Terima Kasih, Anda sudah mengunjungi blog Pecinta Rasulullah SAW, semoga Allah selalu Menanamkan Rasa Cinta dan Rindu kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW kepada Diri kita Hingga kita Wafat dalam Khusnul Khotimah AAMIIN.........
kritik dan saran : mufe.majelis@gmail.com_____Alamat lengkap Majelis Rasulullah SAW: jl. Cikoko Barat V, RT 03/05, NO 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770),

Rabu, 02 Oktober 2013

Kisah Unik Tentang sedekah sembunyi-sembunyi

Habib Munzir Al Musawa :

Cerita unik tentang sedekah sembunyi-sembunyi

Al habib Munzir Almusawa menjelaskan : ada 3
macam sedeqah, yaitu sedekah secara sembunyi-
sembunyi, sedekah secara-terang-terangan, dan
sedekah dengan maaf,.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah
seorang yang mengumpulkan hartanya yang banyak
untuk bershadaqah sembunyi – sembunyi. Ia
kumpulkan uang sampai berjumlah sekian ribu
dinar dalam 1 tahun. Kerja khusus untuk
bershadaqah tapi sembunyi – sembunyi.

Sudah terkumpul, pergi keluar malam hari. Dilihat ada
seorang wanita tidur di jalanan. “Wah ini orang
susah”, kasih uang ia menutup wajahnya
memberikan bungkusan uang itu dan lari supaya
tidak diketahui wajahnya. Pagi hari gempar di
kampung. Ada pelacur diberi shadaqah oleh orang
sembunyi – sembunyi. Ia berkata “Subhanallah!!
Salah beri, aku kira wanita susah ternyata pelacur”,
“Ya Rabb aku setahun mengumpulkan uang untuk
dapat pahala shadaqah yang sembunyi – sembunyi
ternyata uangku untuk pelacur”.
Tapi ia tidak putus asa, ia kumpulkan lagi uang
sampai setahun yang jumlahnya sekian ribu dinar.

Sekarang aku tidak mau tertipu, pilih – pilih dulu.
Dilihatnya orang sedang duduk diam saja di satu
tempat yang gelap. “ini pasti orang susah”, diberi
padanya lalu lari. Paginya gempar lagi, pencuri
sedang ingin mencuri mendapat uang shadaqah
dengan jumlah uang yang besar. “Ya Rabb 2 tahun
aku bekerja khusus untuk memberi nafkah orang
yang susah dengan sembunyi – sembunyi. Tahun
pertama pelacur, tahun kedua pencuri”.
Ia tidak jera, kumpulkan lagi sampai 1 tahun. “Ya
Rabb ini yang terakhir, kalau sudah masih lagi
sampai shadaqah bukan kepada mustahiq, selesai
Ya Rabb aku tidak mampu lagi”.

Dia lihat orangtua
tengah malam jalan sendiri dengan tongkatnya
tertatih – tatih. “Wah ini orang yang pasti berhak,
malam – malam begini orangtua jalan malam -
malam dengan tongkat pasti orang susah”.
Dilemparnya uang itu “ini untukmu” dan ia pun
pergi. Pagi hari gempar lagi kampung, “ada kabar
apa?” orang paling kaya dan paling kikir dapat
uang semalam oleh orang yang shadaqah
sembunyi – sembunyi. “Ya Rabb yang pertama
pelacur, yang kedua pencuri, yang ketiga orang
paling kaya dan paling kikir di kampungnya.

Ya Rabb apa arti dari perbuatanku?”.
Ia pun diam, sekian tahun kemudian… 20 tahun
kemudian, Allah Swt sampaikan kabar padanya ada
dua orang ulama besar adik kakak. Muridnya
puluhan ribu dan ia termasuk orang yang asyik
dengan ulama itu. Ini ulama adik kakak dua –
duanya orang yang sangat luar biasa ilmunya luas,
pengikutnya puluhan ribu. Ia berkata “Subhanallah!!
ini ulama adik kakak siapa ayahnya?”. Kasak –
kusuk tanya kesana – kemari ternyata 2 orang
anak itu adalah ibunya seorang pelacur dulu tapi
tengah malam ada yang memberi shadaqah
sembunyi – sembunyi.

