahlah “
Ini menunjukkan ziarah kubur itu sunnah, mau siang hari atau malam dan kapan pun. Maka orang mau ziarah di bulan puasa silahkan, ziarah di bulan Rajab tafaddhal, ziarah di hari lebaran tidak ada larangannya. Muncul orang-orang yang mengatakan tidak ada nashnya atau dalilnya ziarah hari lebaran tentunya mau ziarah kapan pun boleh, kalau mau dilarang mana dalilnya?
Hadirin hadirat…hati-hati terkena hadits ini orang-orang yang mempermasalahkan hal-hal yang tidak dilarang sampai menjadi dilarang gara-gara ia mempermasalahkannya. Orang-orang kumpul membaca shalawat pada Nabi SAW, berzikir bersama dikatakan syirik dikatakan bid’ah . Kumpul bersama, zikir bersama, Rasulullah SAW tidak pernah memperbuatnya, MasyaAllah!! Berapa puluh hadits riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim yang menjelaskan tentang zikir berjama’ah dimana Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi :
إِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلاَءٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ ... ( رواه البخاري ومسلم
“ Jika ia mengingatKu dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diriKu, dan jika ia mengingatKu dalam keramaian Aku mengingatNya dalam keramaian yang lebih baik yaitu diantara para malaikat muqarrabin “. ( HR. Bukhari dan Muslim )
Berarti berzikir bersama adalah hal yang sunnah dan mustahab, Rasul SAW juga banyak menyampaikan hadits-hadits tentang orang-orang yang berkumpul atau halaqah az zikr maka para malaikat diturunkan, hadits ini sering saya sampaikan, sampai Rasul SAW berkata firman Allah dalam hadits qudsi :
يَا مَلَائِكَتِيْ أُشْهِدُكُمْ أَنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ
“ Wahai para malaikat Kujadikan kalian saksi, sungguh Aku ( Allah ) sudah mengampuni dosa mereka”
Demikian hadirin hadirat, bagaimana kelompok zikir dikatakan bid’ah, berzikir bersama dengan satu suara menyebut “ Yaa Allah “ , Rasul SAW tidak pernah berbuat seperti itu , Masyaallah!! Zikir bersama mau ditanya lagi caranya seperti apa?? Zikir berjama’ah zikir bersama, adakah satu hadits yang melarang sebutan nama ALLAH digemuruhkan ?? bukankah panggung-panggung maksiat orang menggemuruhkan nama-nama orang yang tidak pernah sujud kepada Allah, bukankah mereka yang lebih berhak ditentang?! Apakah salah jika orang menggemuruhkan nama Allah, salahkah jika orang berkumpul untuk mengelu-elukan keagungan nama Allah?! Sungguh nama Allah lebih berhak digemuruhkan dan diangkat daripada semua nama makhluk, sungguh Allah pencipta seluruh makhluk dan namaNya lebih berhak di sebut dan digemuruhkan daripada nama makhlukNya. Oleh sebab itu, kita tidak mau seperti mereka berkumpul dalam dosa dan kemaksiatan, tapi jangan salahkan kelompok yang mengagungkan nama Allah SWT. Demikian pula telah banyak muncul pelarangan-pelarangan baru padahal hal itu tidak dilarang, jadi kesemua hal itu adalah boleh terkecuali yang ada larangannya. Kecuali ibadah, kalau masalah ibadah berupa As Syari’ah Al Mutahharah (Mutahharah : suci) tidak bisa ditambah misalnya shalat lima waktu ditambah menjadi enam waktu tentunya tidak bisa,demikian pula puasa ramadhan ditambah puasa wajib menjadi puasa Sya’ban dan Ramadhan itu tidak bisa (tetap hanya ramadhan yg merupakan puasa yg fardhu/wajib). Tapi kalau perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kebaikan, berkata Al Imam Ibn Rajab Hujjatul islam wabarakatul anam di dalam kitabnya Jaami;ul Uluum walhikam, bahwa firman Allah :
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . ( النحل : 90
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan , member bantuan kepada kerabat dan dia ( Allah ) melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia (Allah) memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran “. ( QS. An Nahl : 90 )
Beliau mengatakan ayat ini tidak menyisakan satu kebaikan kecuali sudah diperintah oleh Allah SWT apakah sudah ada di masa Nabi SAW atau belum ada. Dan ayat ini juga sudah melarang semua hal yang buruk apakah sudah ada di masa Nabi SAW atau belum ada. Ayat itu sudah menjadi sumbernya hukum untuk menjadi penjelas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, hal yang baik sudah diperintah oleh Allah SWT, yang ada di masa Nabi atau belum ada dan hal yang buruk sudah dilarang oleh Allah SWT baik yang ada di masa Nabi atau belum ada. Seperti narkotika belum ada di masa Nabi tapi kita dilarang, tentunya kalau dilarang itu bid’ah karena tidak ada di masa Nabi SAW?, tentunya tidak demikian, ada qiyasnya karena hal itu memabukkan .
Hadirin hadirat…

