Terima Kasih, Anda sudah mengunjungi blog Pecinta Rasulullah SAW, semoga Allah selalu Menanamkan Rasa Cinta dan Rindu kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW kepada Diri kita Hingga kita Wafat dalam Khusnul Khotimah AAMIIN.........
kritik dan saran : mufe.majelis@gmail.com_____Alamat lengkap Majelis Rasulullah SAW: jl. Cikoko Barat V, RT 03/05, NO 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770),

Rabu, 16 September 2009

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Friday, 26 June 2009
Dosa Terbesar Diantara Muslim Pada Muslim Lainnya
Senin, 22 Juni 2009


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin adalah yg bertanya tentang sesuatu yg tidak diharamkan, menjadi diharamkannya hal itu sebab pertanyaannya” (Shahih Bukhari)


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
ImageLimpahan Puji Kehadirat Allah. Matahari kebahagiaan yang selalu menumpahkan kebahagiaan bagi hamba – hambaNya di dunia dan di akhirat dan menyisakan sebagian dari kesulitan terjadi kepada hamba-Nya di dunia agar mereka meminta kebahagiaan kepada Allah. Sang pemilik kebahagiaan dunia dan akhirat, Maha Melimpahkan kepada hamba – hambaNya kebahagiaan sebelum mereka meminta dan menjadikan sebagian kesulitan muncul dalam kehidupan agar mereka mau meminta. Maha Suci Allah yang menyenangi doa dan munajat kepada hamba –hambaNya, Dialah (Allah) Maha Sempurna dan Maha Melihat dan Maha Melimpahkan Kasih Sayang-Nya sehingga satu – satunya Dzat yang berbeda dengan segenap makhluk yang selalu semakin gembira dengan banyaknya permohonan, Dialah (Allah).
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Maha Suci Allah, Maha Tunggal dan Maha Abadi. Matahari yang selalu terang – benderang sepanjang waktu dan zaman, sepanjang terbit dan terbenamnya matahari dan bulan, namun Cahaya Allah tiada pernah sirna sepanjang waktu dan zaman. Cahaya yang terus terang – benderang bukan hanya menerangi mata tapi menerangi jiwa sehingga mereka yang tidak melihat pun mendapatkan Cahaya Keindahan Allah Swt. Berupa limpahan Kasih Sayang-Nya, berupa limpahan Kelembutan-Nya, berupa limpahan kebahagiaan yang dari-Nya dicipta-Nya sumber – sumber kebahagiaan dari ayah dan bunda, dari anak, dari suami atau istri, dari tetangga, dari hujan, dari matahari, dari bulan dan dari segala apa yang ada di alam.Yang kesemuanya diciptakan oleh Allah, agar manusia mendapatkan kebahagiaan. Namun, Allah tidak jadikan kebahagiaan di dunia ini sempurna agar manusia tidak terlena dengan kebahagiaan yang sementara karena masih ada kebahagiaan yang abadi.
Maka Allah Swt menjadikan setiap kenikmatan di dunia pasti ada akhirnya, setiap kesehatan akan muncul padanya sakit, pada ucapan, pada lisan, pada penglihatan, pada pendengaran, pada semua panca indera. Pasti ada saat – saat dimana Allah mencabut kenikmatannya dan terasalah bagi manusia betapa berharganya kenikmatan itu. Yang hal itu hakikatnya merupakan seruan Ilahi untuk mengenal kenikmatan-Nya. Agar sang hamba bersyukur kepada Sang Pemilk Kenikmatan dan berbahagialah mereka yang memahami Kasih Sayang Ilahi yang selalu ada dan selalu ditawarkan lebih kepada mereka yang mau meminta. Mereka yang banyak bermunajat tentunya berbeda dengan mereka yang jarang berdoa.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt berfirman “wallaili idza yaghsyaa” Demi malam ketika telah gelap gulita; QS. Al-Lail : 1. Malam yang dhahir dan malam yang bathin. Malam yang dhahir adalah gelapnya sebagian permukaan bumi dan mereka di dalam kesibukan yang berbeda dari siang harinya. Namun malam yang bathin adalah kegelapan jiwa dari gelapnya kesedihan, dari gelapnya kegundahan dan kerisauan membuat cahaya yang terang – benderang pun seakan tiada karena jiwanya penuh kerisauan dan kegundahan.
“Wannahaari idza tajallaa” Demi siang hari apabila telah terang – benderang; QS. Al-Lail : 2. Siang yang dhahir dan siang yang bathin. Siang yang dhahir adalah saat siang dimana aktifitas pada puncaknya. Masing – masing di waktu siang dan malam itu ada takdir dan khodrat Illahi yang selalu terjadi. Sedemikian banyak kenikmatan yang terjadi dan sedemikian banyak musibah terjadi. Dalam setiap musibah tersimpan penghapusan dosa dan pengangkatan derajat. Dalam kenikmatan terdapat tawaran untuk mendapat lebih lagi jika ia bersyukur dan terdapat teguran akan berubah kenikmatan itu menjadi kesusahan jika ia tidak bersyukur kepada Allah. Maha Suci Allah yang membimbing dengan kenikmatan untuk mencapai kenikmatan. Dengan kenikmatan, ia bisa menggapai kenikmatan yang lebih.
“La insyakartum la aziidannakum wa la inkafartum inna a’dzabii lasyadiid” Maha Suci Allah yang menjadikan perbuatan syukur dalam kenikmatan membuat kenikmatan bertambah lagi, bukan berkurang. Hadirin – hadirat, demikian Allah membimbing kita untuk selalu berbuat luhur dan bersyukur. Bersyukurlah atas kenikmatanmu saat ini maka Allah akan menambahnya. Jika kita merasa banyak dari kesusahan yang menimpa kita, ingatlah dalam kesusahan kita itu masih ada banyak kenikmatan. Masih ada kenikmatan melihat, mendengar, bicara, bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal itu semua yang jika kita syukuri akan memupus dan menghapus musibah yang muncul pada kehidupan kita. Kita merasa kenikmatan kita sudah 80%, 20% kesusahan misalnya. Bagaimana supaya kesusahan ini sirna? Banyak bersyukur, maka Allah akan memupus dan mengikis kesusahan itu. Inilah janji Rabbul Alamin.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
“Wamaa khalaqadzdzakara wal untsa” Dan demi penciptaan pria dan wanita; QS. Al-Lail : 3. Bahwa pada setiap pria dan wanita itu kelak Allah tentukan bentuk jasadnya dan Allah tentukan ketentuan-Nya akan muncul dari pria dan wanita ketika berpasang – pasangan. Akan muncul keturunan dan keturunan. Barangkali dari 1 nama akan muncul beribu – ribu nama dari keturunannya. Dan keturunannya itu tergantung pula kepada doa ayah dan bundanya. Jika ia menaungi anak – anaknya dengan doa dan munajat maka Allah pula yang melindungi anak – anaknya dengan Kasih Sayang-Nya. Apakah ia ada di dunia atau meninggalkannya karena wafat.
Dialah Allah Yang Maha Memelihara dan Maha Mengayomi alam semesta, Maha Mengayomi hamba –hambaNya dengan doa dan munajat mereka. Ketika mereka meminta kepada Allah penjagaan atas dirinya, penjagaan atas hartanya, penjagaan atas keluarganya, penjagaan Allah atas keturunannya, Sang Maha Mengayomi akan mengayomi berkat doa dan munajat kita. Demikian indahnya Allah, Maha Raja yang paling berhak untuk dimuliakan dan diagungkan. Namun seakan – akan Allah berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berkhidmah kepada kita. Sungguh Allah Maha Mulia. Namun Kasih Sayang dan Kelembutan-Nya seakan Allah Swt itu yang paling berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berbakti kepada kita. Karena jawabnya adalah samudera Kasih Sayang Rabbul Alamin.
“Inna sa’yakum lasyattaa” Sungguh perbuatan kalian itu berbeda – beda; QS. Al- Lail : 4. Ada maksiat dan ada taat, ada dosa ada pahala. Setiap manusia selain Nabi dan Rasul melewati hari – harinya dalam pahala dan dosa. Mereka lepas dari sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) maka hari – harinya dilewati dengan pahala dan dosa. Dan setiap dosa itu akan pupus dengan istighfar dan taubat. Beruntunglah mereka yang banyak bertaubat dalam hari – harinya dari segala dosa – dosanya. Semoga aku dan kalian diberi kelezatan taubat hingga selalu asyik bertaubat.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
“Fa amma man a’thaa wattaqaa; wa shaddaqa bil husnaa; fasanuyassiruhu lil yusraa; wa amma mam bakhila wastaghnaa; wakadzdzaba bil husna; fasanuyassiruhu lil ‘usra; wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” QS. Al-Lail : 5-11. Allah meneruskan firman-Nya ketika seseorang itu beriman dan bertaqwa dalam memperbanyak amalnya kepada Allah, mengikuti dosa – dosanya dengan penyesalan dan istighfar, memohon maaf kepada Rabbul Alamin. Melewati hari – harinya dengan penuh harapan kepada Allah untuk membenahi harinya lebih baik dari hari yang lalu, penuh harapan dan munajat serta memperbanyak shadaqah kepada para fuqara. Shadaqah yang ketahuan dan shadaqah yang tidak ketahuan. Shadaqah yang ketahuan sunnah dan shadaqah yang diam – diam juga sunnah