Ibunya itu melacur untuk
nafkah anaknya maka ia taubat dari pelacurannya
dan ia sekolahkan kedua anaknya dengan hartanya
itu. Allah jadikan dengan harta itu anak ini jadi
orang baik menjadi ulama besar dan pahalanya
kembali padanya. Airmatanya mengalir, ternyata
yang kuberikan 20 tahun yang lalu Allah
menjadikannya berlipat ganda sampai muncul 2
orang ulama shalih sampai puluhan ribu orang
yang beribadah mengikuti ilmunya dan pahalanya
untuk dia. Ini keikhlasan seseorang.
Tidak lama kemudian ia dengar lagi ada seorang
wali shalih wafat. Masya Allah ratusan ribu yang
mengantar jenazahnya.

Siapa orang itu? Orang itu
dulu pencuri, saat ia sedang mencuri ia berdoa
kepada Allah “Ya Rabb beri aku keluhuran kalau
aku dapat rizqi malam ini aku taubat”. Ada yang
melemparinya uang lantas ia bertaubat ia
bershadaqah, ia masuk ibadah dan ia tidak keluar
dari tempat ibadahnya sampai Allah angkat ia
menjadi orang yang shalih.
Lantas ia (orang ygersedekah yg terharu atas dua
kabar itu berkata) berdoa “Ya Rabb tinggal yang
ketiga, bagaimana dengan orangtua yang paling
kaya dan kikir di kampung kami”.

“oo orang itu
sudah wafat tapi ia pindah ke tempat lain
berwasiat mengirimkan seluruh hartanya untuk
membangun Baitul Maal bagi para anak yatim
sampai sekarang itu hartanya masih makmur”.
Kenapa? gara – gara dia malu tengah malam
katanya, dia yg kaya kikir, tengah malam ada yang
sedekahi.

Dia berkata “ini orang sedekah padaku,
sementara aku tidak pernah shadaqah. Aku
nafkahkan seluruh hartaku dan harta ini untuk
baitul maal” dan untungnya terus berlipat ganda
sampai 20 tahun tidak berhenti. Ini pelipatgandakan
di dunia dan pahalanya di hari kiamat dinaungi
oleh Allah Swt.

Rasulullah berdiri “siapa yang mau berinfak?”
sayyidina Utsman berdiri
“aku ya Rasulullah 100 ekor onta” (1 ekor onta itu
harganya 40 ekor kambing) 100 ekor onta sudah
dengan pelananya “Siap”, sayyidina Utsman bin
Affan ra,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“jazakallah khair ya Utsman” duduk Sayyidina
Utsman,
Rasul berdiri lagi,
“ada lagi yang mau berinfak?”
Sayyidina Utsman berdiri lagi
“ya Rasulullah, aku 200 ekor onta tambah yang
tadi 100 jadi 300”

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“cukup Utsman duduk, yang lain ada yang bantu?”
diri lagi Sayyidina Utsman
“ya Rasulullah 300 ekor onta tambah 300 yang tadi
200 pertama 100, 200, 300 jadi jumlahnya 600 ekor
onta dengan pelananya dengan perlengkapannya
fisabilillah”

Maka berkatalah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
“tidak ada lagi yang akan musibah menimpa
Utsman bin Affan setelah ini”
seluruh biaya menuju perang Tabuk ditanggung
Utsman bin Affan Ra.

Jika ingin dimaafkan dari dosa-dosa, maka
maafkan kesalahan orang lain kepadamu dan kau
akan dibebaskan dan mendapatkan cahaya maaf
dari Sang Maha Pemaaf, karena Sang Maha
Pemaaf malu jika tidak memaafkan hamba-Nya
yang pemaaf.