Demikian pula hal-hal yang mulia yang belum ada di masa Nabi, seperti penjilidan Al Qur’an Al Karim. Alqur’an itu dikumpulkan dalam satu penjilidan belum di masa Nabi SAW, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari ketika terjadi pembunuhan ahlul Yamamah banyak para sahabat yang hafal Alqur’an terbunuh pada saat itu, maka berkata Sayyidina Umar Ibn Khattab kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA “ Wahai Khalifah sebaiknya Alqur’an kita jadikan dalam satu buku saja”, karena di saat itu Alqur’an belum dijadikan dalam satu buku, tertibnya ( urutannya) sudah ada dari masa Rasul SAW, Rasul SAW telah berkata ini ayat tentang ini,,taruh ayat ini di surat ini, itu aturannya dari Rasul SAW semua. Tapi penjilidan menjadi satu buku tidak ada perintahnya dari Rasul SAW. Sahabat menghafalnya, ada yang menulisnya di kulit onta ada yang menulisnya di dinding dan lainnya, sebagian besar menjaga dengan hafalan. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : kaifa af’alu syaian lam yaf’alhu rasulullah ( bagaimana aku memperbuat suatu hal yang Rasulullah SAW tidak perbuatnya ), engkau ( Sayyidina Umar ) mengatakan agar Alqur’an dijadikan dalam satu buku sedangkan Rasulullah tidak memerintahnya, maka Sayyidina Umar berkata “ Demi kebaikan” kalau nanti sampai orang-orang yang hafal Alqur’an terus wafat dibantai dan habis, generasi setelah kita tidak mengenal Alqur’an engkau bertanggung jawab wahai khalifah Abu Bakr As Shiddiq “. Maka berkatalah Sayyidina Abu Bakr hattaa insyarah shadrii , hingga aku tenang dan akhirnya datang kepada Zaid bin Tsabit orang yang dipercaya, Wahai Zaid engkau orang yang baik yang kami ketahui mulai saat ini kuperintahkan engkau menulis dan menyalin Alqur’an. Dari riwayat semua Sahabat begitu banyak yang hafal Alqur’an di masa itu disalin, maka Zaid bin Tsabit berkata tiada tugas yang lebih berat dariku, lebih baik aku ditindih gunung daripada harus menjilid Alqur’an Alkarim Kalamullah SWT . Maka Sayyidina Zaid menulisnya dan selesai kemudian diresmikan di masa Khalifah Sayyidina Utsman bin Affan RA maka disebut mushaf ‘utsmanii yaitu diresmikan di masa khalifah Utsman bin Affan RA diakui oleh seluruh sahabat, Sayyidina Ali, Sayyidina Abbas, Sayyidina Abdullah bin Abbas dan lain sebagainya yang mengakui mushaf ‘utsmanii sebagai Kalamullah SWT yang sudah banyak dihafal oleh para Sahabat, cuma baru dituliskan.
Jadi kalau semua hal yang baru itu tidak boleh, berarti Alqur’an yang kita pakai itu tidak boleh karena Rasul SAW tidak memerintahkan untuk dibukukan, Rasul SAW menyuruh dihafalkan bukan dibukukan namun kita membukukannya, dan kemudian baru diberi harakat (titik penanda) oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib serta ditambahi titik-titiknya, mana huruf ba’, ta’, tsa’, nun..hal itu tidak diketahui sebelumnya, kalau para sahabat mengerti tapi yang bukan para sahabat yang tidak pernah mendengar dari Rasulullah SAW tidak tau mana yang ta’, mana yang tsa’ dan lain sebagainya , maka dibedakan mana jim, mana kha’ mana ha’ ditambahi titiknya di atas, di bawah dan demikian. Maka di masa khalifah Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Alquran diberi harakat fathah, kasrah , dhammah sebelumnya tidak ada harakatnya, orang dari luar bangsa Arab tidak tahu apa ini fathah atau kasrah atau dhammah, maka diberilah harakat.
Semakin kesini banyak orang yang di luar bangsa Arab yang masuk Islam tidak tahu artinya maka ditulislah terjemahannya, tambah kesini ditulislah tafsirnya nanti orang salah menafsirkan ayat ini, maka mulai para Imam menafsirkannya diantaranya Al Imam Thabari, Al Imam Qurthubi dan lainnya, Ini ayat kaitannya dengan hadits ini.. ini ayat maksudnya ini..jangan sampai orang mengatakan kok ini Alqur’an bertentangan yang ini bilang begini…yang itu bilang begini…tidak begitu, diperjelas hadits-haditsnya dan Asbaab Nuzul nya,
demikian hal itu tidak diperintah oleh Rasulullah SAW hal seperti itu boleh karena kebaikan, kalau dilarang bagaimana manusia memahami Alqur’an Alkarim ini dalam hal Alqur’an , demikian pula dengan hal-hal yang lainnya. Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :
وَاللهِ إِنِّيْ لَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الشِّرْكَ مِنْ بَعْدِيْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا .
“ Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian, yang aku takutkan kalian berebutan keduniawian “
Jadi zaman sekarang kalau muncul kata-kata hati-hati syirik, hati-hati syirik, katakan padanya Rasul SAW sudah tidak khawatir syirik dari dulu, tidak usah bicara syirik dan syirik Rasul SAW sudah bersabda : “ Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian “, apa yang ditakutkan Rasul?
وَلَكِنِّيْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا
“tetapi yang kutakutkan kalian berebut keduniawian “
Apa ini? Ini jawaban untuk kelompok yang selalu memusyrikkan muslimin muslimat, ini musyrik itu musyrik, memuliakan Nabi musyrik, tawassul musyrik, ziarah kubur musyrik, lihat Negara mereka, mereka berebut keduniawian dengan mendatangkan pasukan-pasukan non muslim untuk menghajar saudara muslimnya sendiri, berebut keduniawian. Sudah dijawab oleh Rasul SAW “ Aku tidak takut syirik menimpa kalian yang kutakutkan kalian berebut keduniawian”, saling hantam untuk mendapatkan keduniawian mendatangkan pasukan Amerika Serikat untuk menghantam saudara muslimnya sendiri, dibayar pasukan dari Luar Negeri untuk membantai saudara muslimnya sendiri. Rasul SAW telah berkata “ إِنِّيْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا ", aku takut kalian berebut dalam keduniawian saling hantam. Inilah jawaban dari Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari.
Rasulullah SAW menyampaikan apa yang akan terjadi dan tuntunan-tuntunan mulia kepada kita, namun saudara-saudara kita yang terjebak dalam kerusakan aqidah itu bukan untuk dimusuhi, tapi turut dibenahi. Kalau saudara atau teman kita sakit bukan dibunuh tentunya, tapi diobati. Jangan dimusuhi atau diperangi rangkul mereka kepada kebenaran semampunya, berhasil atau tidak kau sudah dapatkan pahalanya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Juga muncul banyak pertanyaan kepada saya tentang masalah “ isbal “ yaitu menjulurkan celana, sarung atau baju sampai di bawah mata kaki, berlandaskan hadits Nabi SAW :
لَايَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خَيَلاَءَ
“ Allah tidak mau melihat ( benci ) kepada orang yang pakaiannya menjulur sampai dibawah mata kaki “
Ini diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dan orang yang mengatakan hal itu haram karena mereka sepotong-sepotong memahami hadits , karena riwayatnya di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika Rasul SAW mengucapkan : لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلاَء , maka berkata Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq : “Ya Rasulallah pakaianku menjulur lebih dari mata kaki”, maka Rasulullah SAW berkata :إِنَّكَ صَنَعْتَ لَيْسَ خُيَلاَءَ , engkau perbuat itu bukan karena khuyala’ ( sombong ). Jadi di masa lalu ( bukan masa sekarang ), orang itu diketahui kaya atau miskin dengan pakaiannya, kalau pakaiannya di atas mata kaki itu rata-rata orang yang miskin. Kalau pakaiannya menjulur panjang di bawah mata kaki sampai ke tanah itu rata-rata orang kaya, kenapa? karena selalu naik kereta, selalu naik kuda tidak pernah jalan, selalu jalan di atas karpet saja (maka pakaiannya memanjang dibawah mata kaki karena memamerkan kesombongan akan kekayaannya), tapi kalau orang-orang susah sudah pasti jalan kaki tidak mungkin pakaiannya menjela pasti pakaiannya diatas mata kaki (karena lebih sering jalan ditanah),
“Ya Rasulallah aku memakai seperti itu”, maka Rasulullah menjawab : Engkau perbuat itu bukan karena kesombongan”. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kesombongannya, demikian yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalani di dalam Fathul Baari Bisyarh Shahih Al Bukhari.
Hadirin hadirat yang dimuliakn Allah…
Demikian pula yang sering ditanyakan adalah masalah tato, tentunya tato diharamkan oleh Allah SWT, karena tato itu menghalangi wudhu dan mandi wajib kita (hingga air tak sampai kekulit). Berbagai tato itu menghalangi sampainya air wudhu atau air mandi besar ke tubuh kita, maka hal itu dilarang oleh Nabi SAW seraya bersabda :
لَعَنَ اللهُ الوَاشِمَةَ وَاْلمُسْتَوْشِمَةَ
“ Allah SWT murka terhadap orang yang memakai tato dan orang yang bekerja untuk mentato “
Tapi kalau sudah dipakai tatonya lalu ia bertobat bagaimana? tidak bisa dihilangkan, bagaimana dengan wudhunya?, wudhunya tidak sah mandi besarnya tidak sah,
tentunya tidak demikian, para ulama’ kita diantaranya Al Habib Masyhur bin Al Hafidh mufti tarim kakak dari guru mulia kita menjelaskan bahwa hal itu dimaafkan kalau tidak ada cara untuk menghilangkannya.
(sebagian) Orang mengatakan ada cara untuk menghilangkannya, tapi dengan besi panas maka hal ini diharamkan, jadi memang wajib tato dihilangkan tapi kalau menghilangkannya harus menyakiti tubuh, maka tidak diperbolehkan di dalam syari’ah jadi dimaafkan saja, kalau ia sudah tobat ya sudah dimaafkan wudhunya sah, shalatnya sah, mandinya sah,
dan jangan risau, sungguh banyak pertanyaan pada saya, Habib saya tidak berani shalat, tidak berani ibadah karena saya ada tato dan saya tidak berani juga kalau dibersihkan dengan besi panas. Jalankan tobatmu, shalatmu dan segala ibadahmu Allah sudah sudah memaafkan kita insyaallah. Demikian hadirin hadirat namun memperbuatnya haram kalau belum diperbuat jangan diperbuat, kalau sudah diperbuat bertobatlah maka Allah sudah memaafkan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul SAW bersabda :
إِنَّ مِنْ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا
“ Orang yang paling kucintai diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya “
Berlomba-lombalah untuk menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah SAW. Saya tidak mampu menjadi orang yang berakhlak baik, tapi usahamu untuk mencapai akhlak yang baik sudah mendapatkan pahalaNya karena sudah berusaha menuju hal itu, sudah terikat dalam hal itu, sudah di jalan menuju kesana di dalam kelembutan Ilahi SWT . Orang yang sedang menuju dalam kebaikan lantas ia wafat di tengah jalan, ia sudah mendapatkan pahala kebaikannya. Demikian pula orang yang berusaha memperbaiki akhlak maka ia di dalam kelompok orang-orang yang dicintai Rasulullah SAW , seraya bersabda riwayat Shahih Al Bukhari إِنَّ مِنْ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا. orang yang sangat dicintai oleh beliau saw, dan ummat beliau di masa beliau dan di masa setelah beliau. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bagaimana cintanya para ummat sang Nabi, dan saya sering cerita bagaimana cintanya kaum Muhajirin dan Anshar, kaum lelaki cinta kepada Rasul SAW, kita lihat bagaimana cintanya kaum wanita Anshar kepada Rasul SAW. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa datang seorang wanita Anshar berkata kepada Rasul SAW :
يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ وَهَبْتُ لك مِنْكَ نَفْسِيْ
“ Wahai Rasulullah aku hadiahkan diriku untukmu ( untuk dijadikan budak Rasulullah SAW ) “.
Maka Rasulullah SAW terdiam dan hanya mengangguk-ngangguk saja, beliau bingung mau mengiyakan ia wanita, mau tidak diiyakan dia kecewa maka Rasul SAW diam lantas ada satu orang pria di samping Rasul SAW dan berkata : “Ya Rasulullah nikahkan saja ia denganku”, maka Rasul SAW melihat wanita itu dan berkata: engkau mau dinikahkan dengan pria itu? wanita itu menerima pria itu karena cintanya kepada Nabi Muhammad SAW , maka Rasul SAW berkata pada pria itu : Kau mau menikah dengannya,yang engkau punya apa? Pria itu berkata : tidak punya apa-apa wahai Rasul, maka Rasul SAW berkata : pulang ke rumahmu lihat ada apa, barangkali bisa dijadikan mahar , maka ia kembali tidak punya apa-apa wahai Rasul, walaupun hanya sekedar cincin besi tidak ada? Tidak ada wahai Rasul yang ada hanya pakaianku ini, maka sang Rasul SAW melihat wanita itu dan wanita itu tetap terima, maka Rasul SAW berkata : kalau begitu kau punya hafalan Alqur’an ?, pria itu menjawab : ada wahai Rasulullah, surat ini,,surat ini,,surat ini,,, maka kunikahkan kau dengan wanita ini dengan memberinya hafalan Alqur’an Al Karim, sang wanita terima bukan karena prianya tapi demi cintanya kepada Nabi Muhammad SAW, demikian hadirin hadirat kecintaan para shahabiyyah (sahabat nabi saw dari kaum wanita) kepada Nabi Muhammad SAW. Siapa yang mau terima seorang pria yang tidak ia kenal, tidak mempunyai apa-apa pula tapi demi cintanya kepada Muhammad Rasulullah SAW maka ia menerimanya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Demikian para sahabat RA, dikatakan bahwa Sayyidina Jabir Bin Abdillah RA ketika Rasul SAW sudah wafat, ia pergi perjalanan satu bulan untuk mendengar satu hadits Nabi Muhammad SAW yang belum pernah ia dengar, yaitu dari Abdullah bin Unays, ia pergi ke Syam satu bulan perjalanan, sampai di Syam ketemu dengan Abdullah bin Unays dan berkata Wahai sahabatku Jabir kenapa kau kesini? Maka Jabir berkata : “aku dengar kau punya satu hadits yang aku belum tahu”, (berkata Abdullah bin uneis ra) Jabir engkau datang kesini menempuh satu bulan perjalanan untuk satu hadits ? maka Jabir berkata “ أَخْشَى أَنْ أَمُوْتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ “ aku takut wafat sebelum aku mendengar satu hadits itu, demikian keadaan mereka di masa itu. Sekarang majelis ta’lim Jakarta ada lebih dari 2000 majelis ta’lim, masing-masing membahas hadits, fiqh, tajwid, tauhid. Silahkan hadirin hadirat..
zaman dahulu sahabat menempuh perjalanan satu bulan untuk mendengarkan satu hadits Nabi SAW, sampai berkata “أَخْشَى أَنْ أَمُوْتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ “, aku takut meninggal sebelum mendengar satu hadits itu, demikian indah dan cintanya mereka kepada hadits Nabi Muhammad SAW . Di sini dijelaskan Shahih Bukhari di majelis Rasul SAW , dan majelis ta’lim yang lainnya diperbanyak menjelaskan ilmu As Syari’ah Al Muthahharah kita tidak perlu perjalanan satu bulan, perjalanan beberapa menit, beberapa jam saja sudah sampai syukurilah kenikmatan ini.
Kita bermunajat kepada Allah, semoga Allah SWT memuliakan hari;hari kita dengan keluhuran, semoga Allah SWT memuliakan kita dengan pengampunan, semoga Allah SWT memuliakan kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirah, dan juga kita berdoa memohon kepada Allah SWT karena beberapa waktu mendatang sudah semakin dekat kunjungan guru mulia kita Al ‘Arif Billah Al ‘Allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh yang kita ajukan untuk tiba tanggal 31 Desember 2009 dan akan hadir Tabligh Akbar malam 1 Januari di Parkir Timur Senayan, InsyaAllah acara ini tuntas dengan baik dan sukses, kemudian haul Al Imam Fakhrul Wujud yang dihadiri beliau sendiri pada hari Ahad sebagaimana biasanya, lalu malam selasa di Monas tanggal 4 Januari Insyaallah acara ini sukses dan tidak ada halangan dari Allah SWT, tentunya saya juga berat menyampaikannya karena pengajuan ini masih belum pasti, tapi saya sampaikan demi memohon doa dari hadirin sekalian agara acara ini sukses dan terlaksana. Malam 1 Januari malam paling banyak yang bermaksiat di bumi Jakarta ini, kita sudah dikelilingi oleh bencana di Tasikmalaya, di Sumatera Barat, di Banten terus bencana mengelilingi Jakarta, ini paling banyak dosa di Jakarta malam 1 Januari malam paling banyaknya zina, banyak perjudian, dan narkotika di malam itu kita makmurkan dengan zikir akbar setiap tahunnya memang tetapi tahun ini insyaallah dihadiri oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, insyaallah menjadi gemuruh hujan hidayah bagi wilayah kita Jakarta khususnya agar menjadi kota yang paling damai dan dilimpahi rahmah dan juga untuk seluruh wilayah muslimin di negeri kita ini di barat dan timur, Amin Allahumma Amiin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا...
Katakanlah bersama-sama..
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ...يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ...لَاإِلهَ إِلَّا الله... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kita lanjutkan dengan mengenang kembali indahnya Nabi kita Muhammad SAW, Tafaddhal..
Terakhir Diperbaharui ( Friday, 23 October 2009 )


keadaan jenazah ketika wafat

PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Friday, 30 October 2009
Keadaan Jenazah Ketika Wafat
Senin, 26 Oktober 2009


قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ (صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Jika telah diletakkan jenazah untuk diusung di leher mereka, jika Jenazah orang shalih maka ia (ruh nya) berkata : percepatlah..!, jika bukan orang baik maka ia berkata : wahai celakalah tubuh, kemana mereka akan membawa tubuh ini..!, suara itu didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, jika manusia mendengarnya ia akan roboh pingsan/wafat” (Shahih Bukhari)