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wa shaddaqa bil husnaa” dan membenarkan semua apa yang baik yaitu yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw; QS. Al-Lail : 6. “Fasanuyassiruhu lil yusraa” perbuatan baik itu, ketaqwaannya itu, ketaatannya itu dan shadaqahnya itu adalah perbuatan baik semua; QS. Al-Lail : 7. Allah berkata “Aku akan memudahkannya kepadanya jalan yang lebih mudah”. Jalan kemudahan itu di dunia dan akhirat akan terbuka dengan semakin banyak kita beramal dan taat kepada Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita perjuangkan akan dilimpahi kemudahan jika diwarnai dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan seakan membenarkan apa – apa yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Dan beramal menurut kadar kemampuannya.
“Wa amma mam bakhila wastaghnaa” Mereka yang kikir dan menahan diri dari banyak beramal, apakah berupa shadaqah atau berupa ibadah; QS. Al-Lail : 8. “Wakadzdzaba bil husna” Ia mendustakan apa yang dibawa oleh Sang Nabi Saw; QS. Al-Lail : 9. “Fasanuyassiruhu lil ‘usra” Kami akan mudahkan ia ke jalan yang lebih sulit; QS. Al-Lail : 10. Semakin kita berpaling dari hal – hal yang luhur maka kehidupan kita akan semakin sulit, jika sulit itu niat. Jika ia tidak dapat kesulitan di dunia maka ia dapat kesulitan di yaumul qiyamah. Hadirin – hadirat, perbuatan taat, perbuatan baik, perbuatan mulia membawa kemudahan di dunia dan puncaknya di akhirat. Dan perbuatan yang buruk akan membawa kesusahan di dunia dan puncaknya d akhirat.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” Apalagi gunanya hartanya apabila ia sudah sampai ke tempat orang – orang yang dimurkai Allah; QS. Al-Lail : 11. “Inna a’laina lal hudaa; wa inna lanaa lal aakhirata wal u’laa" bahwa segala jalan petunjuk itu, adalah milik Allah dan dari Allah; QS. Al-Lail : 12-13. Sungguh milik-Ku lah semua kehidupan di dunia dan akhirat. Demikian firman Allah, milik Allah semua kehidupan dunia dan akhirat. Maka perbanyaklah doa dan munajat kepada Sang Pemilik dunia dan akhirat agar keadaanmu diperindah di dunia dan akhirat karena Dialah pemiliknya.
“Fa andzartukum naaran taladhdhaa; layashlaahaa ilal asyqa; alladzi kaddzaba watawallaa” Maka berhati – hatilah, Ku-nasehati kalian daripada api neraka yang mengerikan dan tidak akan masuk kedalamnya kecuali orang – orang yang jahat; QS. Al-Lail : 14-16. Hadirin – hadirat, demikian indahnya Rabbul Alamin yang selalu menyampaikan ayat – ayatNya dan seruan Kelembutan-Nya kepada kita dan hindarilah perbuatan yang bukan semampunya karena Dia (Allah) Maha Indah dan selalu ingin menerima yang indah – indah. Bila kita terjebak dalam hal yang hina disisi Allah, perindahlah dengan taubat dan istighfar, niscaya Allah mengganti itu semua menjadi pahala dan keluhuran.
Mereka yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, Ku-perbaiki dirinya dengan hal yang mulia semampunya. Allah gantikan dosa – dosa mereka menjadi pahala. Wahai Yang Maha Baik dan Maha Indah melebihi segenap kebaikan dan keindahan, terimalah segala kekurangan kami dan ketidaktaatan kami, gantikan dengan ketaatan dan keindahan kehadirat-Mu Ya Rabb.
Rasul saw bersabda memberikan peringatan kepada kita untuk tidak memperbesar dan mempertanyakan hal – hal yang sudah dihalalkan. Sebagaimana sabda beliau, riwayat Shahih Bukhari yang baru saja kita baca bersama tadi.
“Inna a’dzamalmuslimin jurman man sa-ala’an syai-in lam yuharram fahurrima min ajli mas’alatihi” sungguh dosa terbesar diantara muslim pd muslim lainnya mereka yang bertanya orang yang paling besar dosa muslim terhadap muslim lainnya yaitu yang paling jahat. Siapa? mereka adalah yang mempertanyakan sesuatu yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab ia mempertanyakannya.
Bagaimana contohnya? Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan makna hadits ini adalah orang – orang yang terus menggali dan terus mencari tahu pertanyaan – pertanyaan mengenai hal – hal yang sudah dihalalkan oleh Allah. Muncul dari kedangkalan pemikiran, dari kesombongan terhadap dirinya dan terhadap saudara - saudaranya yang lain. Sebagaimana mempertanyakan hal – hal yang telah diperbolehkan oleh Allah.
Contohnya: beberapa hari lagi kita memasuki bulan Rajab, ada 1 Rajab, 2 Rajab, 3 Rajab. Bagaimana hukumnya puasa di bulan Rajab?. Puasa di semua hari sunnah kecuali puasa di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Di bulan ramadhan hukumnya fardhu selain itu sunnah. Mau bulan Syawal, Jumadil Akhir, Jumadil Awwal, Rajab, kapanpun puasa itu sunnah. Muncul orang – orang di masa sekarang yang mengharamkan puasa Rajab. Lalu bagaimana dengan puasa di hari lain? Hari lain diperbolehkan sedangkan Rajab tidak boleh puasa. Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim mensyarhkan bahwa memang tidak pernah ada satu dalil yang shahih tentang puasa di bulan Rajab. Akan tetapi diriwayatkan oleh Abi Daud didalam Sunannya didalam riwayat yang shahih bahwa Rasul saw suka berpuasa di bulan haram. Bulan haram itu ada 4 yaitu Muharram, Dzulqaidah, Djulhijjah, dan Rajab. Al Imam Nawawi mengatakan, bulan Rajab salah satu dari bulan haram. Jadi puasa di bulan Rajab itu sunnah dengan dalil yang shahih. Puasa di bulan Rajab adalah hal yang sunnah yang sangat kuat dalilnya karena dijelaskan Rasul saw berpuasa di bulan haram. Maka mengingkari puasa bulan Rajab, terkena kepada hadits yang kita sebut tadi yaitu orang yang mempertanyakan dalil tentang berpuasa di bulan Rajab. Akhirnya muncul fatwa pengharaman puasa di bulan Rajab, padahal hal itu yang sunnah. Mereka itu mencari – cari hadits yang mengatakan sunnah puasa di bulan Rajab tidak ditemukan, maka mereka langsung mengharamkannya dan mengatakan puasa di bulan Rajab adalah bid’ah. Padahal Rasul saw berpuasa di bulan Rajab. Mereka tidak menemukan puasa di bulan Rajab, ada dalil shahihnya. Ternyata ada dalil shahihnya yang lebih umum dari bulan Rajab. Hadirin – hadirat, Al Imam Nawawi mengatakan hadits itu menjadi dalil sunnahnya puasa di bualn Rajab, karena tidak ada larangan puasa di bulan Rajab.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah salah satu makna daripada hadits mengenai orang yang mempertanyakan suatu masalah yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab pertanyaannya itu. Hadirin – hadirat, ketika mempermasalahkan 1 masalah dari kedangkalannya memahami syari’ah membuat munculnya fatwa – fatwa baru yang keluar dari ajaran yang benar. Seperti membid’ahkan maulid, mengatakan istighatsah syirik. Hal – hal seperti ini adalah mempertanyakan dan mempermasalahkan hal yang sudah dibolehkan sampai diharamkan karena ucapannya. Hati – hati dari hal yang seperti ini. Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan bahwa bukan berarti orang tidak boleh bertanya. Karena banyak bertanya adalah hal yang sangat dilimpahi pahala yang banyak. Demi kejelasan agamanya, demi kejelasan pemahamannya terhadap ilmu, tapi memperjuangkan hal yang halal agar menjadi haram adalah terkena hadits ini.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Ketika kita tidak tahu hukum suatu hal, jangan sesekali menghukuminya apalagi mengharamkannya. Kalau belum tahu dalilnya, ya sudah saya tidak tahu dalilnya entah itu sunnah atau bid’ah. Tapi jangan segera cepat – cepat diharamkan apalagi dikatakan bid’ah dan syirik. Ternyata hal itu adalah sunnah dan diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, hanya mungkin tidak sampai ilmunya kepada kita. Muncul sebagian saudara – saudara kita yang berbuat demikian. Semoga Allah membenahi aqidah kita dengan melimpahi kemuliaan aqidah.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Muslim “Barangsiapa yang mengajarkan 1 hal yang baru selama itu berupa kebaikan didalam Islam maka baginya pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya, barangsiapa yang mengajarkan hal – hal yang baru berupa keburukan didalam Islam maka baginya dosa dan dosa bagi orang yang mengikutinya tanpa dikurangkan sedikit pun”.
Jadi hal yang baru selama baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah telah ada dalilnya riwayat Shahih Muslim. Sebagaimana hal – hal yang baru dilakukan setelah wafatnya Sang Nabi saw dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Namun selama itu baik, hal itu telah diperintah oleh Allah sebagaimana Al Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa berkata Al Hasan pada ayat “innallah ya’murukum bil adli wal ihsan, .....(hingga akhir ayat) (QS Annahl 90)”. Al Imam Ibn Rajab menjelaskan ayat itu tidak menyisakan suatu perbuatan baik kecuali sudah diperintah oleh Allah dan tidak menyisakan satu perbuatan buruk kecuali sudah diperintah oleh Allah. Apakah sudah ada di masa Nabi atau belum ada di masa Nabi? Zaman sekarang hadirin – hadirat, tentunya kita memakai lampu, memakai karpet di masjid. Zaman dulu tidak dipakai, tapi selama itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syari’ah boleh - boleh saja. Namun menambah syari’ah hukum yang fardhu, itulah yang dinamakan kemungkaran dan bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat).