Sebagaimana sebuah doa yang
teriwayatkan dalam riwayat yang shahih:

ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍْﻟﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ
“Wahai Allah, sesungguhya Engkau Maha pemaaf,
menyukai maaf maka maafkanlah kami”


Selasa, 01 Oktober 2013

Pesan Sulthonul Qulub Sayyidi Syarif Al-Habib Munzir bin Fuad Almusawa

pesan Habib Munzir :

hendaknya muslimin tetap dalam kelompok
terbanyak dan menghindari permusuhan, dan agar
muslimin terus dalam kelompok terbesar dan tidak
membuat kelompok baru, ahlussunnah waljamaah
adalah mereka yg menjalankan sunnah dan dalam
kelompok terbanyak, yaitu keempat madzhab,
karena keempat madzhab inilah yg ratusan Imam
dan Muhadditsin mengikutinya sebagai penerus
syariah yg benar, dan bermunculannya kalangan
madzhab dan ajaran yg bertentangan dg mereka
maka mereka inilah yg keluar dari ahlussunnah
waljamaah.

landasannya adalah hadits Rasul saw :
"Barangsiapa yg memisahkan diri dari kelompok
muslimin sejengkal lalu ia wafat, maka wafatnya
adalah dalam keadaan matinya orang
jahiliyah" (Shahih Bukhari hadits no.6724).

keempat madzhab itu kesemuanya tidak berpecah
belah, karena Imam Ahmad bin Hanbal adalah
murid Imam Syafii, mereka hidup rukun dan tak
bermusuhan, Imam Ahmad bermakmum kepada
Imam Syafii dan Imam Syafii memuliakan muridnya
itu,
Imam Syafii adalah murid Imam Malik, dan Imam
Malik bersama Imam Hanafi hidup sezaman dan
saling bersahabat dan bertukar pendapat, dan
keduanya berjumpa dengan sahabat dan Tabi'in,
langsung mengambil dari generasi generasi
pertama, dan kemudian ratusan Imam dan
Muhadditsin dizamannya dalam satu rumpun.

lalu muncullah yg mengkafirkan sahabat Rasulullah
saw, lalu muncul khawarij, qadariyah, jabariyah,
wahabi yg mengatakan musyrik pada para shalihin
dan wali Allah, yg masing masing adalah sesat dan
keluar dari ajaran syariah, namun Ahlussunnah
waljamaah tetap berdiri dengan tegak, mereka
sejalan dg sunnah dan Qiyas para Imam dan
muhadditsin.

hingga kini ahlussunnah waljamaah tetap kelompok
terbanyak, walaupun sudah sangat banyak
kelompok sesat yg muncul dan memisahkan diri
dari ahlussunnahwaljamaah dg menyalahkan
pendapat para Imam dan Muhadditsin, dg
pemahaman yg dangkal mereka menusuk fatwa
Imam Imam besar yg hafal jutaan hadits dan pakar
pakar syariah di masa lalu.
semoga ALlah swt menyatukan kita selalu dalam
keluhuran dunia dan akhirat saudaraku.

===================
Ditulis oleh Sulthonul Qulub Habib Munzir Al
Musawa


Minggu, 29 September 2013

Rahasia Di Balik Musibah


Habib Munzir bin Fuad Almusawa :

Saudaraku yg kumuliakan,
Kematian bagi muslimin jika ia terjebak dalam
musibah adalah syahid,

sebagaimana sabda Nabi
saw : “kelompok yg mati syahid adalah mereka yg
wafat tenggelam (termasuk banjir), terbakar,
terkena rerobohan (longsor), terbunuh (dibunuh,
kecelakaan lalu lintas), sakit dibagian perutnya
(yaitu meninggal karena penyakit yg diantara leher
hingga bawah perut, seperti ginjal, jantung, liver,
lambung, paru paru), dan mereka yg wafat di jalan
Allah” (shahihain Bukhari dan Muslim).

Sampai disini kita fahami bahwa kematian bagi
mereka diatas adalah rahmat Nya swt karena
mereka digolongkan para syuhada, walaupun di
dunia dihukumi tetap sebagai jenazah biasa, yaitu
dishalatkan, dimandikan dll, namun di akhirat
mereka bersama syuhada. Tak ada hisab bagi
mereka kelak, langsung menuju sorga Allah swt.
Tidak ada azab dalam ummat Muhammad saw,
karena bagi mereka hanyalah Rahmat Nya swt, dan
dunia bagi kita adalah tempat beramal dan bukan
tempat pembalasan, dan tempat pembalasan
adalah setelah kematian dan di hari kiamat.
Wafat dalam musibah tentunya keberuntungan
besar sebagaimana hadits diatas, dan bagi mereka
yg hidup itu adalah penghapusan dosa,