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَااْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذَا اْلجَمْعِ اْلعَظِيْمِ
Limpahan Puji ke hadirat Allah SWT Yang Maha Luhur, Maha penguasa tunggal dan abadi sepanjang waktu dan zaman , Maha menciptakan kehidupan dan Maha melimpahkan anugerah tiada berhenti dan rahmatNya yang tiada pernah terputus, berjuta-juta kenikmatan bagaikan rantai yang terus tersambung kepada kehidupan segenap hambaNya, kenikmatan hidup kenikmatan bergerak kenikamatan diam kenikmatan melihat dan lain sebagainya dari kenikmatan yang terus mengalir di muka bumi ini, bagaikan rantai-rantai kasih sayang Ilahi yang langsung bersambung kepada segenap hamba-hambaNya, dan itu merupakan seruan dan merupakan isyarat dan juga merupakan panggilan dari Allah SWT agar kita menerima cintaNya, menerima kasih sayang dan kelembutan Ilahi, sebagaimana firmanNya :
وَإِذَا سَألَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186
“ Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhamamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu”. ( QS. Al Baqarah : 186 )
Hadirin hadirat…فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ “Sungguh Aku ini Maha dekat”, karena memang selalu melimpahkan kenikmatan dan anugerah kepada hamba lebih daripada segenap hamba satu sama lain. Tiadalah seorang kekasih yang pemberiannya melebihi pemberiaan Allah kepada kekasihNya di antara makhluk dan lainnya, namun Allah Maha Raja alam semesta terus memberi dan menganugerahi hamba-hambaNya dan itu adalah bukti yang terjelas atas makna kalimat “ Sungguh Aku Maha dekat”, karena memang tidak ada yang lebih dekat kepada kita dari Allah SWT dan kedekatan tentunya bukan kedekatan jarak yang bisa dibatasi dengan jarak, tapi kedekatan ini adalah kedekatanNya yang teramat dekat melebihi segenap kasih sayang hamba satu sama lain, dan inilah maksudnya, فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ paling cepat memaafkan segenap kesalahan, paling cepat menjawab tobat dan penyesalan hamba diganti dengan maaf dan limpahan pahala, sebagaimana firman Allah SWT :
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ وَعَمَلَ عَمَلاً صَالِحًا فَألُئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا . الفرقان : 70 )
“Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan , maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. ( QS. Al Furqan : 70 )
Inilah Yang Maha baik dan tiada kasih sayang melebihi ini, kalau seandainya kita mempunyai orang yang bersalah kepada kita atau berbuat jahat kepada kita belum tentu kita memaafkannya, kalau kita maafkan pun apa iya kita akan memberi sekedar kesalahannya itu diganti dengan anugerah dan pemberian?? Itu hanya ada pada Allah SWT :
يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“ Allah ganti kejahatan (dosa) mereka dengan kebaikan “
Sebanyak apa dosanya di ganti dengan pahala, karena mau mendekat kepada Allah SWT. Semoga seluruh jiwaku dan kalian setiap waktu dan saat bercahaya dengan cahaya keinginan dekat dengan Allah SWT, yang dengan itu pengampunan dan anugerahNya dunia dan akhirah bathinan wa zhahiran selalu berlimpah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sampailah kita pada hadits mulia ini, dimana Rasul SAW menjelaskan bagaimana keadaan kematian, ketika seseorang telah wafat jika ia jenazah orang yang baik maka ketika jenazah itu di angkat dan diusung di atas leher orang-orang yang mengangkatnya di pundak mereka, maka di saat itu berkatalah ruh nya :
قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ
“ Percepatlah percepatlah (sampai ke kuburku)”
Karena ia tau ia akan sampai kepada kebahagiaan yang kekal, ia akan sampai kepada keluhuran, ia tak akan lagi menemui fitnah dan kesusahan, ia tak akan lagi menemui musibah dan masalah, selesai sudah. Maka ruh itu berkata “ percepat percepat kalian untuk menguburkan ku”. Kalau bukan orang yang shalih, orang yang banyak berbuat jahat maka ruh nya berseru :
يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُوْنْ بِهَا ( رواه البخاري
“ Sungguh celaka mau dibawa kemana jenazah ini “. ( HR. Bukhari)
Mau di bawa kemana jenazahku ini, mau di bawa kemana tubuhku ini betapa meruginya ia,celaka lah aku celakalah tubuhku yang penuh kesalahan ini karena akan dimintai pertanggung jawaban. Maka Rasulullah SAW bersabda suara itu di dengar oleh seluruh apa-apa yang ada di alam ini kecuali manusia,
يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْئٍ إِلَّا اْلإِنْسَانُ لَوْ سَمِعَهُ لَصَعِقَ ( رواه البخاري
“Segala sesuatu mendengar suara itu (jeritan ruh) kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya maka ia akan pingsan ”. ( HR. Bukhari )
Hadirin hadirat…
Dari hadits ini kita memahami dan sedikit memecah pertanyaan yang sering muncul kepada saya, apakah iya orang yang sudah wafat itu bisa menghantui? (jawabannya adalah) Tidak bisa, kecuali para shalihin. kalau orang-orang shalih, orang baik maka bisa saja ia mengunjungi keluarganya atau kerabatnya untuk menyampaikan wasiat bukan menghantui, kalau menghantui tidak bisa. Orang yang sudah wafat itu kalau dia orang yang banyak dosa maka ia dipenjara untuk menebus dosa-dosanya, kalau seandainya ia orang yang baik maka ia di istirahatkan. Jadi yang menghantui itu adalah makhluk ghaib yang disebut jin atau dari kaum syaitan bukan orang itu barangkali berwujud dengan wujud orang itu, nafikan (hilangkan/jangan percaya) segala hal seperti ini dari fikiran kalian. Orang yang wafat akan menjadi hantu, mengganggu manusia, jangankan mengganggu manusia, ia sibuk dengan dirinya sendiri tidak sempat mengganggu orang lain. Ketika ia berdosa ia sibuk bertanggung jawab atas dosanya tidak bisa mengganggu apalagi mendatangi orang lain.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Ingatlah suata saat kelak bahwa semua teman kita akan kita tinggalkan, dan di saat itu kita hanya sendiri bersama Allah. Coba kita renungkan jika seandainya dipastikan pada diri kita, kita akan berpindah ke suatu tempat ke suatu hutan belantara yang ada pemiliknya, di situ banyak binatang buasnya dan di situ juga ada istana-istana mewah, apa yang akan kau perbuat ? Surat sudah datang kepadamu pasti kau akan pindah di waktu yang kau tidak tahu, bisa saat ini, bisa besok,atau tahun depan tapi pasti datang, apa yang kita perbuat ? Kita akan pindah kesana, di sana itu tidak ada orang yang kita kenal kecuali hutan belantara tapi pemiliknya memberikan istana-istana yang mewah, tempat yang indah dan tempat yang mulia untuk tamu-tamu nya, kalau tidak menjadi tamunya kita di dalam hutan belantara yang penuh binatang buas yang belum tentu ada makanan dan barangkali ada jurang api, barangkali ada perangkap dan lain sebagainya, maka apa yang kita perbuat ? Tentunya kita ingin menjalin hubungan dengan sang pemilik tempat tersebut, agar apa ? Agar kita sampai disana menjadi tamunya yang mulia, (maka) lebih-lebih lagi di alam barzah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sebelum kita ingin menjalin hubungan dengan Allah, Allah SWT telah menawarkan jalinan hubungan dengan kita dengan Alqur’an Al Karim, dengan tuntunan para Nabi dan Rasul. Allah SWT pemilik alam barzah dan alam akhirah sudah menginginkan kita mendekat denganNya, ingin kau menjadi tamuNya yang mulia di dunia, tamunya yang mulia di alam kubur, tamunya yang mulia di alam barzah , tamunya yang mulia di alam akhirah nanti, ini sudah ditawarkan kepada kita, cuma kita yang terus menolaknya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Terimalah tawaran kasih sayang Ilahi ini, ingatlah nanti kita akan pindah ke tempat itu bukan tempat yang jauh bagaikan dua ruangan yang terpisah dengan satu pintu, masing-masing pindah semuanya akan melewati pintu itu pindah kesana, kalau ia orang yang banyak berbuat jahat maka keadaannya seperti orang yang tadi di sebut dalam hadits, ia berkata “sungguh celaka mau di bawa kemana jenazahku itu yang penuh dengan dosa, nanti akan dipertanggung jawabkan oleh Allah SWT”, tapi kalau ia orang yang baik, ia akan berkata “percepatlah aku ke kuburku, aku akan sampai ke tempat kebahagiaan”.<./p>
Hadirin hadirat…Di sana keputusan tergantung pada Yang Maha Abadi, Allah. Di mana tempat kita, apakah di dalam penjara alam kubur, penjara alam kubur lebih dahsyat dari penjara di dunia, (dan selain itu) ada yang ditidurkan, ada yang diperjumpakan dengan arwah kerabatnya yang sudah wafat juga, ada yang diperjumpakan dengan Rasulullah SAW, mana yang kau pilih, ini pilihan sudah di hadapan kita, A B C D E F mana yang kau pilih?, Hadirin hadirat..beruntung mereka yang memilih ingin bersama ruh Sayyidina Muhammad SAW, maka jawablah dengan perbuatan, jawablah dengan niat, jawablah dengan penyesalan atas dosa-dosa kita, jawablah dengan membenahi diri kita.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul SAW menyampaikan hadits ini, seraya Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, sebagian Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan kalau sampai suara itu di dengar oleh manusia maka akan mati, maka itu adalah jeritan jenazah yang pendosa, kalau jenazah yang shalih maka orang yang mendengarnya akan membuatnya tenang, namun pendapat lain di dalam Fathul Bari Al Imam Ibn Hajar menjelaskan pendapat yang kedua adalah bahwa manusia tidak bisa mendengar suara ruh, kalau manusia mendengar suara ruh maka mereka akan kaget dan terguncang ruhnya dan wafat, karena suara ruh jauh lebih tajam daripada suara lisan, karena suara ruh sudah di pendam di bentengi atau di saring oleh getaran pita suara, kalau seandainya suara ruhnya masih terdengar maka akan membuat manusia wafat, namun Al Imam Ibn Hajar menukil pendapat yang pertama bahwa suara ruh itu tidak bisa di dengar dan jeritan ruh para pendosa itu akan membuat manusia ketakutan. Demikian hadirin hadirat…tentunya kita berharap tidak satu pun diantara kita yang hadir ini dalam kehinaan di alam kubur. Semoga kita semua saat jenazah sudah di angkat,saat tubuh kita di usung ruh kita berkata قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ “ percepat, percepat”, segera mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Panjangkan usia kami dalam keberkahan dan kemakmuran dalam hidayah dan kasih sayangMu Ya Allah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Sayyidina Sa’ad ibn Ubadah RA sakit, Rasul SAW menjenguknya bersama Sayyidina Abdurrahman Ibn ‘Auf dan para sahabat lainnya, ketika sampai Sa’ad bin ‘Ubadah dalam keadaan sakit dan tersengal-sengal dan dikira sudah sakaratul maut maka Rasul SAW berkata “ apakah dia sudah menghembuskan nafas yang terakhir”?, maka para sahabat berkata “ tidak Wahai Rasulallah, belum wafat”, maka Rasul SAW melihat Sa’ad bin Ubadah lalu mengalirlah air mata Rasulullah SAW, para sahabat melihat Rasulullah SAW mengalirkan air mata, merekapun ikut menangis juga. Maka Rasulullah SAW berkata :
أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ . ( صحيح البخاري
“ Bukankah kalian mendengar? Bahwa Allah tidak mengazab air mata yang mengalir dan tidak juga hati yang sedih,akan tetapi Allah mengazab sebab ini ( sambil menunjuk ke lisannya SAW ) atau dikasihi sebab lisan. ( HR. Bukhari )
Maksudnya Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menangisi mayyit itu yang paling baik kalau tidak bisa bertahan maka jangan bersuara, cukup mengalirkan air mata saja, tapi jika bersuara pun hal ini bukan hal yang mungkar dan membuat mayyit tersiksa, tidak. Tapi yang diharamkan adalah niyaahah, niyahah itu sampai menarik rambut dan menjerit – jerit dan meronta-ronta lalu menyalahkan takdir, tidak menerima takdir, ini yang disebut niyahah. Kita lanjutkan hadits Rasul SAW
“ Tidakkah kalian mendengar suara tangisku ”< b>, kata Rasul SAW tentunya para sahabat mendengar. Maka Rasul SAW berkata Allah itu tidak akan marah kalau seandainya kita mengalirkan air mata kesedihan atau hati kita bersedih atas saudara kita yang wafat, tidak akan murka Allah, namanya kekasih di tinggal oleh orang yang dicintainya, anaknya kah, suaminya kah, temannya kah, tentunya ia menangis dan sedih, maka Allah tidak akan murka akan hal itu tetapi Allah bisa murka karena ini ( seraya menunjuk ke lidah beliau) atau mengasihani dan melimpahkan kasih sayang sebab lidah. Maksudnya apa? Allah SWT bisa murka karena ucapan kita, Allah juga bisa menyayangi kita karena ucapan kita , demikian pula jenazah, akan menyulitkannya kalau keluarganya terus tidak menerima takdir kematiannya ( misalnya berkata : aku tidak rela saudaraku ini mati, kenapa takdir begini, kenapa Allah tidak adil ) hal itu akan memberatkan jenazah, karena Allah akan menuntutnya, engkau tidak mengajari saudara, kerabat dan keluargamu tentang kesabaran? Dan sebaliknya Allah bisa mengasihi jenazah kalau di doakan oleh keluarganya dan kerabatnya .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..

أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ
Ingatlah ucapan ini, hati-hatilah Allah itu bisa murka atau melimpahkan kasih sayang karena ucapan lidah kita. Jadi, kelanjutannya adalah memperbanyak doa menambah kasih sayang Allah kepada kita, memperbanyak zikir menambah kasih sayang Allah kepada kita, oleh sebab itu berkumpul untuk mendoakan jenazah dan lain sebagainya sudah jelas hadits ini bisa di angkat sebagai dalil, bahwa orang yang di dalam kubur sungguh mendapat kasih sayang sebab lisan, ucapan zikir seperti tahlil dan lain sebagainya, dan tentunya di dalam seluruh mazhab telah berittifaq semua amal pahala yang dikirimkan kepada yang wafat sampai kepada yang wafat. Dan yang disebut putus amalnya adalah amalnya dia karena dia tidak bisa beramal lagi kecuali tiga hal saja yaitu shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya dan ilmu yang bermanfaat, selain itu tidak ada lagi dia bisa beramal, namun amal orang lain yang dikirimkan tentunya hal itu sampai dan hal itu sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelum semua orang melakukannya, bahkan Rasulullah SAW mengirimkan pahala untuk semua yang hidup dan yang wafat . Diriwayatkan dalam Shahih Muslim saat Rasulullah SAW menyembelih kurban seraya berkata :
اَللَّهُمَّ فَتَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَمِنْ آلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“ Wahai Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan dari seluruh ummat Muhammad “
Sembelihan untuk seluruh ummat beliau yang masih hidup,yang sudah wafat atau yang belum lahir di masa itu kebagian dari pahala kurbannya Rasulullah SAW, demikian hadits riwayat Shahih Muslim.
Hadirin hadirat…
Lantas hadits yang tadi disebutkan:

إِنَّ اْلمَيِّتَ لَيُعَذَّبَ بِبُكَاء أَهْلِهِ عَلَيْهِ
“ Sesungguhnya mayyit itu di siksa karena tangisan keluarganya atasnya”.
Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini, menukil beberapa hadits shahih bahwa yang dimaksud adalah di masa itu orang-orang yang akan wafat itu sudah berwasiat kalau aku wafat nanti tangisi, ada kelompok penangis yang memang tugasnya menangisi mayyit, maksudnya kalau seandainya orang-orang yang tidak baik maka tentunya banyak yang tidak menangis, maka dibayarlah orang-orang untuk menangisi mayyit itu, ini yang dimaksud dalam hadits tersebut. Makna yang kedua adalah orang yang minta ditangisi ketika ia wafat, nanti kalau aku wafat kalian harus menangisiku maka hal ini yang di maksud oleh Al Imam Ibn Hajar. Yang ketiga, orang yang tidak mengajari keluarganya untuk bersabar kalau seandainya ada kematian dari keluarganya. Namun pendapat yang terkuat adalah yang pertama dan yang kedua, dan yang ketiga ini bukan pendapat jumhur (jumhur : mayoritas) . Pendapat jumhur adalah dulu di masa jahiliyah ada orang yang sengaja membayar kelompok tertentu untuk menangisi, hal itu yang membuat mayyit tersiksa disebabkan perbuatan orang itu menangisi, tapi jika seseorang menangisi mayyit begitu saja hal itu terjadi di masa Rasulullah SAW, demikian juga para shahabat besar sebagaimana riwayat tadi Sa’ad bin Ubadah RA, namun karena Rasulullah menjenguknya ia belum wafat, maka di saat itu Sa’ad Bin Ubadah sembuh dari sakitnya dan tidak wafat.
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari ketika Sayyidina Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan ayahnya wafat , “ di saat ayahku wafat aku menangisi jenazah ayahku yang wafat, dan orang-orang melarang aku, supaya jangan menangis keras, tapi Rasullullah tidak melarangku “. Orang sedang menagis sedih mau dilarang dihardik lagi, Rasul SAW adalah orang yang paling lembut, beliau diam. Namun ketika datang Fathimah Ra (bibi Jabir bin Abdillah) maka ia menangisinya (tidak melarang/menghardik), lihat (bagaimana) cara Rasul untuk mendiamkan orang yang menangis , Rasul SAW tidak menghardik “keluar jangan tangisi mayyit..!!” beliau tidak berkata begitu, tapi beliau berkata :
تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ
“Engkau menangisi atau tidak menangisi jenazah ini, sungguh malaikat tetap menaunginya sampai kalian mengangkat jenazahnya “.
Lihat cara Nabi SAW menenangkan orang yang sedang dalam kesedihan, ditenangkan, maksudnya apa? Supaya berhenti tangisnya, supaya terhibur dari kesedihannya, bukan dihardik. Demikianlah akhlak Nabi Muhammad SAW ketika Sayyidina Jabir menangis, Rasul tidak melarang yang lain melarang sedangkan Rasul diam. Tapi ketika bibinya datang dan menagis, maka Rasul menenangkan denagn ucapan ini :
تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ
Demikian indahnya cara dan metode yang sangat luhur dan sempurna dari budi pekerti Rasulullah SAW.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, tentunya ini berkaitan dengan pertanyaan yang sering muncul tentang hadits Rasul SAW :
قَاتَلَ اللهُ اْليَهُوْدُ إِتَّخَذُوْا قُبُوْرَأَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“ Allah memurkai orang-orang Yahudi yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
Ini diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dan dijadikan dalil oleh sebagian saudara-saudari kita muslimin muslimat bahwa kuburan ulama di masjid haram hukumnya dan dimurkai Allah, tentunya tidak demikian makna dari hadits ini. Dijelaskan oleh Hujjatul Islam Wabarakatul Anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini adalah, bahwa yang dimaksud adalah menjadikan di atas kubur para Nabi sebagai tempat shalat, menginjak-injaknya atau menyembahnya, itu yang dilarang. Tapi kalau seandainya kuburan Ulama atau Shalihin di samping masjid atau di wilayah masjid hal itu tidak dilarang karena hal itu tidak ada larangannya, demikian yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari. Jadi, bertabarruk dengan para shalihin dan ulama dan juga barangkali pewakaf masjid menjadikan kuburan di dekat masjid hal itu tidak apa-apa. Dan dijelaskan pada Faidhul Qadiir menjelaskan bahwa berkata Al Imam Baidhawi bahwa kuburan Nabi Ismail adalah di Masjidil Haram justru orang thawaf disitu dan dijadikan tempat shalat, bahkan juga Masjid An Nabawy yang padanya terdapat kuburan Nabi Muhammad SAW, memang di masa Rasul SAW kuburan Nabi itu belum masuk menjadi wilayah masjid namun setelah perluasan di masa Khalifah Utsman bin Affan RA, diperluas di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Kw terus diperluas dan diperluas sampai lingkungan makam Rasul itu termasuk ke dalam lingkungan masjid, tapi kan tidak menginjak makamnya tentunya di situ ada temboknya, kan orang rukuk dan sujud di hadapannya kubur Rasul SAW hal itu sudah berjalan di masa para sahabat, hal itu sudah ada di masa Al Imam Bukhari , Al Imam Muslim dan Imam seluruh mazhab, para ulama dan para hujjatul Islam, jika hal itu munkar maka tentunya mereka tidak akan diam, bukan orang di zaman sekarang yang protes terhadap sesuatu yang sudah berjalan di masa Rasululullah SAW. Jadi yang dimaksud adalah menjadikan kubur para Nabi untuk disembah, demikian hadirin hadirat yang dijelaskan oleh Al Imam Bukhari dalam Shahihnya. Dan juga yang sering ditanyakan tentang hadits :
لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ اَلْمَسْجِدِ اْلحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى
" Janganlah memaksakan ( berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram dan Masjid ku ini ( Masjid Nabawy) dan Masjidil Aqsa”
Hadits ini sebagian saudara-saudara kita menjadikannya dalil larangan ziarah, tentunya beda. Dimana ziarah, dimana urusan Masjid Al Aqsa, Masjid An Nabawy dan Masjidil Haram. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini bahwa tidak ada larangan pergi ke masjid lain kalau disitu ada makam para shalihin atau bertabarruk padanya, yang menjadi makruh adalah mengkhususkannya untuk shalat, kalau untuk shalat tidak ada tempat yang lebih afdhal dari masjid itu, masjid di barat dan timur orang bilang kemuliaannya seperti apapun, tidak ada masjid yang lebih mulia shalat padanya daripada tiga masjid itu, Jadi semua masjid sama pahala shalatnya kecuali tiga masjid itu, jadi kalau datang ke suatu masjid untuk shalat di dalamnya, Rasul katakana semua Masjid itu sama hukum shalatnya jangan kalian terlalu bersemangat untuk mengunjungi masjid ini, atau masjid ini, itu makruh hukumnya bukan haram, kecuali tiga masjid tadi kalau ke Masjidil Haram, masjidil Aqsa, dan Masjid An Nabawy sangat bersemangat itu boleh. Tapi Al Imam Ibn Hajar menjelaskan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW berkunjung ke masjid Quba setiap hari sabtu, ini menunjukkan tidak ada larangan datang ke masjid manapun yang ingin kita kunjungi. Rasul SAW setiap hari sabtu datang ke masjid Quba dekat Madinah Al Munawwarah dan tidak pernah meninggalkannya, ini menunjukkan bahwa berkunjung ke masjid-masjid manapun ini boleh-boleh saja demikian ziarah shalihin, dan berkata Al Imam Ibn Hajar bahwa hadits ini juga membatalkan pendapat yang mengatakan larangan ziarah ke makam para shalihin dan masjid-masjid yang di bangun para shalihin, karena yang dimaksud larangan adalah kemuliaan masjidnya bukan shahib makam orang shalih yang ada di masjid tersebut, ziarah boleh-boleh saja.
Demikian hadirin hadirat dua hal yang saya sampaikan tadi, hadits tentang :
لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ, dan إِتِّخَاذُ اْلقُبُوْر مَسَاجِدَ
Mengenai kubah diatas kuburan, di dalam mazhab Al Imam Syafi’I bahwa hal itu tidak diperbolehkan kalau tanpa seijin pewakafnya, kalau pewakafnya mengizinkan maka tidak ada lagi larangannya. Namun hal itu mustahab (dianjurkan) bagi para Shalihin demikian yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawawy Hujjatul islam dan Imam lainnyabahwa dibuatnya kubah-kubah untuk para shalihin itu mustahab fih ( di sunnahkan).
Tentunya supaya orang yang ziarah kesitu tidak kepanasan dan tidak kehujanan, kalau mau berdoa atau apa maka tidak repot dan tidak terganggu, kasian para peziarah itu maka di bangun tempat untuk mereka, bukan untuk mereka yang wafat, mereka yang wafat sudah lewat dengan amal pahalanya, jika mereka mulia maka mereka akan dalam kemuliaan dan jika mereka hina maka mereka dalam kehinaan, namun orang yang berziarah kasihan, kalau banyak orang yang berziarah ke tempat itu kepanasan atau kehujanan dan lain sebagainya maka dibikinkan kubah saja untuk orang-orang yang hidup di dunia, kalau mereka yang wafat sudah di dalam istana kemegahan yang abadi di dalam kubur tanpa perlu ada kubah, demikian hadirin, tapi untuk orang biasa sebagian ulama bermazhab syafi’i mengatakannya makruh kecuali kalau tidak diizinkan oleh pewakaf maka tentunya menjadi haram hukumnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul SAW adalah manusia yang paling indah budi pekertinya, berkata salah seorang sahabat Ra ketika seorang wanita memberi kabar kepada Rasul SAW, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, bahwa putrinya wafat maka Rasul SAW berkata katakan pada wanita itu ittaqillah washbirii : bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, Allah mengambil apa yang dimilikiNya.

إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ( رواه البخاري
“Sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang Ia ambil dan kepunyaanNya apa yang Ia berikan dan segala sesuatu pada sisiNya itu ada ketentuannya”. ( HR. Bukhari )
Namun wanita itu mengirim lagi utusan kepada Rasul SAW dia belum bisa tenang atas kematian putrinya, maka Rasulullah SAW keluar bersama para sahabat untuk mengunjungi rumah duka, rumah jenazah. Sampai di rumah jenazah Rasul SAW tidak kuat menahan air matanya. Inilah yang saya sebutkan tadi bahwa Rasul SAW juga menangisi jenazah, menunjukkan hal ini tidak dilarang, maka Rasul menangis, kemudian para sahabat berkata “ Wahai Rasullullah engkau menangisi jenazah”?, Rasul berkata :
هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوْبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءُ
" Ini adalah kasih sayang yang dijadikan Allah pada setiap hati hambaNya, sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hambaNya yang penyayang”.
Ini kasih saying kata Rasul, dan orang punya kasih sayang dan Allah beri kasih sayang itu sebagai anugerah yang agung. Manusia yang paling berkasih sayang Nabi kita Muhammad SAW. Allah jadikan kasih sayang itu ada pada setiap hati hambaNya. Dan sungguh Allah itu mengasihani dan menyayangi orang-orang yang berjiwa kasih sayang, makin berkasih sayang seseorang, makin disayangi oleh Allah. Semoga Allah menyinari dan menerangi hati kita dengan cahaya sifat kasih sayang kepada seluruh makhluknya hingga Allah selalu berkasih sayang kepada kita.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW ini orang yang sangat peduli khususnya kepada fuqara’ , bagaimana Rasul SAW peduli kepada orang-orang susah,sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul saw sedang shalat dan selepas salam beliau langsung berdiri dan keluar dari shaf shalat, nah dalam hadits ini ada dua dalil yang bisa kita ambil, dalil yang pertama Rasulullah selepas shalat pasti berzikir dulu kenapa? karena ketika Rasul SAW selesai salam langsung keluar, maka para sahabat bertanya : “ ada apa Ya Rasulullah kok terburu-buru?” Rasulullah tidak menjawab terus keluar dari shaf shalat, menunjukkan bahwa Rasul SAW selepas shalat berzikir dulu. Kalau zaman sekarang orang yang mengatakan Rasulullah itu selepas shalat tidak berzikir , jadi berzikir selepas shalat itu hukumnya bid’ah? maka tentunya ia bertentangan dengan hadits ini.

Hadirin hadirat… Rasulullah SAW terus keluar tidak ikut berzikir bersama jama’ah selepas salam selesai shalat, ditanya tidak jawab, tidak lama kemudian beliau berjumpa dengan para sahabat, ditanya oleh para sahabat “ Ya Rasulullah tadi engkau terburu-buru, kenapa? seakan-akan ada sesuatu yang membuatmu terkejar-kejar selepas salam tanpa zikir dan doa langsung keluar meninggalkan shaf shalat “, maka Rasul SAW berkata: “tadi aku selepas salam teringat ada butiran kecil daripada perak kusimpan di rumah lupa belum ku sampaikan kepada orang yang berhak, belum ku sedekahkan”. Mungkin kalau kita sekarang sebutir kecil perak itu harganya hanya lima ratus atau seribu rupiah. Selepas salam teringat kalau itu belum disedekahkan kepada fuqara’ maka keluar dari shalatnya terburu-buru, demikian indahnya budi pekerti Nabi Muhammad SAW, kalau sudah urusan hak para fuqara’ beliau tidak akan melambatkannya tetapi segera terburu-buru menyelesaikannya, padahal sebutir kecil perak saja, apalagi kalau emas atau uang yang banyak.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bagaimana indahnya budi pekerti Nabi kita Muhammad SAW, ketika Rasul SAW didatangi seorang wanita yang membawa sebuah kain dan ia berkata ini aku tenun sendiri pakaian ini supaya engkau pakai wahai Rasulullah, maka Rasul SAW menerimanya dengan gembira dan senang, maka Rasulullah berterima kasih, dan wanita itu pergi kemudian Rasulullah pakai kain itu. Saat kain itu dipakai datang orang lain bersama para sahabat dan satu orang berkata : aku minta pakaian ini Ya Rasulullah, para sahabat lain marah mendengar hal itu, orang ini tidak punya akhlak kenapa? lagi di pakai oleh Rasul SAW diminta, pertama tidak punya akhlak kepada Rasul SAW, kedua lebih marah lagi karena mereka tahu bahwa Rasulullah tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta kepadanya, tidak pernah mengatakan tidak,
مَا سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ شَيْئًا قَطٌّ فَقَالَ لَا
“ Tidaklah sesekali Rasulullah dimintai sesuatu kemudian berkata “ Tidak”. (shahih Bukhari)
selalu memberi inilah Rasul SAW. Minta kepada orang yang tidak pernah menolak maka keterlaluan sekali kata sahabat kira-kira berkata seperti itu. Maka Rasul pun membukanya dan memberikannya. Maka para sahabat lain marah kepada orang itu dan sahabat berkata : tidak punya adab kamu ini, Rasulullah lagi pakai kau memintanya, maka orang itu berkata : bukan itu yang ku inginkan wahai sahabatku tapi aku ingin dikafani dengan pakaian yang telah di sentuh oleh tubuh Nabi Muhammad SAW, demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Maka ketika orang itu wafat ia dikafani dengan kain itu, karena ia ingin dikafani dengan pakaian yang sudah bersentuhan dengan kulitnya Nabi Muhammad SAW.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Manusia yang budi pekertinya paling indah dan Rasul SAW bersabda :

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا
“ Orang yang paling kucintai di antara kalian adalah orang yang paling bagus budi pekertinya” . (Shahih Bukhari)
Kita bermunajat kepada Allah SWT semoga Allah memuliakan kita di dunia dan akhirah , Rabbi..limpahkan kepada kami kebahagiaan, limpahkan kepada kami kekhusyu’an limpahkan kepada kami kedamaian Rabbi kami bermunajat atas namaMu yang Maha Indah ,namaMu Yang Maha Abadi, namaMu yang Maha Tunggal. Rabbi..dari namaMu terpecah seluruh kemuliaan di alam semesta sepanjang waktu dan zaman, yang dari ketentuanMu seluruh kejadian dan kehidupan. Wahai pemilik dunia dan akhirah. Wahai pemilik barzakh, wahai pemilik alam zhahir dan alam bathin, wahai pemilik setiap sanubari, wahai yang maha membolak-balikkan sanubari dengan kehendaknya, maka terangi jiwa kami dengan cahaya namaMu yang Maha Indah, terangi hari-hari kami dengan keindahan anugerahmu , terangi siang dan malam kami dengan cahaya pengampunanMu
اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا خَيْرَ مَا عِنْدَكَ بِشَرِّ مَا عِنْدَنَا فَضْلاً وَإِحْسَانًا
Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari anugerah yang akan Kau beri karena dosa-dosa kami, jangan sampi terhalang anugerah itu wahai Allah, terus sampaikan pada kami walaupun kami banyak berbuat dosa, tambahi pula anugerah kepada kami untuk ingin bertaubat, untuk ingin beristighfar untuk ingin membenahi diri, untuk ingin meninggalkan dosa. Ya Rabbi kami berdoa kepadaMu agar Kau amankan kami , amankan rumah tangga kami, amankan keluarga kami, amankan wilayah kami , tenangkan bumi Jakarta dari bahaya gempa dan jauhkan bumi Jakarta dari bahaya banjir dan bencana alam dan juga seluruh wilayah di negeri Indonesia ini, tenangkan bumi dari gempa tenangkan gunung daripada apinya, tenangkan hujan daripada membawa banjir dan musibah dan bencana alam lainnya gantikan Rabbi dengan guncangan jiwa yang menginginkan keluhuran jiwa yang terguncang dengan khusyu’ jiwa yang bergetar memanggil namaMu, Ya Rahman Ya Rahim..tenangkan alam semesta gemuruhkan jiwa dengan khusyu’ dan hidayah..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا...
Katakanlah bersama-sama…
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ...يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ...لَاإِلهَ إِلَّا الله... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ.


Jumat, 02 Oktober 2009

PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Thursday, 01 October 2009
Raja Dari Semua Istighfar
Senin, 28 September 2009


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.) قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
Raja dari semua doa mohon pengampunan adalah kau ucapkan : “(Wahai Allah, Engkau Tuhanku, Tiada Tuhan selain Engkau, Engkau yg menciptaku, dan aku adalah Hamba Mu, dan Aku ada pada janji dan sumpah setiaku (syahadat), dan aku berbuat semampuku (menunaikan janji dan sumpahku itu), aku berlindung pada Mu dari keburukan yg kuperbuat, aku sadari kenikmatan Mu atasku, dan aku sadari pula perbuatan dosa dosaku pada Mu, maka ampunilah aku, karena tiada yg mengampuni dosa kecuali Engkau). Barangsiapa yg mengucapkannya di siang hari dg mendalami maknanya lalu ia wafat dihari itu maka ia masuk sorga, barangsiapa yg mengucapkannya dimalam hari dg mendalami maknanya dan ia wafat sebelum pagi maka ia masuk sorga” (Shahih Bukhari)