Mengenai hadits Rasul saw yang ada “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam kitabnya Syarh Nawawi ala Shahih Muslim bahwa makna hadits ini aamuun makhshush (umum tapi ada kekhususannya). Sebagaimana firman Allah Swt “akan Ku-penuhi neraka jahannam itu dengan seluruh jin dan manusia kesemuanya”. Buktinya tidak semua yang masuk ke dalam neraka jahannam, ada yang masuk ke dalam surga. Namun Allah berkata “kesemuanya”, maksudnya ke semua yang bathil, ke semua yang dhalim, ke semua yang jahat. Demikian hadirin makna hadits tersebut juga. Dikatakan oleh Imam Nawawi “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Hal ini adalah umum tapi ada pengecualiannya, tidak semua bid’ah itu sesat. Bid’ah yang .... adalah bid’ah yang sesat karena diperjelas oleh hadits tadi. Barangsiapa yang mengajarkan hal yang baru, yang baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah Islam kita maka akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya.
Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhu sebagaimana riwayat Shahih Bukhari bahwa di masa ia menjabat sebagai khalifah. Ia didatangi oleh Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhum. Sayyidina Umar ra mengadukan pembunuhan banyak para sahabat pada kejadian ahlul yamamah (yg terbunuh banyak para penghafal Alqur’an). Banyak sahabat yang hafal Alqur’an dibunuh, maka berkata Sayyidina Umar ra “wahai Amirul Mukminin, wahai khalifah sebaiknya Alqur’an ini kita tuliskan (jilidkan dalam satu buku)”. Karena sebelumnya belum dibukukan. Ada yang menulisnya beberapa halaman, ada yang menghafalnya. Ini kalau tidak dikumpulkan dalam 1 buku, nanti generasi setelah kita tidak bisa mengenal Alqur’an lagi karena banyak para sahabat yanghafal Alqur’an dibunuh maka segera kita bukukan sebelum lupa dari hafalan Alqur’an. Nanti orang – orang yang hafal Alqur’an wafat, habis sudah. Mumpung yang hafal Alqur’an masih banyak di masa itu. Abu Bakar Ashshiddiq berkata “kaifa af’al syaiy’ lam yaf’aluhu Rasulullah?” bagaimana aku berbuat yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?. Rasul saw tidak memerintahkan untuk membukukan Alqur’an, bagaimana aku membukukannya? Sayyidina Umar berkata “Lakinna wallahi fiihi khair” tapi dalam perbuatan itu ada kebaikan dan kebaikan sudah diperintah oleh Nabi saw. Maka Abu Bakar Asshiddiq setuju dan Alqur’an dibukukan. Selesai pada masa khalifah Sayyidina Utsman bin Affan radiyallahu anhu hingga saat ini disebut dengan “Mushaf Utsmani” dan disetujui oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw hingga diteruskan oleh beliau karamallahu wajhah hingga saat ini.
Itu bid’ah hasanah, hal yang tidak pernah diperintah oleh Rasul saw. Maka jika hal yang baru tidak diperbolehkan maka jangan sentuh Alqur’anulkarim karena hal itu dibukukan setelah wafatnya Sang Nabi saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian makna dari hal – hal yang baik. Jika diadakan selama tidak bertentangan dengan syari’ah maka hal itu merupakan kebaikan. Dan kebaikan itu mendapatkan pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya. Namun jika hal itu buruk maka hal itu akan membawa dosa baginya dan dosa bagi orang yang mnegikutinya.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Semakin kita mendekat dan memahami kemuliaan tuntunan Sang Nabi saw akan semakin indah hari – hari kita. Dan Allah Swt menjadikan pada setiap perbuatan baik kemuliaannya. Allah jadikan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Dan semakin seseorang itu berbuat baik kepada makhluknya Allah maka semakin ia dimuliakan di dunia dan akhirat. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika orang yang banyak membantu kepada saudara muslimnya, saudara – saudaranya maupun ia dari kelompok muslim ataupun diluar Islam bahkan hewan. Berbuat baik kepada semua yang hidup dari makhluknya Allah, ada pahalanya.
Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika salah seorang sampai kepada Allah kehabisan amal pahala. Ia banyak berbuat pahala tapi banyak juga berbuat dosa maka ketika ia sudah diperintahkan masuk kedalam neraka karena amalnya sedikit, habis tergadaikan oleh dosa – dosanya. Allah ditanya oleh hamba itu “Rabbiy, aku dimasa hidupku banyak membantu orang yang susah”. wahai Allah aku dulu sering membantu orang yang susah sedangkan Kau lebih berhak untuk membantu dan melimpahkan kemudahan atas kesusahan. Maka sekarang shadaqahlah padaku, maka Allah berkata “beri kemudahan kepada hamba-Ku karena ia sering membantu orang yang susah”. Demikian Allah menghargai perbuatan baik itu, padahal perbuatan baik itu sudah dicatat dalam pahala, padahal pahalanya sudah tergadai oleh dosa. Namun sifat baik tidak dilupakan oleh Allah Swt. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, ketika seorang yang menjebak seekor kucing dalam sebuah kamar, tidak diberi makan dan minum sampai mati kehausan dan lapar. Allah masukkan ia ke dalam neraka. Allah tidak mengasihani hamba yang sulit mengasihani makhluk-Nya. Semakin besar seseorang mengasihani makhluk-Nya walaupun hewan maka Allah Swt mengasihaninya.
Hadirin, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika seorang wanita yang banyak berbuat dosa melihat seekor anjing yang kehausan sampai menjilat tanah karena hausnya. Wanita itu mengambilkan air dengan sepatunya, karena di sumur anjing tidak bisa mencapai air di sumur. Ia memberinya minum maka Allah Swt berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Hewan tidak bisa berterimakasih kepada manusia tapi Allah berterimakasih untuknya.
Hadirin, terjadi beberapa waktu yang silam saat itu saya masih di Tarim, Hadramaut. Tinggal beberapa lama di kota syihir, wilayah.. Mukalla disitu ada seorang wanita tua wafat, suatu hari saya melihat jenazah diusung. Tapi ada 1 hal yang ganjil. Apa yang ganjil? Ketika jenazahnya diusung, banyak orang yang mengusungnya dan ratusan ekor kucing ikut mengantarkan jenazah. Ini ganjil, saya fikir ada jenazah diikuti ratusan ekor kucing dan baru ini saya melihatnya. Ketika saya bertanya – tanya, kenapa ini? Mereka memuji wanita tua yang wafat itu alaiha rahmatullah. Di masa hidupnya nafkahnya dicukupi oleh anak – anaknya, kerjanya tiap pagi masuk ke pasar mengambil bekas kepala – kepala ikan yang terbuang dan ditaruh di sebuah gerobak dan ia melemparnya kepada semua kucing yang ada di jalanan. Bertahun – tahun itu terjadi sampai setiap pagi, ratusan kucing sudah berjajar di jalanan menunggu bagian yang diberikan dari wanita tua itu. Ketika ia wafat, ratusan ekor kucing itu mengantarkan jenazahnya. Berhari – hari puluhan ekor kucing tidak meninggalkan kuburnya.
Demikian hadirin – hadirat, Allah jadikan Ibrah (contoh) bahwa setiap hewan itu mempunyai perasaan terimakasih kepada yang memberinya. Bagaimana aku dan kalian yang selalu diberi oleh Allah, adakah perasaan terimakasih terlintas untuk selalu berbakti kepada Allah.
Semoga Allah menghiasi jiwa kita dengan keindahan, mewarisi jiwa kita dengan sifat syukur. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Wahai Yang Maha Menerbitkan matahari kebahagiaan, terbitkan matahari kebahagiaan dalam hari – hari kami di dunia dan di akhirat, dhahiran wa bathinan. Jadikan jiwa kami selalu terang – benderang dengan cahaya kesejukan Nama-Mu, jadikan jiwa kami selalu tenang dalam cahaya kenikmatan dan kesejukan Nama-Mu, jadikan hari – hari kami selalu dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Ya Rahman Ya Rahim pada-Mu kami bermunajat atas segala doa dan harapan, dari segala hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, jauhkan kami dari segala musibah dan kesulitan yang kami ketahui dan tidak kami ketahui. Limpahkan untuk kami segala kemudahan dan anugerah yang kami ketahui dan belum kami ketahui.
Hadirin – hadirat, hari ini adalah hari jadinya kota Jakarta hampir mencapai abad yang ke 5. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan keadaan Jakarta dengan yang sebaik – baiknya. Kota yang penuh kedamaian, kota yang penuh keluhuran, kota yang penuh iman. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Ya Dzaththauli wal In’am. Kita lanjutkan dengan doa bersama kita mendoakan seluruh muslimin – muslimat dan semoga Allah memunculkan pemimpin yang terbaik bagi kita bangsa Indonesia ini diberikan pemimpin yang membawa Rahmat dan Kedamaian Allah Swt.
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahim
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah
Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Senin, 14 September 2009