sebagaimana sabda Rasul saw bahwa semua
musibah yg menimpa ummat beliau adalah
penghapusan dosa, maka bertanya Aisyah ra
Ummulmukminin : Lalu kalau kita tertusuk duri itu
apakah juga ada penghapusan dosanya?, Rasul
saw menjawab : “Betul, bahkan gundah dihati pun
merupakan penghapusan dosa” (Shahihain Bukhari
dan Muslim).

Bahkan dalam riwayat lain Rasul saw bersabda :
“Tiada henti hentinya musibah menimpa seorang
muslim atau muslimah, pada dirinya, pada
hartanya, pada keluarganya, hingga ia menemui
Allah swt kelak tak membawa dosa sedikitpun.

Dalam riwayat lainnya dijelaskan bahwa musibah
mengangkat derajat kita, maka demikian kasih
sayang Nya Allah swt yg mengangkat derajat
Hamba hamba Nya swt tanpa mereka sadari.
Mengenai orang shalih atau bukan shalih, selama ia
muslim dan tidak dalam keadaan mabuk, dan tidak
pula sedang niat berbuat jahat maka bila ia wafat
kecelakaan atau dibunuh maka ia wafat sebagai
syahid sebagaimana hadits diatas.


Bila kematian sebagai muara bagi kerinduan


Habib Munzir Al Musawa:

Semua yang hidup pasti akan merasakan kematian,
dan kematian bagi para pendosa adalah akhir dari
kebahagiaan dan awal dari kehinaan. Namun
kematian bagi hamba yang rindu pada Sang Maha
Indah adalah berakhirnya segala cobaan dan
bermulanya keindahan yang kekal. Tiadalah
kehidupan dunia itu kecuali panggung sandiwara,
yang kaya belum tentu bahagia dan yang miskin
belum tentu dalam keadaan susah bahkan bisa jadi
dalam hari-harinya selalu bahagia, bisa saja orang
yang kelihatannya mulia dan kaya barangkali dia
dalam kesusahan dan sangat mendambakan
kemerdekaan seperti orang-orang yang miskin.
Orang-orang yang semakin tinggi jabatannya
hakikatnya ia semakin terpenjara dan semakin
terjajah oleh jabatannya. Sedangkan orang yang
berada di pinggiran jalan, bebas kapan saja dia
mau makan ia bisa makan, tetapi orang yang
sudah bekerja sebagai pegawai untuk makan ada
waktu yang ditentukan, semakin tinggi jabatannya
maka semakin sulit gerakannya, semakin penuh
alam pemikirannya maka semakin sulit ia
merasakan keindahan dan semakin terganggu
istirahatnya, sedangkan orang yang susah kapan
pun mau tidur ia bisa tidur dan terserah kapan ia
mau bangun, tetapi tidak demikian dengan orang
yang semakin tinggi jabatannya di dunia. Maka
kaya dan miskin bukanlah menjadi tolak ukur, kaya
ataupun miskin, jabatan rendah ataupun tinggi
kesemuanya itu selalu terjadi sepanjang bumi
diciptakan, dari generasi ke generasi mereka hidup
ada yang dalam kesusahan dan ada yang dalam
kebahagiaan, ada yang dalam kehinaan dan ada
yang dalam kemuliaan, ada yang dalam derajat
tinggi dan ada yang dalam derajat rendah, ada
yang dalam musibah dan ada yang dalam
kenikmatan, kesemunya itu telah terjadi dan akan
terus terjadi, aku dan kalian sedang melewatinya
kemudian akan melupakannya dan terlepas darinya,
dan berpindah ke generasi berikutnya, demikian
yang terjadi mulai dari ayahanda kita sayyidina
Adam As, dan yang kekal dan abadi adalah bakti
kepada Allah, cinta Allah, rindu Allah, getaran jiwa
yang bersambung dengan cahaya keluhuran yang
kekal, Yang Maha Melihat setiap getaran perasaan
hamba-Nya, Yang Maha Melihat setiap apa yang
difikirkan oleh hamba-Nya, Yang Maha Melihat apa
yang akan terjadi pada hamba-Nya, Yang Maha
menghargai keinginan hamba yang ingin dekat
kepada-Nya, Yang Maha menyambut hamba yang
ingin kembali dari kehinaan kepada keluhuran atau
menambah dari keluhuran menjadi lebih luhur lagi,
Dialah Yang Maha Baik melebihi segala yang baik
karena semua kebaikan adalah milik-Nya dan
ciptaan-Nya, Dialah Yang Maha berjasa dari semua
yang berjasa, Yang memberi kita jasad, Yang
memberi kita kehidupan, Yang menghamparkan
bumi untuk kita, yang menciptakan hewan,
tumbuhan, bulan, matahari dan segala sesuatu
yang ada di daratan dan di lautan tidak lain
hanyalah untuk mendekat kita kepada-Nya, untuk
mencapai cinta-Nya, untuk mencapai kasih
sayang-Nya, setiap detikmu adalah lamaran cinta
Allah agar engkau menerima cinta Rabbul 'alamin.
Hadirin hadirat, siapa yang tidak kita inginkan
cintanya ini?, siapa yang selalu kita tolak
lamrannya ini?, setiap detik kita selalu ingin
berpaling dari ibadah, ingin berpaling dari cinta
Allah, ingin selalu mentalaq Allah!. Namun Allah
subhanahu wata'ala Maha Baik dan tidak memutus
hamba-Nya meskipun hambnya berkali-kali
mengecewakan-Nya, namun perasaan yang paling
lembut dari semua yang mempunyai perasaan
lembut, Sang pencipta perasaan, Allah mempunyai
perasaan Yang Maha Lembut. Allah mempunyai
siksa yang pedih namun kelembutan-Nya melebihi
kemurkaan-Nya. Oleh sebab itu selalu lah
beristighfar atas nafas-nafas kita yang terlewat
dalam dosa, karena orang yang selalu hidup dalam
dosa bagaikan orang yang tenggelam dalam
samudera kegelapan dan ditimpa gelombang
kegelapan,

sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala:
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,
yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak
(pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang
tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan
tangannya, hampir-hampir dia tiada dapat
melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi
cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia
mempunyai cahaya sedikitpun" (QS. An Nur: 40)


Sabtu, 28 September 2013

Alangkah Rindunya Saya Kepad Rasulullah SAW

Cidodol, 26 september 2013

Al-habib quriasy bin ghosim baharun-cirebon
(teman 1 perjuangan habibana munzir al-
musawa Allahuyarham)

"Satu hari sebelum beliau wafat, tepatnya hari
sabtu,beliau mendatangi saya di cirebon, setelah
malam sabtunya beliau menelpon saya sekitar
jam 1 malam, beliau mengatakan tidak jdi datang
krna sedang kurang sehat.tp sekitar jam 6.10
pagi, beliau mengatakan bahwa beliau sudah
dijalan menuju cirebon.singkat cerita,setelah
beliau sampai kami makan bersama, kemudian
ketika saya hendak sholat dzuhur dikamar yg
ditempati beliau untuk beristirahat saya meminta
beliau untuk tetap berbaring saja karna kondisi
beliau yg tidak memungkinkan untuk
berdiri. Namun setelah saya selesai shalat, saya
menyadari bahwa beliau sudah duduk dibelakang
kanan saya lengkap dengan jubah dan
imamahnya. selepas salaam,beliau merangkul
tangan kanan saya,dan menyandarkan kepalanya
dipundak saya,seraya berkata
"alangkah rindu
nya saya pada Rasulullah SAW, alangkah
rindunya... "

Kemudian beliau, bertanya pd saya
"duhai habib, apakah semua jamaah majlis
Rasulillah SAW ini akan masuk surga? Apakah
semuanya akan masuk surga bersama-sama
denganku juga ?" dan saya pun menjawab, duhai
habib, saya akan bersaksi dihari akhir kelak atas
air mata yg saya lihat mengalir saat di monas."
Dan malam ini pun atas air mata yg mengalir
disini. saya berjanji akan bersaksi kelak..." Ketika
kami berpindah ruangan, tengah berjalan menuju
ruangan trsebut, beliau memeluk saya , sambil
menangis, dan lagi-lagi berkata

"alangkah rindu
nya aku pada Rasulullah SAW..."