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ، وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ، اْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا، بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ، وَقَدْ نَادَانَا، لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، الحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا اْلمَحضر، وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذِهِ اْلمُنَاسَبَةِ ...
Limpahan puji ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa, Maha raja langit dan bumi, Maha Suci Allah, Maha penguasa tuggal, Maha mencintai hamba Nya melebihi segenap kecintaan, mencintai mereka dan menyayangi mereka dengan kelembutan, mulai dari manusia tercipta dan mulai dari manusia berada dalam sel rahim ibunya, belum mengenal siapapun hanya Allah, Yang merangkai dan membangun tubuh kita dengan kesempurnaan sehingga lahirlah tubuh yang ada pada kita ini dengan kepemilikan tunggal dariNya,
tidak dirangkai dan dicipta oleh makhluk terkecuali oleh qudrah (takdir) Ilahi yang Maha Sempurna, sehingga terbentuklah tubuh mulia ini, anugerah yang luhur datang dari Rabbul ‘alamin, dititipkan kepada ayah bunda kita hingga kita lahir ke muka bumi dengan kasih sayangNya, dititipkan melalui bunda kita, kemudian manusia tumbuh dewasa,
Diantara mereka ada yang kufur (dan) ada yang shaleh, ada yang taat kepada Allah (dan) ada yang kufur kepada Allah, namun Sang Maha Penyabar tetap memberi dan memberi, Sang Maha Penyabar tetap memberi rizki walaupun Allah SWT difitnah dan dicaci, walaupun Allah SWT ditantang dengan kemungkaran dan dosa, namun Maha raja langit dan bumi yang maha lembut masih tetap memberi mereka rizki dan menawarkan pengampunan, menawarkan taubat, menawarkan kemuliaan tauhid bagi mereka yang mau menerima kasih sayang Ilahi untuk mendapatkan kasih sayang Nya yang abadi, yang dikhususkan bagi mereka-mereka yang beriman, yang dikhususkan bagi mereka yang mensucikan Allah, yang bibirnya bercahaya dengan zikrullah , yang panca inderanya dan tubuhnya dipenuhi hal-hal yang di ridhai Allah,
tersisa para pendosa tersisa para pembuat kemungkaran dan kehinaan masih di tawarkan bagi mereka pengampunan, dan selama mereka masih dalam Islam , masih menyembah Allah, tidak menduakan Allah dan tidak mengakui ada Nabi selain Muhammad SAW Khaatamul Anbiyaa’ Wal Mursalin, maka sebesar apapun dosa mereka di dunia, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan memberikan kesempatan bagi mereka penyucian dosa di dunia, jika tidak dibersihkan (dg musibah) maka akan dicuci dalam kubur dengan kehinaan, jika tidak terselesaikan akan dicuci di dalam api neraka dan setelah itu mereka akan sampai ke dalam surga yang abadi, demikian kasih sayang Ilahi terhadap kalian ummat Sayyidina Muhammad SAW wa baraka ‘alaih.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Allah SWT memuliakan hamba-hambaNya dengan bimbingan keluhuran , dengan manusia yang paling lembut dan berkasih sayang, dengan manusia yang paling ramah dan indah , Sayyidina Muhammad SAW …وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ , (dan Sungguh Engkau Wahai Muhammad berada pd Akhlak yg Agung” (QS Nun 4)
Seraya bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :
... إِنَّ أَحَدَكُمْ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِحَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجنةِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجنة حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا
Hadirin hadirat..
Rasul SAW bersabda diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari : “ Ada diantara kalian - tidak semuanya- beramal dengan amal-amal jahat dan hina, perbuatan penduduk ahli neraka, hingga jarak antara dia dan neraka hanya seperti satu hasta saja, namun Allah menghendaki berbeda maka Allah memberinya hidayah kemudian ia beramal dengan amalan ahli surga, maka masuklah ia ke dalam sorga. Dan sungguh ada di antara kalian yang beramal dengan amal ahli sorga hingga jarak antara dia dan sorga hanya satu hasta saja, namun didahului oleh ketentuan Allah maka ia pun berubah dan di cabut hidayahnya kemudian ia beramal dengan amal ahli neraka, maka masuklah ia ke neraka.
Hadirin hadirat…
Penjabaran hadits ini sangatlah panjang , insya Allah saya ringkaskan dulu penjabaran maknanya. Dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalani di dalam Fathul Baari Bisyarh Shahih Al Bukhari dan lainnya, bahwa hadits ini adalah tahziiran ( peringatan), wa tabsyiiran ( kabar gembira), wa rajaaan ( pengharapan ) untuk orang –orang muslim yaitu agar orang-orang yang banyak beramal pahala tidak sombong, jangan menyombongkan dirinya “aku sudah beramal banyak”…apa si fulan itu pezina! si fulan itu pemabuk! si fulan itu berbuat mungkar!, aku siang dan malam di dalam kemuliaan..hati-hati Allah bisa mencabut hidayah kita dengan getaran hati kita. Sebaliknya jangan berputus asa bagi mereka yang banyak berbuat dosa, bisa saja Allah SWT melihat kebaikan di hatinya kemudian Allah memberikan hidayah, sepanjang umur dia banyak dosa di akhirnya Allah memberi hidayah, beramal dengan amal ahli sorga masuklah ia ke sorga. Jadi ringkasnya adalah orang yang banyak beribadah jangan sombong, dan orang yang banyak bermaksiat jangan putus asa dari kasih sayangNya. Betapa indahnya ucapan-ucapan Sayyidina Muhammad SAW, beruntung mereka yang banyak beribadah agar semakin luhur dan beruntung mereka yang dalam kehinaan dosa agar tidak putus asa dari rahmat Allah SWT, sempurna tuntunan Sayyidina Muhammad SAW.
Hadirin hadirat…
Dan disyarahkan pula dalam hadits ini tentang ketentuan-ketentuan Ilahi bisa berubah dengan niat kita, niat di dalam sanubari niat berbuat baik, niat berbuat luhur, niat dan berfikir mulia, hal itu bisa merubah ketentuan yang akan datang. Allah Maha mampu merubah takdirNya kepada kita, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari Rasul SAW bersabda : “ Barangsiapa yang ingin diluasakan rizkinya, dan dipanjangkan usianya maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi “. Kok bisa silaturrahmi memanjangkan umur, kok bisa menyambung silaturrahmi meluaskan rizki?, karena yang Maha memiliki ajal adalah Allah, Allah sudah menentukan untuk kita, fulan bin fulan jika menyambung silaturrahmi maka usianya sekian, kalau ia putuskan silaturrahmi maka usianya sekian, kalau ia menyambung silaturrahmi rizkinya sekian, kalau ia putuskan silaturrahmi maka rizkinya sekian, ketentuan Ilahiah yang mungkin saja dari kebaikan berubah menjadi kehinaan karena niat dan dosa kita , sebaliknya dengan niat mulia kita, dengan amal pahala kita, menghindari hal-hal yang dilarang Allah SWT semampunya, menjalankan perintah Allah SWT semampunya, dengan itu jelanglah kebahagiaan dunia dan akhirah, semakin kita berbuat baik semakin indah ketentuan yang akan datang bagi kita .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya ketentuan Rabbul ‘Alamin SWT yang maha melimpahkan kemuliaan dan keberkahan bagi hamba-hambaNya .

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ اْلقُرَى أَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ . ( الأعراف : 96 )
“Jikalau seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami (Allah) siksa mereka disebabkan perbuatannya”. ( Al A’raf : 96 )
Allah SWT berfirman : Kalau seandainya penduduk itu, masyarakat itu beriman dan bertakwa , banyak beribadah niscaya Ku limpahkan keberkahan dari langit dan bumi, kemakmuran tumbuh dan muncul , musim penghujan tidak membawa banjir dan musibah, musim kemarau tidak membawa musibah, tanah menjadi subur tidak ada hama, tidak ada apa-apa, gempa dan lain sebagainya tidak terjadi karena orang-orangnya bertakwa dan beriman, namun karena banyaknya dosa maka yang maha lembut menjadikan musibah sebagai penghapus dosa. Hadirin hadirat..makin banyak dosa kita makin banyak musibahnya, musibah itu datang dari cinta Allah . Dan jangan kita terkena musibah setelah kita wafat, namun tentunya kita tidak menginginkan musibah, itu niatan di akhirah maka berdoalah. Telah kita sampaikan malam selasa yang lalu sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sayyididina Abu Hurairah RA :
مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُوْلَ: " اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ"
Doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Rasulullah SAW doa itu , “Wahai Allah Tuhan Kami, beri kami bahagia di dunia, bahagia di akhirah, jauh dari api neraka “, indahnya ajaran Ilahi agar kita mendapatkannya. Beruntunglah yang mau memperbanyak doa ini, untuk siapa kebahagiaan dunia dan akhirah dan jauh dari api neraka? untuk yang banyak mengamalkan doa ini, sudah pasti akan mendapatkannya, semoga aku dan kalian dimuliakan dengan keagungan doa mulia ini dalam kebahagiaan dunia dan akhirah. Amin…
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah...
Rasul SAW mengajarkan kepada kita Sayyidul Istighfar, raja dari semua istighfar. Istighfar itu banyak tapi Rasul SAW mengajarkan pimpinan atau raja dari semua doa memohon pengampunan kepada Allah SWT. Doa ini sangat agung dan sangat indah:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ...
“Wahai Allah Engkaulah Tuhanku”.
Kata “ Rabb ” mempunyai tiga makna ; Sang Maha Pemelihara, Sang Pemilik, dan Sang Maha Raja. Ini ketiganya ada pada Rabbul ‘Alamin SWT. Allaahumma Anta Rabbi “ Wahai Allah Engkaulah Tuhanku, Engkaulah yang menciptaku, dan memiliki ku, dan Engkaulah yang menjadi Maha Rajaku. اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ .. , kalimat ini mendekatkanmu kepada puncak kekhusu’an, jika kita mengucapkannya tentunya kita sudah tahu bahwa Tuhan kita Allah, tapi kita telah mengucapkannya dengan perkataan sanubari yang dalam, menyambung silaturrahmi ruh kita dengan Allah SWT agar lebih bercahaya dengan cahaya keagungan Ilahi hingga kita betul-betul merasa sangat dekat Allah SWT karena kasih sayangNya, kasih sayang yang lebih dari ayah bunda kita.
...اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي
“ Wahai Allah Engkaulah yang maha mengasuhku, yang maha memilikiku, yang maha rajaku “

لَاإِلهَ إِلَّا أَنْتَ
“ Tiada Tuhan selain Engkau ”

خَلَقْتَنِيْ
“Engkau yang telah menciptakan aku”
Engkau telah menciptaku dari tiada, asalnya manusia ini tidak pernah ada dan kita tidak pernah menginjak bumi serta tidak mengenal siapa pun dan tidak dikenal siapa pun, namun Allah yang menciptanya ke muka bumi.
وَأَنَا عَبْدُكَ
“ Dan aku adalah hambaMu “

وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ
“ Dan aku berada di dalam janji dan sumpah setia kepadaMu ” yaitu kalimat syahadah

. مَااسْتَطَعْتُ
“ Tapi semampuku aku berbuat ”