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah

Itsna Asyariyah ?
 Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.
Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.
Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.
Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.
Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).
1.      Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a)      Syahadatain
b)      As-Sholah
c)      As-Shoum
d)      Az-Zakah
e)      Al-Haj
Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a)      As-Sholah
b)      As-Shoum
c)      Az-Zakah
d)      Al-Haj
e)      Al wilayah
2.      Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a)      Iman kepada Allah
b)      Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c)      Iman kepada Kitab-kitab Nya
d)      Iman kepada Rasul Nya
e)      Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f)       Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a)      At-Tauhid
b)      An Nubuwwah
c)      Al Imamah
d)      Al Adlu
e)      Al Ma’ad
3.      Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat
Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.
4.      Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah                     :  Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.
5.      Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a)      Abu Bakar
b)      Umar
c)      Utsman
d)      Ali Radhiallahu anhum
Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka). 
6.      Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.
Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.
7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.
Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.
8.      Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.
Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.
9.      Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :
a)      Bukhari
b)      Muslim
c)      Abu Daud
d)      Turmudzi
e)      Ibnu Majah
f)       An Nasa’i
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :
a)      Al Kaafi
b)      Al Istibshor
c)      Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih
d)      Att Tahdziib
(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 
10.  Ahlussunnah         : Al-Qur’an tetap orisinil
Syiah                     : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).
11.  Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.
12.  Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.
Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.
13.  Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.
Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.
14.  Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.
Syiah                     : Khamer/ arak suci.
15.  Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.
Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.
16.  Ahlussunnah         :  Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.
Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.
(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).
17.  Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.
Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.
(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).
18.  Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.
Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.
19.  Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.
Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).
Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil
seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.
Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).
Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).
Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).
Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).
Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.
Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.
Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.
Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.
Source : http://www.albayyinat.net/jwb5tc.html


Yahudi Akan Terbasmi

Hadits Tentang Perang Melawan Yahudi
Oleh : Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
Diantara hal yang membuat hati kaum Mukminin tenteram dan karenanya mereka semakin yakin ialah ; bahwa negeri yang menjadi tempat berkumpulnya bebagai macam suku Yahudi Dunia, yang kemudian secara zalim dan bathil dinamakan negara Israel, adalah negara yang akan musnah dan terhapus dari muka bumi. Saya tidak katakan tanggal sekian dan tanggal sekian seperti yang dilakukan secara tidak benar oleh sebagian orang yang memiliki semangat menggebu.
Bisa jadi waktunya akan datang sebelum ramalan mereka jatuh tempo, dan itu tidak sulit bagi Allah. Ya, bisa jadi (waktunya akan datang) jauh sebelum itu.
“Artinya : Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia” [Al-Muddatstsir : 31]
Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia Yang Maha Tahu dan Maha Waspada.
Karena itulah ada tokoh politik (Muslim) konteporer yang mengatakan :”Sesungguhnya perdamaian kita bersama Yahudi hanya semata-mata perdamaian politis, bukan keyakinan”.
Sesunguhnya ada beberapa riwayat hadits Nabi yang shahih dan tegas, bahwa petempuran besar (melawan bangsa Yahudi-pen) akan terjadi, pasti. Dan bahwa kalimat Tauhid pasti akan mengalahkan orang-orang Yahudi tersebut, baik majikan-majikan maupun budak-budaknya (para pemimpinnya maupun pengikut-pengikutnya -pen).
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Kalian akan memerangi bangsa Yahudi sampai seseorang di antara mereka bersembunyi di belakang batu. Maka batu itu berkata : Wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, bunuhlah !”.
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kemudian kaum Muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon. Maka batu -atau- pohon itu berkata : Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah. Kecuali pohon Gharqad (sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi), sesungguhnya Gahrqad itu adalah salah satu pohon bangsa Yahudi”.
Dua riwayat di atas adalah riwayat paling kuat dan paling shahih yang di satu sisi menjelaskan pasti dan benar-benarnya kejadian perang melawan Yahudi, sedangkan di sisi lain menjelaskan tentang yakin (pasti)nya kemenangan di tangan kaum Muslimin.
Riwayat tersebut -segala puji bagi Allah, dan dengan taufiq-Nya amat sangat jelas, jelas dan jelas. Tidak perlu komentar dan tidak membutuhkan keterangan.
Dalam dua nash di atas terdapat berbagai pentunjuk manhaji (bersifat manhaj/bersifat ajaran), yang paling menonjol di antaranya adalah dua hal :
Pertama : Berkaitan dengan awalnya, yaitu perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat :”Kalian pasti akan memerangi (orang Yahudi). Sabda ini memberi petunjuk yang tegas bahwa masa depan hanya untuk Islam saja -bi idznillah-, akan tetapi tentu Islam yang sesuai dengan manhaj Salaf. [Lihat : Basha'ir Dzawisy Syaraf Bisyarhi Marwiyyaati Manhajis Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 151-165].
Kedua : Berkaitan dengan akhirnya, yaitu sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan perkataan pohon atau batu : “Wahai Muslim, wahai hamba Allah!”. Kisah ini menunjukkan bahwa manhaj Tarbawi Ishlahi (pola pendidikan yang bertujuan perbaikan) yang tegak berdasarkan realisasi tauhid dan peribadatan adalah betul-betul memiliki kesiapan untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi dan untuk memulai kehidupan baru dengan kehidupan Islami yang sesuai dengan pola kenabian. [Lihat pula : Madaarij al-Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 145-153].
Di sana ada riwayat lemah -dari berbagai periwayatan- yang tersebar di tengah-tengah masyarakat dan bergulir di kalangan orang-orang khusus dan orang-orang awam, yang wajib diungkap dan dijelaskan (yaitu) :
Riwayat Ibnu Sa’d dalam “Tahabaqat”nya VII/422, Al-Bazzar dalam “Musnad”nya IV/138, Az-Zawaid, Ibnu Abi Ashim dalam “Al-Ahad wa Al-Matsani” 2458, dan lain-lain, dari Nahik bin Shuraim As-Sakuni, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Musyrikin sampai akhirnya sisa-sisa (pasukan) kalian akan memerangi Dajjal di sekitar sungai di Urdun (Yordan), kalian di sebelah timurnya dan mereka di sebelah baratnya”.
Perawinya berkata : Saya tidak tahu di bumi sebelah manakah Urdun (Yordan) pada waktu itu.
Hadits ini sanadnya dha’if, di dalamnya terdapat Muhammad bin Aban Al-Qurasyi. Abu Dawud, Ibnu Ma’in, Al-Bukhari dan imam-imam lain mendha’ifkan (melemahkan)nya.
Guru kami, ‘Allamah, Imam, lautan ilmu, Syaikh Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya- telah mengeluarkan hadits tersebut secara rinci dalam kitab karyanya yang mengagumkan : Silsilah Al-Hadits Adh-Dha’ifah III/460-461. Beliau menjelaskan kelemahan hadits itu, kemudian beliau Rahinahulah berkata : “Saya tulis hadits ini setelah banyak pertanyaan mengenainya, bertepatan dengan pendudukan bangsa Yahudi di tepi barat Yordania pada awal bulan Haziran (Juni) tahun 1967M. Semoga Allah menghinakan dan merendahkan mereka serta membersihkan negeri ini dari mereka dan dari pendukung-pendukungnya”.
Saya (Syaikh Ali Hasan) berkata : Saya aminkan do’a beliau Rahimahullah di atas, sambil saya jelaskan bahwa sebab penulisan makalah ini adalah karena pembantaian, pengusiran serta perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi semenjak kurang labih tiga bulan yang lalu (dihitung sejak majalah Al-Ashalah edisi ini terbit yaitu Syawal 1421H) terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin di Palestina yang terjajah. Hanya Allah-lah yang dapat memberikan pertolongan.
Penutup dari Penerjemah
Demikianlah, insya Allah jika kaum Muslimin telah kembali kepada agamanya secara sungguh-sungguh, maka saat itulah negara Yahudi akan lenyap dari permukaan bumi. Sebelumnya akan di awali dengan pertempuran habis-habisan seperti diterangkan dalam dua hadits shahih di atas. Kita senantiasa memohon taufiq dan pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.


PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Friday, 11 September 2009
Malam Lailatul Qadar
Senin, 7 September 2009


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
(صحيح البخاري)
Rasulullah SAW bersabda :
“ Temuilah malam Lailatul qadr di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan “ (Shahih Bukhari)



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِاْلَحَمْدلُلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ ياَمَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وعَلىَ أَلِهِ الحَمْدُلِله الَّذِيْ جَمَعَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ أَكْرَمَنَا، الحَمْدُلِله الَّذِيْ وَعَدَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ..
Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Penguasa tunggal Maha Sempurna dan Abadi Rabbul ‘Alamin Yang Maha Luhur dan Maha Suci dan Maha mensucikan jiwa dan sanubarihamba-hambaNya, Maha menyingkirkan segenap kesulitan dan musibah bagi hamba-hambaNya, dan Maha mampu melimpahkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang dikehendakiNya, beruntunglah mereka yang selalu memperbanyak doa dan munajat memanggil namaNya Yang Maha Luhur. Karena setiap seruan panggilan ke hadirat Allah, memanggil nama Allah, akan abadi dan akan sampai ke hadirat Allah Jalla Wa ‘Alaa. Di Yamul Mahsyar (hari perkumpulan seluruh manusia), Allah SWT akan mengenal bibir-bibir yang selalu memanggil namaNya , Firman Allah dalam hadits qudsy :

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“Aku bersama hambaKu ketika hambaKu mengingatKu, dan bergetar bibirnya menyebut namaKu “. Dan Allah SWT berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّكُمْ يَرْشُدُوْنَ ( البقرة :186
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS. Al-Baqarah: 186).
“ Wahai Muhammad, katakanlah kepada hamba-hambaKu jika mereka bertanya tentang dzatKu ini, katakanlah bahwa Tuhan mu dekat إِنِّيْ قَرِيْبٌ “ Sungguh Aku (Allah) Maha dekat “, lebih dekat kepadanya dari semua yang dekat padanya, sebelum ia mengenal satu pun dari teman dan kerabatnya, sebelum ia mengenal ayah dan ibunya, Allah telah Maha dekat dan mengenalnya sebelum ia lahir ke muka bumi, selama namanya telah dicipta dan ditaruh di sulbi nabiyullah Adam AS, إِنِّيْ قَرِيْبٌ Akulah (Allah) Yang Maha dekat kepadanya, dan Maha menawarkan kedekatanNya yang abadi setelah kehidupan di muka bumi. Semoga aku dan kalian selalu menerima lamaran kedekatan Allah Jalla Wa ‘Alaa dunia wal akhirah, dan semoga Allah memberi kemudahan bagiku dan kalian untuk selalu dalam keluhuran cahaya kedekatan ke hadirat Allah. Jangan selalu berputus asa berdoa dan bermunajat jika kita merasa lemah dan rentan maka berdoalah karena Allah membimbing mu dan mempermudah mu membuka jalan kemudahan untuk sampai kepada pintu-pintu keluhuran dan kesucian hidup, yang dengan itu kita sampai kepada rahasia kebahagiaan yang kekal, keridhaan Allah, cinta Allah, kasih sayang Allah. Betapa beruntung mereka yang menerima lamaran Allah untuk dapat menjadi pencintaNya, dan betapa ruginya mereka dengan segala apa yang mereka lewati dalam kehidupan di muka bumi, jika mereka lepas dan menolak lamaran Allah untuk menjadi kekasihNya. Firman Allah dalam hadits qudsy :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَائَهُ
“ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Ku (Allah), Aku pun rindu berjumpa dengannya”.
Hadirin hadirat…demikian kasih sayang dan kerinduan yang ditawarkan pada jiwa yang mau rindu kepada Yang Maha menawarkan kebahagiaan yang kekal …ALLAH. Renungi kalimat agung dan luhur dari Rabbul ‘Alamin : “ Barangsiapa yang rindu berjumpa dengan Allah, Allah pun rindu berjumpa dengannya”. Alangkah indah hari-hari seorang hamba, ia lewati hari-hari nya dan ia dirindukan Allah. Semoga aku dan kalian diterangi jiwa kita dengan cahaya kerinduan berjumpa dengan Yang Maha Indah, dengan pencipta kita dari tiada, dengan Yang Maha Dermawan dan menyingkirkan kita dari segala kesulitan dan musibah, demi cahaya kerinduan ke hadirat Allah Ya Zal Jalaali Wal Ikram. Sampailah kita di hari yang mulia ini 17 Ramadhan yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr Al Kubra, dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi SAW, pertama kali ketika beliau SAW berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah Al Munawwarah sebelum menuju Badr Al Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik :

مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي
“ Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (saw), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi”. Ketika berdiri kaum muhajirin dan anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( القلم : 4
“ Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.( QS.Al Qalam : 4) Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Maka Rasulullah SAW berkata :“ bagaimana pendapat kalian “ ?, maka berkata salah seorang Anshar :

لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟
“ Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami”?, maka Rasul SAW berkata : betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar? , maka salah satu kaum Anshar berkata :
يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ
“ Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu kemanapun engkau pergi , jika engkau mengajak kami kemanapun kami akan ikut, jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu, barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah”.
Inilah tujuan Muhajirin dan Anshar yang selalu ingin menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW, mereka rela mati kesemuanya demi menggembirakan hati Muhammad Rasulullah SAW,

فَسُرَّ وَجْهُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,
maka terlihat terang benderang dan gembira wajah Rasul SAW, maka mereka pun berangkat.
Hadirin hadirat… malam 17 Ramadhan malam munajat , Sang Nabi berdoa kehadirat Allah terangkat kedua tangannya hingga jatuh ridanya (rida : sorban dipundak)dari panjangnya doa beliau, diantara doa beliau SAW riwayat Shahih Al Bukhari :

اَللَّهُمَّ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ ...
“ Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai,

لَا تُعْبَدُ بَعْدَ اْليَوْمِ
aku risau tidak ada yang menyembah Mu di muka bumi, karena seluruh orang-orang para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah. Demikian risaunya Sang Nabi, beliau mempunyai jiwa yang risau, paling risau sesuatu menimpa umat nya inilah jiwa Sayyidina Muhammad, inilah jiwa yang Allah katakan :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ (التوبة : 128 )
“ Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian sendiri, yang sangat menjaga kalian dan sangat berat memikirkan apa yang menimpa kalian, dan sangat santun dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman”. ( QS. At Taubah : 128)
Inilah Sayyidina Muhammad SAW yang berdoa :

اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
Sampai di saat musibah yang paling dahsyat di dunia ini, yaitu sakaratul maut seraya berdoa kepada Allah di saat beliau akan wafat “ Ya Allah keraskan dan pedihkan sakaratul mautku dan ringankan untuk seluruh umatku ‘’. Inilah doa Sayyidina Muhammad SAW, rela menerima kepedihan sakaratul maut demi teringankan untuk umatnya. Maka, hadirin hadirat…satu-satunya jiwa yang paling tidak tega melihat umatnya merintih di dalam api neraka karena berdosa beliau bersujud untuk memohonkan syafaat untuk para pendosa, inilah Muhammad Rasulullah SAW pimpinan Ahlul Badr. Maka mereka keluar dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah SAW berkata janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian, jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita. Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pasukan musyrikin quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pasukan kuda yang berlapis baja pula, berhadapan dengan pasukan 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani, inilah keadaan mereka. Allah berfirman :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ ( الأنفال : 9
“ Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS.Al Anfal : 9)
Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar, aku buta sejak perang Badr kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian dimana turunnya pasukan malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian indahnya peperangan Badr Al Kubra ini, ketika Sayyidina Abu Thalhah Al Anshari RA yang sangat mencintai Sang Nabi SAW, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah :

وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ
“ Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata “. Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul : Abu Thalhah ka alf min ummati ( Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul SAW yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat . Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamul lail di saat perang terjatuh pedangnya, bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pasukan kuffar quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan “ jangan menyerang sebelum mereka menyerang”. Demikian hadirin hadirat, manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau SAW roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pasukannya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata ; tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh ...

وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ
( wajahku bukan wajahmu dadaku bukan dadamu ), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul. Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari pada perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ RA dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang ridanya (rida : sorban dipundak yg sering juga dililitkan dileher oleh beliau saw), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah, maka para Shahabat berkata biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel, maka Rasul berkata kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka, maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad SAW . Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajahku jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka, Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keterunannya mendapat hidayah, demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad SAW. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.
Hadirin...Sayyidina Utsman bin Affan RA, yang saat akan berangkat ke Badr terkena musibah karena istrinya sakit. Sayyidina Utsman mau meninggalkan istrinya namun ia tidak berani karena istrinya adalah putri Rasulullah SAW, baginya peperangan Badr belakangan, ini putri Sayyidina Muhammad SAW. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya Rasulullah, putrimu sakit aku mohon ijin. Maka Rasulullah berkata : Kau tetap jaga putriku. Selesai perang Badr, maka Rasulullah saw bersabda, Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsy riwayat Shahih Bukhari :

اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ
“ Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang “. Maka Sayyidina Utsman berkata : Ya (Wahai) Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu. Maka Rasulullah berkata : Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr. Demikian hadirin hadirat, karena beliau ( Sayyidina Utsman ) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr Al Kubra, Sayyidina Utsman RA.
Hadirin hadirat yang di muliakan Allah…
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan ( Hadramaut ). Setelah mereka ( penduduk Yaman ) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA. Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut. Di kota Tarim tempat guru mulia kita dan para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .
Hadirin...selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA . Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah : semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .
Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama’ di Baghdad berkata : Wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!? Al Imam berkata: Aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan, maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.
Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid. Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW.
Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. Demikian hadirin hadirat kemuliaan silsilah yang sangat mulia ini, sampailah kabar agung ini kepada kita Muslimin Muslimat di malam hari ini. Semoga aku dan kalian selalu bersama kemuliaan Ahlul Badr dunia dan akhirat.

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
( seseorang bersama dengan orang yang dicintainya ).
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Sampailah kita di malam-malam agung di hadapan sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang penuh dengan cahaya keluhuran, malam-malam yang penuh dengan cahaya kebahagiaan dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, meneruskan dari keagungan firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ¤ وَمَاأَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ ¤ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ¤ تَنَزَّلُ اْلمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ¤ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ اْلفَجْرِ ¤ ( القدر : 1-5
Allah memberikan kemuliaan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, Allah befirman “ Bahwa Lailatul Qadr itu lebih mulia daripada seribu bulan, dan di saat itu diturunkan para Malaikat maksudnya untuk membawa rahmah, dan juga malikat Jibril AS, karena yang disebut “ اَلرُّوْحُ “ dalam ayat itu sebagian besar Mufassir mengatakan adalah Jibril AS, turun ke bumi bersama jutaan milyar malaikat yang tidak terhitung untuk membawa rahmat Allah di malam itu”.
Hadirin hadirat..dan ketahuilah bahwa Lailatul Qadr bukanlah satu dua detik, sebagian orang memahami Lailatul Qadr itu satu dua detik saja, Lailatul Qadr itu sepanjang malam di malam itu. Malamnya yang mana ? sekarang kita bahas, jadi yang ibadah di malam itu dikalikan seribu bulan, kira-kira 83 tahun. 1000 bulan itu kalau dibagikan kira-kira 83 tahun, itu hadiah untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya, asalkan mereka ibadah apapun di malam itu sampai terbitnya matahari di Lailatul Qadr, maka saat itu mereka mendapat pahala dikalikan 1000 bulan. Kalau cuma shalat isya’ saja seakan ia shalat Isya selama seribu bulan, kalau ia Tarawih 20 rakaat, berarti ia bersujud 40 kali di dalam setiap malam dalam 1000 bulan, kalau ia memakai siwak kalikan 70 kali lipat, kalau ia berjamaah kalikan 27 kali lipat, karena di bulan Ramadhan lebih dari 700 kali lipat kalikan 1000 bulan, MasyaAllah!!!
Lantas Rasul SAW diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW beri’tikaf di 10 hari malam pertama bulan Ramadhan, maka datanglah malaikat Jibril AS dan berkata : “Wahai Rasul SAW yang kau kehendaki itu masih di depan”. Rasul menantikan malam Lailatul Qadr, masih di depan maksudnya masih nanti. Rasul SAW beri’tikaf lagi sampai 10 hari yang kedua, jadi 20 hari Rasul I’tikaf. Maka Jibril AS berkata : “Ya Rasululallah yang engkau mau itu di depanmu”, maksudnya 10 hari malam terakhir. Maka keesokan harinya Rasul berkhutbah ,pagi tanggal 20 Ramadhan Rasul SAW memanggil para Sahabat dan menyampaikan taushiah bahwa sungguh Allah SWT menentukan malam Lailatul Qadr aku melihatnya di dalam mimpiku, aku bersujud dalam keadaan tanah ini membasah yaitu gerimis.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي اْلوِتْرِ مِنَ اْلعَشْرِاْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“ Carilah malam Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir” kata Rasul SAW, itu tanggal 20 Ramadhan, malamnya terjadi gerimis shubuh itu Rasulullah sujud para Sahabat melihat di dahinya ada bekas lumpur dari sujud, khutbah beliau kemarin menunjukkan malam Lailatul Qadr malam 21 di saat itu.
Namun Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang kita baca tadi “ Carilah kemuliaan Lailatul Qadr itu di sepuluh malam terakhir di malam ganjilnya”, jadi malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29 ada lima malam untuk kita, di situ Rasulullah SAW mengatakan inilah malam-malam kemungkinan datangnya Lailatul Qadr. Jadi memperbanyak ibadah bagusnya di setiap malam Ramadhan, malam kesatu, malam kedua, malam ketiga, malam keempat karena sebagian ulama’ mengatakan Malam dengan Tahajjud, doa, cinta , dan rindu kepada Allah adalah Lailatul Qadr baginya. Maka semoga setiap malam kita adalah Lailatul Qadr, lebih lagi kalau di setiap malam Ramadhan kita dalam cinta, rindu dan tangis kepada Allah, lebih lagi jika setiap malam maka salah satu malamnya adalah Lailatul Qadr kalikan dengan 1000 bulan, 83 tahun.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Rahasia kedermawanan Allah sangat luas. Diriwayatkan pula di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda riwayat Sayyidina Bilal Al Muadzzin RA :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ
Ada lagi hadits lain yang mengatakan “temui Lailatul Qadr di tujuh malam terakhir”. Hadits ini berbeda dengan hadits yang tadi, kalau tadi dibilang sepuluh malam terakhir, ini hadits bilang tujuh malam terakhir, maka bisa kita ambil yang mana saja, yang amannya ambil sepuluh malam terakhir,
kenapa dijadikan Lailatul Qadr itu di malam-malam terakhir Ramadhan? Karena sifat manusia di awal-awalnya semangat di akhir-akhirnya turun, maka Allah jadikan Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir supaya umat semangat lagi, supaya mereka termuliakan. Allah tidak dapat untung apa-apa daripada kita, Allah ingin kita beruntung dan makin dekat kepadaNya maka dijadikanlah di sepuluh malam terakhir. Nah, sepuluh malam terakhir ini hati-hatilah dan jagalah jangan sampai malah di sepuluh malam terakhir ini kita sibuk memikirkan pakaian baru belum ada dan lain sebagainya. Hadirin hadirat…hal seperti itu syi’ar boleh-boleh saja, tapi ada anugerah yang lebih abadi ditawarkan oleh Allah di hari-hari mulia sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga Allah memuliakan aku dan kalian dengan kemuliaan Lailatul Qadr.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Perlu juga saya jelaskan dari banyak yang bertanya tentang shalat tarawih yang cepat , sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr

كَأَنَّهُ مَا يَقْرَأُ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ
(seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah) , kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya. Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat , seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.
Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan سُبْحَانَ الله satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan سُبْحَانَ الله , itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya. Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam kalau sekadar kalimat سُبْحَانَ الله itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak. Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah.
Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. Jadi yang mau melakukan shalat tarawih secara cepat ada dalilnya. Yang mau melakukan secara lambat shalat sunnah boleh juga, keduanya dilakukan oleh guru mulia kita Al Allamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz, shalat sunnah dengan cepat shalat sunnah dengan lambat. Sekarang beliau melakukan shalat sunnah Tarawih di Darul Musthafa dengan lambat, dalam satu bulan bisa dua atau tiga kali khatam Al qur’an dengan bacaan Al quran, namun beliau juga melakukan shalat sunnah tasbih dengan cepat.
Shalat tasbih, belajar kalau seandainya belum tahu, disunnahkan shalat tasbih meskipun sekali dalam seumur hidup, kalau bisa tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, kalau bisa tiap hari tapi guru mulia kita melakukannya disana setiap malam di bulan Ramadhan setelah shalat Maghrib. Beliau melakukan dengan cepatnya shalat tasbih itu paling sulit kenapa? karena membaca

وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ الله
saat ruku’ 10 kali, saat I’tidal 10 kali, saat sujud..terus sampai sempurna 300 kali bacaan tasbih. Guru mulia kita melakukan shalat tasbih sangat cepat, kenapa shalat secepat itu..karena teriwayat shalat sunnah cepat. Tapi kalau sendiri disunnahkan jangan cepat-cepat , kalau untuk kita sendiri nikmati ruku’ dan sujud bersama kemuliaan Allah SWT.
Para Salafuna As Shalih banyak yang melakukan shalat sunnah cepat, banyak yang melakukan shalat yang lambat. Di dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir dijelaskan, sebagian dari salaf melakukan shalat sunnah seribu rakaat setiap harinya, shalat sunnah seribu rakaat bagaimana cepatnya!?.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal itu diperbuat pula oleh Al Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad ibn Husain bin Ali bin Abi Thalib RA, di setiap malam shalat 1000 rakaat , demikian pula Al Imam Syafi’i, dan demikian pula sebagian banyak para Imam, dan adapula yang memanjangkan malam-malamnya dengan shalat sunnah dua rakaat.
Hadirin hadirat, dari semua riwayat ini semoga aku dan kalian dalam keberkahan dunia dan akhirat. Satu hal lagi yang perlu saya bahas, adalah masalah mandi di siang hari bulan Ramadhan, sikat gigi, dan berusaha meringankan puasanya, bagaimana hukumnya? Hukumnya makruh, tapi kalau seandainya perbuatan itu kalau tidak dilakukan bisa membuat puasanya batal maka menjadi Wajib, misalnya lemah kalau saya tidak mandi saya bisa pingsan maka batal puasanya, jadi harus qadha’ maka saya harus mandi, (maka) mandi sewajarnya mau sepuluh kali setiap hari (pun tidak apa apa demi menjaga puasanya), atau kalau saya tidak mandi akhirnya lemah nanti, saya bekerja, saya sekolah, saya mempunyai kesibukan rumah tangga misalnya, maka tentunya yang seperti itu boleh-boleh saja tidak menjadi makruh. Yang menjadi makruh adalah mampu melewati puasa tapi diringan-ringankan, supaya lebih ringan lagi mandi padahal dia tidak mempunyai kesibukan apa-apa, karena apa? Yang dimakruhkan itu adalah meringankan puasa padahal mampu.
Karena Rasul SAW berkata: Paksakan dirimu sampai batas kemampuan jangan lebih dari batas kemampuan, kalau lebih dari batas kemampuan malah menjadi makruh. Jadi kalau mau mandi, mandi saja kalau mau berkeramas, keramas saja.. mau banyak-banyak mandi di siang hari silahkan saja, asalkan hal-hal tersebut tidak dimaksudkan meringankan puasanya, kalau dimaksudkan meringankan puasanya maka itu makruh, yang lebih buruk adalah orang yang memaksakan diri, tidak usah deh keramas di siang hari Ramadhan biar saja keadaan seperti apapun , tidak usah sikat gigi, tidak usah mandi karena makruh, akhirnya sehari dua hari, tiga hari kesal dengan Ramadhan. Ia mau mencari hal yang sunnah, akhirnya dalam hatinya berkata kapan sih Ramadhan selesai capek saya!!, tiap hari tidak sikat gigi, (baiknya sikat gigi sebelum imsak), tidak mandi, perasaan ini bisa membatalkan pahala puasa mu. Ini jauh lebih buruk daripada kita melakukan hal-hal yang makruh, lakukan itu kalau seandainya sudah terganggu puasamu dan khusu’mu , maka jangan sampai hati kita benci dengan Ramadhan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW “berbuatlah semampunya”. Semoga Allah SWT memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr Al Kubra ini dan kemuliaan Nuzul Al Qur’an. Rabbi..Rabbi..halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Qur’an, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul kiamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram…jika kelak di yaumul qiamah masing-masing kelompok dipanggil dengan pencintanya, kelompok pezina, kelompok pemabuk, masing-masing berdiri dengan kelompoknya, maka di saat itu akan dipanggil pula dimana kelompok Ahlul Badr, semoga aku dan kalian berdiri dalam kelompok Ahlul Badr. Semoga aku dan kalian tidak berdiri saat dipanggil mana kelompok penggunjing, mana kelompok pendusta, mana kelompok pencaci, mana kelompok pendosa, Rabbi..jangan Engkau berdirikan (kami) diantara mereka. Pastikan ketika Ahlul Badr dipanggil kami ikut berdiri diantara mereka para pecinta Ahlul Badr, yang telah disabdakan oleh Nabi kami :
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
(seseorang bersama dengan orang yang dicintainya). Rabbi..kami rindu wajah-wajah Ahlul Badr Al Kubra, kami rindu melihat wajah-wajah damai, kami rindu melihat wajah Khulafaa’ Ar Rasyidin, kami rindu melihat wajah Muhajirin dan Anshar, kami rindu memandang wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, melihat wajah-wajah mulia. Ya Zal Jalali Wal Ikram Ya dzaa At Thawli Wal In’aam Ya Rahman Ya Rahim..pastikan kami di dalam keberkahan dunia dan akhirat dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Demi kemuliaan Badr Al Kubra jawablah seluruh doa kami, hapuskan seluruh dosa kami, singkirkan segala kesulitan kami, jauhkan musibah dari kami sejauh-jauhnya, jauhkan dari kami kemurkaan sejauh-jauhnya. Ya Rahman Ya Rahim..damaikan kami, damaikan masyarakat kami, damaikan bumi Jakarta, damaikan bangsa kami, tenangkan jiwa muslimin muslimat (agar terhindar) dari perbuatan-perbuatan yang hina dan mungkar. Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalali Wal Ikram..jadikan jiwa kami dan jiwa saudara-saudara kami muslimin muslimat selalu risau jika ingin berbuat dosa, dan selalu tenang dan senang jika ingin berbuat pahala..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا : يَا الله...يا الله...يا الله ...يَارَحْمنُ يَارَحِيم...
لَاإِلهَ إلَّا الله....لاإله إلاالله مُحَمَّدٌ رَسُولُ الله .. وَصَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
كَلِمَةُ حَق عَلَيْهَا نَحيَا وعَلَيْهَا نَمُوتُ وعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِينَ ..
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Semoga malam-malam berikutnya kita semakin indah dan mulia, semoga di malam-malam berikutnya kita semakin mencintai dan dicintai Allah SWT, Ya Rahman Ya Rahim..
Dan saya ingatkan malam senin yang akan datang Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW, ada undangan daripada Pimpinan PBNU KH. Hasyim Muzadi di kediaman beliau, untuk peresmian pesantren beliau . Beliau tidak bisa hadir malam hari ini untuk langsung mengundang , undangan disampaikan kepada saya dan Majelis kita, jika yang mempunyai waktu hadir jika yang sudah mudik maka semoga diberi kemuliaan oleh Allah dan keselamatan, dan yang di Jakarta mudah-mudahan tidak ada halangan untuk termuliakan dalam syi’ar malam-malam terakhir di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kita teruskan dengan doa kepada Allah dan munajat bertawassul kepada Ahlul Badr…

صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ اللهِ عَلَى طَه رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ الله سَلَامُ الله عَلَى يَس حَبِيْبِ الله
Sebelum kita tutup, saya akan menyampaikan salam dan rindu dari guru mulia kita Al ‘allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz, semalam telah kita sampaikan bahwa acara di Jakarta sukses, kebetulan acara beliau sama di malam yang sama dengan acara kita dan mengadakan Haul Ahlul Badr juga di Tarim Hadramaut. Telah disampaikan bahwa acara di Jakarta sukses dengan zikir lafdzul Jalalah 1000 kali, dan setelah disampaikan berita ini Beliau bergembira, dan juga disampaikan kepada beliau vcd di malam Nisf Sya’ban yang lalu, beliau sangat gembira dengan kesuksesan acara tersebut dan selalu mendoakan kita. Dan InsyaAllah kerinduan beliau untuk hadir ke tempat kita tidak lama lagi, insyaAllah bulan Muharram tepatnya bulan Desember, insyaAllah kita akan mengadakan malam selasa bersama beliau , dan insyaallah acara ini sukses kira-kira tinggal tiga bulan lagi, kita akan buat acara insyaallah yang hadir lebih banyak lagi muslimin muslimat…

أَمِين اللَّهُمَّ أمين يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام يَاذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَام...
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ...
Terakhir Diperbaharui ( Monday, 14 September 2009 )