Dan saya
bertanya pda beliau "duhai habib, knp antum
mengulang-ulang kalimat tersebut ?apakah
antum ini akan meninggal ?" Dan beliau
menjawab...

"Semalam Rasulullah mendatangi
ku, dan Rasulullah bertanya pada ku, wahai
Munzir...sampai kapan ? Dan aku merasa bahwa
hari ini adalah hari terakhir ku. Dan mengakhiri
perjalanan panjang ini. "

Kemudian beliau berkata lagi, duhai habib, saya
datang kesini juga bertujuan menyampaikan
amanat dri Rasulullah untuk antum...

habib munzir almusawwa Allahuyarham, selama
di tarim tidak pernah menggunakan sandal, karna
takut bekas sandalnya menginjak jejak kaki para
aulia Allahu ditarim.

(Habib quraisy bin ghosim baharun ,menceritakan
pertemuannya ini sambil menahan
tangis, sesekali tidak dpat menahan air
matanya)

Allahu... Betapa ini menjadi cambukan untuk kita,
betapa habibana munzir mencintai jamaahnya,
sehingga sampai akhir hidupnya pun msh
memikirkan jamaah. Sebagaimana Rasulullah
SAW yg hanya memikirkan umat nya....
Shollu ala nabi Muhammad... !
Semoga manfaat..


Rabu, 13 Juli 2011

Kisah Rasulullah SAW dengan Gadis Kecil Yatim


Kisah Rasulullah SAW dengan Gadis Kecil Yatim

Kisah ini terjadi di Madinah pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri. Rasulullah saw seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu. Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?” Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw. Ia bertarung bersama Rasulullah saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”
Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Aisyah menjadi ibumu…. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”
Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah saw yang lembut seperti sutra itu.
Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :
“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”
Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :
“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”
Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghias inya pada hari Kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.“
Judul Asli “Wie der Prophet ein waises Maedchen zum Fest gluecklich machte”, diterjemahkan dari buku “Ich erlerne meine Religion: Die fuenf Saeulen des Islam“, Asim dan Muerside Uysal, terjemahan dalam bahasa Jerman oleh Marianne Zaric, Istanbul.


balasan menghormati keturunan Rasulullah SAW

kisah Balasan Menghormati keturunan Rasulullah SAW (Wanita Alawiyah)


Di dalam kitab Al-Multaqith diceritakan, bahwa sebagian bangsa Alawiyah ada yang bermukim di daerah Balkha. Ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dengan beberapa anak wanita mereka. Keadaan keluarga tersebut serba kekurangan.
Ketika suaminya meninggal dunia, isteri beserta anak-anak wanitanya meninggalkan kampung halamannya pergi ke Samarkand untuk menghindari ejekan orang di sekitarnya. Kejadian tersebut terjadi pada musim dingin. Saat mereka telah memasuki kota, si ibu mengajak anak-anaknya singgah di masjid, sementara dirinya pergi untuk mencari sesuap nasi.