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ
“ Aku berlindung kepadaMu dari buruknya perbuatanku”
Subhaanallah,, Sang Nabi SAW mengetahui terlalu banyak ummatnya yang telah terjebak dalam dosa dan belum bisa meninggalkan dosa, lalu bagaimana caranya mengatasi dosa-dosanya?, berlindung kepada Allah dari perbuatan burukku. Mau berlindung kemana dari dosa kita,, siapa yang maha mampu merubah keadaan supaya kita lepas dari dosa?? Allah.
وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ
“ Aku berlindung kepadaMu dari buruknya perbuatanku “
maksudnya apa? Supaya Allah melindungi kita , kalau seandainya kita terjebak dalam dosa maka tentunya kalau kita dalam lindungan Allah, maka Allah ampuni. Kalau seandainya kita tidak mampu meninggalkan dosa, kalau Allah lindungi kita akan mampu meninggalkannya. Kalimat ini membuka kemuliaan luhur, di dalam kehidupan kita tidak lepas daripada segala ancaman dosa, sampai di hari kiamat maka Allah tidak akan lupa dengan kalimat “ Aku berlindung wahai Allah dari perbuatan buruk ku “, wahai Allah aku sadar tentang kenikmatanMu yang sangat besar , dan aku sadar juga betapa banyaknya dosa-dosaku, kalimat cinta dan rindu kepada Rabbul ‘Alamin.
Sudah mengeluh kesahkan kepada Allah, menyambung hubungan mulia dengan kasih sayang Ilahi , mengadu dan merasakan diri kita hanyalah hamba yang diciptaNya, mengadu bahwa kita mengetahui betapa banyak kenikmatannya dan betapa banyak pula dosa kita bukanlah kita banyak bersyukur tapi semua perbuatan syukur perlu disyukuri pula.
فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
“ Maka ampunilah Aku wahai Allah, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau Wahai Allah “
Inilah indahnya Sang Nabi SAW cahaya jiwa beliau berpijar menerangi ummat beliau SAW hingga di akhir zaman, kalimat ini 14 abad yang silam, berapa ribu manusia dan berapa juta manusia yang termuliakan dan tersucikan hatinya dengan kalimat agung ini, seraya beliau SAW bersabda “ Barangsiapa yang mengucapkannya di pagi hari dengan mendalami maknanya lalu ia wafat di siang itu maka ia masuk surga, jika ia membacanya di malam hari dan ia wafat sebelum pagi maka ia masuk sorga “. Demikian tuntunan Sang Nabi SAW, ribuan orang yang telah selamat dari api neraka dan masuk sorga dengan banyak mengamalkan bacaan luhur ini.
Hadirin hadirat..
Inilah Sayyidul Istighfar, pemimpin daripada segala doa memohon pengampunan. Amalkanlah semampunya, jika mampu sebelum pagi sore ini hanya beberapa detik membacanya tidak sampai satu menit, kalau mau mendalaminya barangkali dua menit, tambah dengan rintihan sanubari paling lama tiga atau empat menit setelah itu selesai tiga empat menit mu itu, lewati harimu dengan kemuliaan dan keluhuran , jadikan hari-hari kita di dalam hari-hari yang indah. Semoga hari-hari kita semakin indah dengan kemuliaan tuntunan Sang Nabi dan cahaya sayyidul istighfar.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bercerita “ Wahai para sahabatku, bagaimana jika seandainya kalian melihat ada seseorang yang membawa semua harta bendanya, emas, perak, berlian, dan semuanya, dia tidak punya rumah karena sudah dijual semua rumahnya hingga dijadikan harta, di taruh di atas ontanya berjalan dia kemana saja dengan hartanya, lalu dia duduk di bawah sebuah pohon untuk beristirahat dan tertidur, ketika terbangun dilihat onta berikut hartanya sudah tidak ada, betapa sedihnya,,bagaimana perasaannya? kata Rasul SAW, maka berkata para sahabat, Wahai Rasulallah , pastilah ia sangat sedih, bagaimana tidak sedih semua hartanya cuma itu lantas hilang begitu saja . Lalu Rasul SAW melanjutkan, setelah ia bangun kaget,risau dan sedih kemudian mencari hartanya kesana kemari sampai kelelahan, sudah terlalu lelah dia rebah dan tertidur dari lelahnya, saat ia bangun ia melihat onta dan hartanya di depan matanya, bagaimana perasaannya?, maka para sahabat berkata “ tentu ia akan sangat gembira wahai Rasul SAW dan tidak ada kegembiraan baginya seumur hidup kecuali kegembiraan itu , sudah dicari kemana-mana tidak ketemu hartanya saat ia tertidur kelelahan mencari, ternyata hartanya kembali sendiri di depan matanya, pasti ia sangat gembira. Rasul SAW berkata,” Allah lebih gembira menyambut hambaNya yang bertobat daripada orang itu yang menyambut hartanya yang kembali setelah hilang”. Kalau semua harta kita tiba-tiba hilang kemudian kembali lagi di hadapan kita, gembiranya bagaimana!? Allah SWT lebih gembira menyambut para pendosa yang bertobat, daripada orang yang kehilangan hartanya itu kata Sang Nabi SAW, sedikit Sang Nabi membukakan rahasia kelembutan Ilahi maka pahamilah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Inilah Rabbul ‘Alamin Jalla wa ‘Alaa SWT yang menawarkan kasih sayang dan keridhaanNya bagi hamba-hambaNya, beruntung mereka yang mau menjawab lamaran kasih sayang Ilahi. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, Rasul SAW mendengar kabar bahwa Sa’ad bin Ubadah RA berkata dengan nada yang sangat marah “ kalau seandainya ada seorang lelaki mendekati istriku, akan ku tebas dengan pedangku ini “, para sahabat datang kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah Sa’ad bin Ubadah mau main hakim sendiri. Rasul mengalihkan pembicaraan, tidak meneruskan pembahasan tapi mengangkat derajat mereka kepada yang lebih luhur , seraya berkata :
أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غِيْرَةِ سَعَد ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّيْ .
Kenapa kalian,, kalian takjub dan heran melihat cemburu dan cintanya Sa’ad kepada istrinya? yang tidak mau melihat istrinya di ganggu oleh siapa pun, aku lebih cinta kepada kalian daripada Sa’ad kepada istrinya, dan Allah Lebih Lebih Maha cemburu dariku, aku lebih cemburu daripada Sa’ad. Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalani Hujjatul Islam Wa Barakatul Anam dalam Fathul Baari bisyarh Shahih Al Bukhari dan juga para muhaddits lainnya, menjelaskan bahwa makna hadits ini Rasul SAW ingin mengenalkan cinta Allah dan cinta Sang Nabi kepada ummatnya . Bagaimana tidak, adakah manusia yang lebih mencintai kita di saat semua kekasih meninggalkan kita, dan Sang Nabi sibuk mengurus dosa-dosa kita. Jika semua ummatnya yang berdosa masih harus digiring ke dalam neraka , dan mereka harus merasakan api untuk menebus dosanya seraya beliau bersujud untuk menebus dosa mereka untuk dimaafkan oleh Allah SWT, demikian indah dan lembutnya Sang Nabi SAW di saat itu semua cinta terputus dan sirna kecuali cinta karena Allah, dan yang paling mencintai kita Sayyidina Muhammad SAW yang membela para pendosa dan di saat itu semua Nabi dan Rasul berkata :
نَفْسِيْ نَفْسِيْ اِذْهَبُوْا إِلَى غَيْرِيْ
(para nabi berkata : diriku diriku, pergilah pada selainku. Shahih Bukhari)kecuali Sayyidina Muhammad SAW idolaku dan idola kalian yang sangat membela ummatnya di hari yang paling dahsyat dan sulit, selalu mendoakan kita dalam keadaan tersulit, di saat sakaratul maut beliau SAW masih mengingat ummatnya :
اللَّهُمَّ شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
“ Wahai Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku asalkan ringankan untuk ummatku”,
Inilah Sayyidina Muhammad SAW, Allah kabulkan doanya sehingga beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, seraya mengusap dahinya daripada air keringat dingin yang terus mengalir, seraya berkata :
إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“ sungguh dalam kematian itu terdapat kepedihan “, (Shahih Bukhari)
Beliau menahan pedihnya, sakitnya yang itu meringankan seluruh ummatnya ketika sakaratul maut, sehinnga malaikat Jibril memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah Sang Nabi, Rasul SAW berkata kenapa engkau memalingkan wajah wahai Jibril?, Aku sedang kesakitan dan engkau membuang muka, Jibril berkata: Aku tidak bisa, tidak tega melihat wajahmu kesakitan Wahai Rasulallah,, demi menahan sakaratul maut agar teringankan untukku dan kalian hadirin hadirat, inilah Muhammad Rasulullah SAW Nabi kita semua yang berkata “ Allah itu lebih pencemburu daripada aku, kalau itu cintanya Rasul kepada kita maka Allah lebih lagi, kenapa? Siapa yang mencipta Nabi?, siapa? Allah. Sumber kelembutan adalah Rabbul ‘Alamin , maha paling indah yang menciptakan manusia terindah, ini untuk kalian wahai hamba-hambaKu, ini Nabi kalian Muhammad SAW Imaamul Anbiyaa’ wal Mursalin, bentuk dari lambang kelembutan Ilahi.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّارَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
(Tiada kuutus Engkau kecuali Rahmat bagi sekalian alam)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Cahaya kemuliaan terus mengalir dalam kehidupan kita, merugi mereka yang meninggalkan hari-hari dan detik-detiknya dalam kemungkaran dan kehinaan dan beruntunglah mereka yang mengikutinya dengan keluhuran dan keindahan, keindahan di dunia dan akhirah keindahan yang abadi bersama keridhaan Ilahi SWT . Rasul SAW telah menyampaikan kepada kita betapa lemah lembutnya Allah. Allah SWT mengganjar setiap kesedihan hambaNya, kesedihan itu tidak dibiarkan begitu saja, semua apa yang membuat kita sedih itu adalah penghapusan dosa bagi kita, dan Allah mengganjar nya dengan pahala , seraya bersabda Rasulullah SAW : “Tiadalah satu di antara kalian mempunyai tiga anak yang wafat terkecuali dia itu tidak akan menyentuh api neraka”, karena apa? karena tiga kali ditimpa kesedihan dalam hidupnya anaknya wafat tiga orang, maka ia tidak akan menyentuh api neraka selama ia Muslim, kenapa? kesedihannya sudah membayarnya selepas daripada segala dosa dan kesalahannya dimaafkan Allah. Maka diantara sahabat berkata : “ bagaimana kalau cuma dua orang yang wafat Ya Rasulallah? Maka Rasul SAW berkata : “walaupun cuma dua”, maka ia telah Allah berikan kemuliaan karena pernah sedih hatinya selama ia tabah, selama ia tidak mencaci Allah karena telah wafat anaknya. Kalau ia berkata, mana ini kelembutan Allah, dusta..buktinya anakku diambilnya”, kalau sampai seperti itu maka tentunya tidak akan didapatkan kemuliaan ini. Jika ia tabah dan sabar ;” ya sudah milik Allah dan kembali kepada Allah”
إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
“ Sungguh kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali “
Maka kesedihan itu diganti oleh Allah. Dua kali ia kematian anaknya, maka ia sudah disabdakan oleh Sang Nabi lepas dari api neraka, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Namun Al Imam Thabrani di dalam Al Awsat meriwayatkan Hadits bahwa para sahabat bertanya,” bagaimana kalau yang wafat hanya satu? Maka Rasul SAW berkata “ walaupun satu “. (dinukil oleh Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar dalam Fathul Baari)Semoga Allah SWT membebaskan kita dari api neraka, kita tidak menginginkan musibah ini terjadi pada kita, tapi kita lihat kemuliaan dan kebahagiaannya. Hadirin hadirat, kalau Allah bisa memberi kepada mereka yang dirundung kesedihan , tidak mustahil Allah memberi kepada yang berdoa kepadaNya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Silsilatul Mahabbah ( rantai cinta ) kepada Rasul SAW dan orang-orang yang dicintai oleh Rasul SAW tersambung. Rasulullah SAW bersabda ketika melihat Sayyidina Hasan Ibn Ali RA :
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ، فَأَحِبَّهُ وَاحْبِبْ مَنْ يُحِبُّهُ
“ Wahai Allah saksikan aku mencintai dia,( yaitu cucu beliau saw yaitu Sayyidina Hasan Ibn Ali RA ), maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintai Hasan Bin Ali RA”.
Demikian indahnya doa Sang Nabi, Rasulullah kalau sudah cinta kepada seseorang langsung berdoa kepada Allah, Wahai Allah aku cinta kepada Hasan Bin Ali maka cintailah Hasan Bin Ali dan cintailah orang-orang yang mencintai Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Yang meriwayatkan hadits ini Abu Hurairah RA di dalam Shahih Al Bukhari , seraya berkata ; sejak aku mendengar itu tidak henti-hentinya orang yang paling aku cintai setelah Nabi adalah Hasan bin Abi Thalib, kenapa? karena Rasul telah mendoakan “ cintai orang yang mencintai Hasan bin Abi Thalib RA”. Rasul meminta kecintaan sampai pada orang yang mencintainya. Hadirin hadirat..
Silsilah mahabbah ini mustamir (rantai cinta ini berkelanjutan), kemuliaan ini bukan dibuka oleh Rasul SAW kepada orang-orang yang dicintai oleh Sang Nabi SAW, masuk padanya para Awliyaa’ (para wali) dan para Shalihin terikat dengan sabda Sang Nabi :
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“ Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintai “.
Maka cintailah para shalihin dan khususnya imam para shalihin, Sayyidina Muhammad SAW, yang dengan itu sempurnalah iman kita, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari :
لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“ Tiada sempurna iman salah seorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintainya daripada anak dan orang tuanya dan dari seluruh manusia”.
Kecintaan yang paling sempurna adalah tidak mencintai makhluk yang lebih besar daripada cintanya kepada Rasulullah SAW. Semoga Allah mewarnai jiwa kita dengan cahaya mahabbah kepada Nabi kita Muhammad SAW yang dengan itu kita sampai pada keridhaan Allah dan kesempurnaan iman.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian agungnya kemuliaan-kemuliaan yang disampaikan oleh Sang Nabi SAW. Saya tidak berbicara panjang lebar karena setelah ini ada beberapa hal yang perlu kita bahas, tentang pertanyaan yang sering muncul melalui surat, sms , atau lainnya.
Hadirin hadirat..
Pertanyaan muncul tentang bagaimana hukumnya mempercayai ramalan, yang muncul di televisi dengan sms dan lainnya, hal itu adalah dosa besar yang harus dihindari, jangan sampai kita terjebak pada ramalan-ramalan itu karena itu semua hanya dusta dan permainan mereka saja, mereka tidak mengetahui sesuatu, Yang Maha Mengetahui Allah, Yang maha mampu merubah keadaan hanya Allah. Namun kalau seandainya kita mempercayai ramalan orang itu, bisa saja Allah tentukan takdir kita kepada itu dan jadilah kita orang yang hina di sisi Allah, wal ‘iyazubillah. Jauhi!! Jangan sampai jari-jari kita terlibat untuk turut kirim sms ramalan-ramalan apa yang terjadi padaku nanti, na’uzubillah dan memasrahkan takdir kita kepada orang yang tidak tsiqah kepada Allah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian yang bisa saya sampaikan tentang ramalan, selanjutnya pertanyaan yang banyak tentang puasa Syawwal, sudah saya jelaskan tiga minggu yang lalu namun mungkin perlu diperjelas. Puasa Syawwal ini hukumnya sunnah, boleh dilakukan mulai tanggal 2 Syawwal sampai akhir Syawwal sebanyak 6 hari. Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Muslim, “ Barangsiapa yang berpuasa 6 hari di bulan Syawwal ( puasa sunnah ), maka ia mendapatkan pahalanya seperti puasa sepanjang tahun”. Melakukan puasanya tidak harus berturut-turut, boleh 6 hari langsung berturut-turut atau di pisah-pisah demikian yang dijelaskan di dalam Busyraa Al Kariim bisyarh Al Muqaddimah Al Hadhramiyyah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Jadi, di putus-putus pun boleh dua hari dulu misalnya, sehari dulu ..selama masih bulan Syawwal itu boleh, niatnya dengan hati sudah cukup kalau dengan lafazh bahasa Indonesia boleh, kalau mau dengan bahasa Arab juga boleh,
dan juga boleh dipadu dengan qadha’ Ramadhan, punya hutang puasa Ramadhan sekalian dua niat dengan ganti puasanya, qadha’ Ramadhan nya dapat, puasa sunnah Syawwal juga dapat. Khususnya kaum wanita yang barangkali dalam bulan Ramadhan tentunya kena haidh, qadha’ puasanya disatukan dengan puasa Syawwal . Al Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa hal seperti ini Tandarij (sah dan bisa dipadu) di dalam niatnya, jadi niat qadha Ramadhan satu hari dan puasa Syawwal sekaligus, dapat pahala qadha puasa Ramadhan dan pahala Syawal juga dapat. Niatnya, kalau tidak tahu bahasa Arabnya , maka dengan bahasa Indonesia. Niat qadha puasa Ramadhan di gabung dengan puasa Syawwal karena Allah semata.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, hal ini diperbolehkan di dalam mazhab As Syafi’I berpendapat kepadanya Al Imam Ramli dan Al Imam Ibn Hajar yang mengatakan hal ini boleh, namun ada pendapat lain yang mengatakan tidak diperbolehkan dua niat ini dipadu. Demikian hadirin hadirat..boleh di tambah lagi dengan puasa Senin Kamis dipadu lagi, misalnya puasa Senin Kamis digabung dengan puasa sunnah Syawwal , digabung dengan qadha’ Ramadhan ini boleh.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga Allah SWT muliakan hari-hari kita, dan semoga Allah SWT mengabulkan segenap doa dan munajat kita . Kita bermunajat kepada Allah SWT, Rabbi ..bukakan bagi kami rahasia kemuliaan sayyidul istighfar, jadikan kalimat-kalimat luhur ini terpahat di dalam jiwa kami, dan bibir kami selalu mengucapkannya, dan jiwa kami selalu merintihkannya..
اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإلهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Wahai Allah Engkaulah Tuhan kami, dan tiada Tuhan selain Engkau , kami adalah hambaMu, kami adalah yang telah Kau ciptakan, dan kami mengetahui bagaimana mulianya Engkau dengan menciptakan kami dan kami juga mengikat janji yaitu kalimat “ Laa Ilaaha Illallah “, janji setia kami kepada Mu, dan kami semampunya menunaikan apa-apa yang kami mampu daripada janji setia kami dengan menjauhi hal-hal yang hina, dan mendekat pada hal-hal yang luhur semampu kami, dan kami tahu bagaimana limpahan kenikmatanMu, dan kami tahu bagaimana banyaknya dosa kami, maka ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah, kami mengadukan kepadaMu buruknya amal perbuatan kami yang banyak, maka ampunilah dosa karena tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Rabbii..pastikan kami semua di dalam sorgaMu, dan jauh dari nerakaMu, dalam limpahan kebahagiaan dan keberkahan bersama para shalihin, bersama para sahabat, bersama para ahlu bait Rasul. Jadikan jiwa kami mencintai Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan jadikan jiwa kami ini mencintai Rasulullah SAW. Buka pemahaman di dalam jiwa kami untuk memahami cahaya keindahanMu Ya Rabbi, singkapkan hijab di dalam jiwa kami, hijab dosa, tabir dosa yang membentengi kami dari mengenal kelembutanMu, maka bukakanlah tabir itu Rabbi..buka tabir kegelapan dalam jiwa gantikan dengan cahaya keluhuran, bukakan dan terangi jiwa kami dengan keindahanMu Rabbi..yang dengan itu berjatuhanlah seluruh sifat-sifat hina di dalam jiwa kami, dan terbitlah sifat-sifat luhur , sifat untuk mendekat kepadaMu, sifat untuk meninggalkan kehinaan, sifat untuk selalu berbuat yang luhur, sifat untuk asyik berdoa, sifat untuk saling tolong menolong, sifat-sifat mulia, dan bukakan cahaya keindahan dalam hari-hari kami, perindahlah hari-hari kami Rabbi..terbitkan matahari kebahagiaan dalam hari-hari kami yang tiada pernah terbenam sampai kami berjumpa denganMu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalaali wal Ikram..
فَقُوْلُوْ جَمِيْعًا...
( Kataklanlah bersama sama )
ياالله.. ياالله.... يا الله .. يارَحْمَنُ يَارَحِيْم... لاإلهَ إِلَّا الله....لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَةٌ حَقّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Hadirin hadirat tidak lupa kita doakan Fadhilah As Sayyid Al Habib Hasyim bin Muhammad bin Shalih Al Hamid mata’anallahu bih, semoga dipanjangkan usia beliau dan semoga dengan kehadiran beliau ini bersambung sanad silsilah kita, sanad ijazah zikir kita, sanad ilmu kita kepada Al ‘Arif billah Al Habib Shalih bin Muhsin Al Hamid Tanggul). Ya Rahman Ya Rahim..kumpulkan kami dengan para pencintaMu di yaumul qiyamah, kumpulkan kami bersama para Shiddiqin. Yang hadir bersama kita semoga dipanjangkan usianya dalam keberkahan, para ulama dan para habaib sekalian semoga dilimpahi rahmat dan keberkahan, dan kita semua yang hadir semoga Allah pastikan kita wafat dalam husnul khatimah , semoga Allah pastikan kita wafat dalam hembusan rindu ke hadiratNya, dan bangkit bersama orang-orang yang rindu berjumpa dengan Allah “ Man Ahabba liqaai Ahbabtu liqaahu”. Demikian hadirin hadirat ..mengingat kembali indahnya Nabi kita Muhammad SAW , yang setelah itu kita mohonkan doa penutup dari yang mulia yang kita cintai Al Habib Hasyim bin Muhammad bin Shalih Al Hamid semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan kepada beliau, selanjutnya qasidah “ Muhammadun” dan setelah itu doa penutup. Tafaddhal Masykuraa.