SocialTwist Tell-a-Friend
Kontributor: Redaksi   
Wednesday, 09 September 2009

Jejak Langkah Semangat Ahlul Badr Selimuti
Masjid Agung Attin


ImageWaktu maghrib masih beberapa puluh menit lagi, puluhan jamaah Majelis Rasulullah SAW sudah mulai mendatangi Masjid Agung Attin. Diantara mereka, ada yang hadir bersama beberapa kawan sebayanya, ada pula keluarga-keluarga kecil yang hadir bersama anak-anak mungil mereka. semua menunjukkan wajah penuh semangat seolah tak ingin tertinggal satu detikpun acara Dzikir Akbar Majelis Rasulullah SAW untuk memperingati malam Nuzulul Quran dan Haul Ahlul Badr Al Kubra yang baru akan dimulai setelah shalat tarawih selesai.
Adzan maghrib segera berkumandang, puluhan jamaah kini telah berbilang ratusan. Mereka asyik menggelar makanan yang mereka bawa sekedar untuk berbuka puasa. Ada yang duduk di bawah pohon, ada yang menggelar koran di pelataran masjid, semua serba sangat sederhana. Sungguh, Suasana terasa begitu akrab, seolah sebuah keluarga yang sedang menyelenggarakan jamuan besar di tengah udara hangat yang sangat bersahabat.
Menjelang waktu isya, suasana semakin ramai, antrian sepeda motor tampak mulai menyemut memasuki lahan perparkiran yang tersedia. Kibaran-kibaran bendera Majelis Rasulullah SAW yang dibawa para jamaah bermotor itu seperti lambaian-lambaian tangan yang mengabarkan kehadiran Pecinta Rasulullah SAW dan mengajak setiap jiwa yang melihatnya untuk turut bersama mereka menuju perhelatan mulia, seperti membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur untuk bangkit bersama dengan semangat para pecinta Rasulullah SAW.
Setelah Shalat isya dan tarawih berjamaah, Jamaah semakin menyemut. Langkah mereka sangat cepat memasuki ruangan-ruangan di dalam Masjid Agung Attin, setiap jengkal tempat yang luang adalah kesempatan mendekat pada kemuliaan dan keberkahan, mungkin itulah yang ada di benak ribuan jamaah yang rata-rata berusia muda. Hingga mereka tak menyia-nyiakan kesempatan meski harus rela berdesakan. Suasana di luar Masjid, tidaklah jauh berbeda dengan di dalam. Ribuan jamaah terus membanjiri jalan-jalan masuk menuju lokasi acara. Kemacetan tak terhindarkan karena konsentrasi ratusan ribu massa di satu tempat. Dari lokasi yang lebih tinggi, peci-peci putih jamaah seolah untaian kapas yang berterbangan pelan tertiup semilirnya angin, semua bergerak perlahan membanjiri ruang-ruang lapang yang tersisa. Sungguh pemandangan yang menggetarkan hati siapa saja yang menyaksikannya. Tanpa suara bising mereka hadir, masing-masing saling menjaga kekhusyukan menuju tempat yang mulia.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB, kepadatan jamaah semakin memuncak di ruang dalam Masjid. Sesaat setelah acara intern Masjid Agung Attin Selesai. Khadim Majelis Rasulullah SAW, Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa memasuki ruang acara diiringi beberapa tamu dari Pejabat Pemerintah, Para Ulama dan Habaib, serta tamu undangan. Habib Munzir tampak sangat tenang dan berwibawa, raut wajahnya menggambarkan keharuan dan kekhusyukan yang mendalam.
Tanpa banyak membuang waktu, lantunan Maulid Adhiya Ulami segera dibacakan. Suara Habib Munzir yang berat dan bergetar membacakan bait-bait awal syair maulid berpadu dengan riuhnya suara penuh semangat ratusan ribu pemuda yang sudah sangat familiar dengan syair maulid karya Guru Mulia Al Habib Umar Bin Salim Bin Hafidz ini. Langit-langit Masjid Agung Attin disesaki dengan suara yang menggambarkan keindahan Manusia Termulia Sayyidina Muhammad SAW. Saat prosesi Mahallul Qiyam berlangsung, jamaah semakin berusaha mendekat ke depan podium, teriakan lantang dan hysteria pujian tak bisa dibendung, air mata kerinduan pada Manusia yang paling dicintai ALLAH SWT tak bisa pula tertahankan. Sungguh malam yang penuh dengan kesyahduan cinta dan kerinduan.
Setelah pembacaan Maulid, acara kembali dilanjutkan dengan lantunan qasidah “Alaina”, qasidah tertua yang dilagukan Rasulullah SAW saat perang Khandaq. Qasidah tersebut berisi doa-doa untuk menenangkan para sahabat yang saat itu terkepung pasukan kaum kuffar. Lagi-lagi suasana haru dan syahdu tak bisa dibendung, Imajinasi para jamaah seolah dibawa pada situasi dan suasana saat Rasulullah SAW berusaha menenangkan hati para sahabat kala itu. Tidak sedikit jamaah yang menitikkan air mata haru menyimak kata per kata lantunan merdu suara Muhammad Qalby, munsyid Majelis Rasulullah SAW.
Kesempatan sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, diwakilkan kepada Walikota Jakarta Timur, Drs. H. Moerdani. Dalam sambutannya Beliau sangat mendukung perkumpulan pemuda penuh kedamaian seperti Majelis Rasulullah SAW untuk meredam segala efek negatif kehidupan Kota Metropolitan seperti Jakarta. Jamaah di luar Masjid Agung Attin masih terus berdatangan hingga meluber ke tepi jalan di luar lokasi Masjid.
Tibalah saat Khadim Majelis Rasulullah SAW, Habib Munzir Al Musawa, memberikan tausyiahnya. Dalam rangka Memperingati Malam Nuzulul Quran, Habib Munzir mengajak semua jamaah untuk menggelorakan kembali kecintaan pada Al Quran. Al Quran merupakan surat cinta dari Sang Maha Pecinta kepada seluruh hamba yang dicinta, dengan membuka dan membaca kembali surat cinta tersebut berarti sama dengan memperbaharui cinta hamba pada Sang Maha Pecinta. Sungguh kemuliaan dan keagungan cinta Yang Maha luhur tak akan pernah selesai dan berhenti, cintaNya adalah abadi dalam keabadian.
Selanjutnya, Habib Munzir Al Musawa menggambarkan riwayat tentang Ahlul Badr dengan sangat rinci. Bagaimana semangat tiga ratus tiga belas Sahabat yang dengan gagah berani penuh ketenangan dan keagungan jiwa, menghadapi serangan tiga ribu orang pasukan kuffar bersenjata lengkap. Para Ahlul Badr dengan senjata yang sangat minim dan sederhana, hanya beberapa orang saja yang memiliki pedang dan kuda, sisanya hanya menggunakan alat pertanian dan batu serta berjalan kaki demi mempertahankan agama Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Suara Habib Munzir Al Musawa terdengar lantang dan penuh semangat memaparkan bagaimana akhlak dan perilaku Imam Ahlul Badr, Rasulullah SAW dan para Ahlul Badr. Di tengah segala ancaman dari kaum kuffar, Rasulullah SAW masih meminta Ahlul Badr untuk tetap tenang dan tidak menyerang sebelum diserang. Sungguh pernyataan orang diluar islam yang menyatakan islam adalah agama yang penuh kekerasan sama sekali tidak terbukti.
Tausyiah Habib Munzir Al Musawa kemudian dilanjutkan dengan Dzikir Lafdhal Jalallah (Ya Allah) seribu kali. Dzikir ini menjadi puncak acara, ratusan ribu jamaah hanyut dalam munajat dan doa dalam dzikir tersebut. Suara Habib Munzir Al Musawa yang memimpin Dzikir sesekali meninggi dan penuh dengan kekuatan, bagai mentransfer energi positif cinta dan rindu kepada Robbul Alamin. Histeris kerinduan dan memohon pengampunan serta perlindungan pada Allah SWT menghujan dalam air mata ratusan ribu jamaah malam itu.
Acara akbar dan penuh kesyahduan berakhir setelah pembacaan Qasidah Tawassul Ahlul Badr, Qasidah yang sudah tidak asing ini begitu terasa berbeda malam itu, lebih terasa agung semangatnya, seolah Para Ahlul Badr benar-benar hadir di tengah-tengah ratusan ribu jamaah. Semangat itu pulalah yang kemudian dibawa pulang dalam benak para jamaah. Menjadi Oase semangat baru di tengah segala persoalan hidup. Semoga semangat dan akhlak pribadi-pribadi para Ahlul Badr terpatri dalam jiwa setiap pecinta Rasulullah SAW.
Klik disini untuk melihat Galery Foto Haul Ahlul Ba'dr
Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 12 September 2009 )


Peduli Acara MAJELIS RASULULLAH SAW Bank syariah mandiri 061-7121-494 a/n Munzir Almusawa_______Majelis Nisa di seketariat MAJELIS RASULULLAH SAW, setiap hari minggu pkl 14.00 WIB s/d selesai. Tausiah akan disampaikan langsung oleh AL ALAMAH ALHABIB MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA. majelis kusus nisa/WANITA
Related Posts with Thumbnails
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More