Di tengah perjalanan si ibu bertemu dengan dua kelompok orang, yang satu dipimpin oleh seorang Muslim yang merupakan tokoh di kampung itu sendiri, sedang kelompok satunya lagi dipimpin oleh seorang Majusi, pemimpin kampung itu.
Si ibu tersebut lalu menghampiri tokoh tersebut dan menjelaskan mengenai dirinya serta berkata, “Aku mohon agar tuan berkenan memberiku makanan untuk keperluan malam ini!”
“Tunjukkan bukti-bukti bahawa dirimu benar-benar bangsa Alawiyah,” kata tokoh orang Muslim di kampung itu. “Di kampung tidak ada orang yang mengenaliku,” kata ibu tersebut.
Sang tokoh itu pun akhirnya tidak menghiraukannya. Seterusnya dia hendak memohon kepada si Majusi, pemimpin kampung tersebut. Setelah menjelaskan tentang dirinya dengan tokoh kampung, lelaki Majusi lalu memerintahkan kepada salah seorang anggota keluarganya untuk datang ke masjid bersama si ibu itu, akhirnya dibawalah seluruh keluarga janda tersebut untuk tinggal di rumah Majusi yang memberinya pula pelbagai perhiasan yang bagus.
Tidak berapa lama sesudah itu tokoh masyarakat yang beragama Islam itu bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan panji kebenaran berada di atas kepala Rasulullah SAW. Dia pun sempat menyaksikan sebuah istana tersusun dari zamrud berwarna hijau. Kepada Rasulullah SAW. dia lalu bertanya, “Wahai Rasululah! Milik siapa istana ini?”
“Milik seorang Muslim yang mengesakan Allah,” jawab Rasulullah. “Wahai Rasulullah, aku pun seorang Muslim,” jawabnya.
“Coba tunjukkan kepadaku bahawa dirimu benar-benar seorang Muslim yang mengesakan Allah,” sabda Rasulullah SAW. kepadanya.
Dia pun bingung atas pertanyaan Rasulullah, dan kepadanya Rasulullah SAW. kemudian bersabda lagi, “Di saat wanita Alawiyah datang kepadamu, bukankah kamu berkata kepadanya, “Tunjukkan mengenai dirimu kepadaku!” Karenanya, demikian juga yang harus kamu lakukan, yaitu tunjukkan dahulu mengenai bukti diri kamu sebagai seorang Muslim kepadaku!”
Sesaat kemudian lelaki muslim itu terjaga dari tidurnya dan air matanya pun jatuh berderai, lalu dia memukuli mukanya sendiri. Dia
berkeliling kota untuk mencari wanita Alawiyah yang pernah memohon pertolongan kepadanya, hingga dia mengetahui di mana kini wanita
tersebut berada.
Lelaki Muslim itu segera berangkat ke rumah orang Majusi yang telah menampung wanita Alawiyah beserta anak-anaknya. “Di mana wanita Alawiyah itu?’ tanya lelaki Muslim kepada orang Majusi.”Ada padaku,” jawab si Majusi. “Aku ingin menemuinya,” ujar lelaki Muslim itu. “Tidak semudah itu,” jawab lelaki Majusi. “Ambillah uang seribu dinar dariku dan kemudian mereka akan menemuimu,” desak lelaki Muslim. “Aku tidak akan melepaskannya. Mereka telah tinggal di rumahku dan dari mereka aku telah mendapatkan berkatnya,” jawab lelaki Majusi itu. “Tidak boleh, engkau harus menyerahkannya,” ujar lelaki Muslim itu seolah-olah memaksa.
Maka, lelaki Majusi pun menegaskan kepada tokoh Muslim itu, “Akulah yang berhak menentukan apa yang kamu minta. Dan istana yang pernah kamu lihat dalam mimpi itu adalah diciptakan untukku! Apakah kamu mau menunjukkan keislamanmu kepadaku? Demi Allah, aku dan seluruh keluargaku tidak akan tidur sebelum kami memeluk agama Islam di hadapan wanita Alawiyah itu, dan aku pun telah bermimpi sepertimana yang kamu mimpikan, serta Rasulullah SAW. sendiri telah pula bersabda kepadaku, “Adakah wanita Alawiyah beserta anaknya itu padamu?”
“Ya, benar,” jawabku.
“Istana itu adalah milikmu dan seluruh keluargamu. Kamu dan semua keluargamu termasuk penduduk syurga, karena Allah sejak zaman azali dahulu telah menciptakanmu sebagai orang Mukmin,” sabda Rasulullah kembali.
Sumber Muhammad Hafidz Maqmun


Peduli Acara MAJELIS RASULULLAH SAW Bank syariah mandiri 061-7121-494 a/n Munzir Almusawa_______Majelis Nisa di seketariat MAJELIS RASULULLAH SAW, setiap hari minggu pkl 14.00 WIB s/d selesai. Tausiah akan disampaikan langsung oleh AL ALAMAH ALHABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA. majelis kusus nisa/WANITA
Related Posts with Thumbnails
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More