Kamis, 01 Oktober 2009

Mengapa Allah Tidak Mengirim Burung Ababil?

29/3/2008 | 22 Rabiul Awwal 1429 H | Hits: 2.587
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
dakwatuna.com – Kisah melegenda sepanjang sejarah, yaitu ketika Muhammad saw lahir di muka bumi, ketika itu terjadi keajaiban yang luar biasa, Allah swt mengirim pasukan burung Ababil untuk menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya yang sombong, memaksa penduduk bumi untuk berkiblat pada sesembahan mereka.
Realitas bangsa Arab ketika itu dalam kondisi terpuruk dan kritis, mereka tidak lagi peduli dengan pembelaan terhadap agama dan warisan para pendahulu mereka. Ketika itu Allah swt tidak lagi menyerahkan penjagaan rumah-Nya di tangan mereka kaum musyrikin. Sampai datanglah ketentuan Allah swt secara nyata, yaitu Allah swt mengirim burung Ababil untuk menghancurkan Abrahah layaknya dedaunan yang dimakan ulat, habis binasa.
Bahwa Allah swt dengan kekuasan-Nya berkehendak sesuai dengan kemauan-Nya sendiri adalah bagian dari keyakinan orang beriman, sebagaimana kehendak Allah swt menurunkan mukjizat dan keajaiban di banyak peperangan.
Para Malaikat atas intruksi Allah swt turun membantu tentara muslim. Sebagaimana cara Allah swt sendiri memilih burung Ababil sebagai penghancur raja lalim.
Campur tangan Allah swt terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman telah tetap dan pasti sebagaimana direkam dalam Al Qur’an, Sunnah, sirah dan ucapan para sahabat.
Namun, Bangsa Arab (ketika itu) tetap tidak mau beriman kepada Allah swt. meskipun mereka melihat dengan mata kepala sendiri mukjizat burung Ababil. Padaha, Mekah belum pernah tecatat dalam sejarah diserang sekelompok pasukan, atau belum terpikirkan sebelumnya bahwa Mekah akan diperangi, kecuali setelah peristiwa itu. Bahkan tidak ada yang mau menjajah Mekah karena kondisinya yang padang pasir, gersang dan tidak ada potensi kebaikan di sana. Allah menjaga rumah-Nya dengan cara-Nya sendiri, yang tidak terduga oleh akal manusia.
Sehingga sewajarnya bila bangsa Arab mengimani kenabian Muhammad saw., membenarkan ajaran yang dibawanya dan bersegera malaksanakannya. Namun mereka justeru mengingkari.
Sehingga, kalau pun ada mukjizat-mukjizat dalam bentuk lain, bangsa Arab tetap tidak akan mau beriman, mereka akan mencari-cari alasan dengan lebih menonjolkan kelebihan mereka. Atau kalau perlu mereka menafsirkan dengan cara-cara aneh, seperti kepercayaan bahwa jin memiliki kekuatan. Jin sendiri selalu memperdaya manusia dan berusaha untuk menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sebagaimana yang digambarkan dalam Al Qur’an:
”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” Al Jin:6
Ternyata cerita tentang mistik atau klenik bertebaran dalam sejarah bangsa Arab tempo dulu. Ini bukan dongeng atau tahayyul belaka.
Seandainya bangsa Arab tidak melihat burung Ababil menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya atas izin Allah swt., dengan kerikil panas dari neraka yang membara. Maka ketika ada seseorang menceritakan persitiwa itu kepada mereka, pasti mereka akan mengatakan Anda gila. Mereka akan mengejek, sebagimana mereka mengejek Muhammad, ketika beliau menceritakan bahwa dirinya telah isra’ dan mi’raj.
Karena itu Allah swt. perlu memperlihatkan kepada mereka peristiwa itu, sebagaimana Allah swt memperlihatkan jasad Fir’aun kepada kaumnya:
”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” Yunus:92
Seandainya mereka tidak melihat jasad Fir’aun terapung di permukaan Laut Merah, pasti mereka akan mengatakan Fir’aun sedang mengasingkan diri untuk kemudian nantinya akan turun kembali dengan membawa misi penyelamatan atau klaim-klaim lain yang tidak masuk akal.
Allah swt. mengutus para Malaikat untuk menolong dan memenangkan para mujahidin yang mukhlis dalam setiap kesempatan dan tempat.
Pada suatu hari akan ada tentara Allah swt yang membebaskan Al Aqsha dari cengkraman Yahudi, sebagai bukti bahwa Allah swt menolong hamba-hamba-Nya dengan caranya sendiri:
”Dan tidak ada yang tahu tentara-tentara Tuhanmu, kecuali hanya Dia.”
Namun, bagaimana Al Aqsha akan terbebaskan jika umat dan pemimpinnya di bawah bayang-bayang penjajah?! Mereka dijajah orang-orang dzalim, sehingga menjadi wajib bagi masing-masing pribadi untuk membebaskan diri sendiri, kemudian masyarakat, pemerintah, bangsa serta umat secara keseluruhan dari dominasi penjajah Zionis Isra’il.
Ketika itu, tidak akan ada lagi orang Yahudi yang semena-mena di Palestina. Zionis Isra’il mestinya lebih lemah dan tak berdaya, ketika belenggu yang menghimpit umat ini lenyap. Yaitu belenggu perpecahan, permusuhan dan pengkhianatan di antara umat Islam sendiri. Ketika itu orang beriman berbahagia dengan pertolongan Allah:
”Mereka bertanya kepadamu: Kapan pertolongan Allah? Katakanlah: Pertolongan dan kemenangan akan segera datang.” Al Isra’:51
Adakah bangsa Arab, Pemimpin dunia Islam dan umat Islam di penjuru dunia memenuhi seruan Allah swt ini?! (it/ut)


Peduli Acara MAJELIS RASULULLAH SAW Bank syariah mandiri 061-7121-494 a/n Munzir Almusawa_______Majelis Nisa di seketariat MAJELIS RASULULLAH SAW, setiap hari minggu pkl 14.00 WIB s/d selesai. Tausiah akan disampaikan langsung oleh AL ALAMAH ALHABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA. majelis kusus nisa/WANITA
Related Posts with Thumbnails
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More